Apa itu Ramadhan dan Keistimewaannya?

0
40

Pertanyaan:

Apa itu bulan Ramadhan? Dan apa keistimewaannya?

Jawaban:

Ramadhan adalah salah satu di antara dua belas bulan yang terdapat dalam hitungan kalender Arab sekaligus bulan yang diagungkan dalam agama Islam. Hal ini disebabkan karena Ramadhan memiliki sejumlah keistimewaan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain, dan di antaranya adalah:

  1. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan puasa Ramadhan sebagai rukun ke empat dari Rukun Islam yang lima. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu maka berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah, 2:185).

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaih wa sallambersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ (رواه البخاري ومسلم).

“Islam dibangun di atas lima (pilar): Bersaksi bahwa tiada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke baitullah.” (HR. Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).

  1. Allah menurunkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan, hal ini sebagaimana firman Allah yang telah disebutkan sebelumnya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah, 2:185).

Juga firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan (Lailat al-Qadr)” (QS. Al-Qadr, 97:1).

  1. Allah menjadikan Lailat al-Qadr yang lebih baik dari seribu bulan terjadi pada bulan tersebut, Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan (lailat al qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”(QS. Al-Qadr, 97:1-5).

Allah juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al Quran) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Al-Dukhan, 44:3).

Allah telah memuliakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailat al-Qadr. Selain surat al-Qadr yang telah menjelaskan keutamaan malam yang penuh keberkahan ini, terdapat pula beberapa hadits yang menerangkan hal tersebut, di antaranya adalah riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuyang mengatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Ramadhan telah datang kepada kalian, ia adalah bulan yang berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Di bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pembangkang dibelenggu. Demi Allah, di bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (HR. Al-Nasa’i no.2106 dan Ahmad no.8769, hadits ini dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Targhib no.999).

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anh:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada Lailat al-Qadr karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari no.1910 dan Muslim no.760).

  1. Allah menjadikan puasa dan shalat yang dikerjakan pada bulan tersebut karena dorongan iman dan hanya mengharapkan pahala dariNya sebagai salah satu faktor diampuni dosa-dosa. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari no.2014 dan Muslim no.760).

Dan juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada bulan Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari no.2008 dan Muslim no.174).

Dan umat Islam telah bersepakat (ijma’) bahwa qiyam yang dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan merupakan amalan sunnah. Imam Nawawi menyatakan bahwa maksud dari qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih, artinya dia dianggap telah melaksanakan qiyam jika sudah menunaikan shalat tarawih.

  1. Allah membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan-setan pada bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ (رواه البخاري ومسلم)

“Jika bulan Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).

  1. Allah membebaskan sejumlah hambaNya dari belenggu api neraka pada setiap malam bulan Ramadhan. Dari Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِلَّهِ عِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ عُتَقَاءَ (رواه أحمد)

“Allah membebaskan sejumlah hamba dari neraka saat waktu berbuka puasa.” (HR. Ahmad 5/256, al-Mundziry berkata: “Sanadnya tidak masalah, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Targhib no.987).

Dan dari Abu Sa’id al-Khudry berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ –يَعْنِي فِي رَمَضَانَ-، وَإنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ (رواه البزار)

“Sesungguhnya  Allah tabaraka wa ta’ala membebaskan sejumlah hamba dari neraka di setiap siang dan malam –yakni pada bulan Ramadhan-, dan sesungguhnya setiap muslim di setiap siang dan malam mempunyai doa yang terkabul.” (HR. Al-Bazzar no.962).

  1. Puasa Ramadhan merupakan faktor yang dapat menghapus dosa-dosa yang lampau, selama dosa-dosa besar dijauhi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ (رواه مسلم)

“Shalat lima waktu, dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya, apabila dia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim no. 233).

  1. Puasa Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadits yang berasal dari Abu Ayyub al-Anshary, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang mengerjakan puasa Ramadhan lalu dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia (terhitung) seperti puasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164).

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَّنَةِ (رواه أحمد)

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan maka (puasa) sebulan (terhitung) dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah Ramadhan itulah penggenap puasa setahun.” (HR. Ahmad no. 21906).

  1. Orang yang menunaikan shalat tarawih bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya shalat sepanjang malam, hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Dzar:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat (tarawih) bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya shalat semalam penuh.” (HR. Abu Daud no. 1370, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Shalat al-Tarawih hal. 15).

  1. Pahala umrah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan setara dengan haji. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertanya kepada seorang wanita dari kalangan Anshar:

“مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّي مَعَنَا؟”، قَالَتْ: “لَمْ يَكُنْ لَنَا إِلَّا نَاضِحَانِ فَحَجَّ أَبُو وَلَدِهَا وَابْنُهَا عَلَى نَاضِحٍ وَتَرَكَ لَنَا نَاضِحًا نَنْضِحُ عَلَيْهِ”، قَالَ: “فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً” (رواه البخاري ومسلم)

“Apa yang menghalangimu untuk berhaji bersama kami?”, wanitu itu menjawab: “Kami hanya memiliki dua unta, yang satu dipakai oleh suamiku bersama anaknya untuk pergi haji, sedangkan yang satu lagi dia tinggalkan agar bisa dipakai menyiram kebun”. Beliau bersabda: “Jika bulan Ramadhan telah tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

  1. Disunnahkan untuk melaksanakan i’tikaf karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsenantiasa melaksanakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga wafatnya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari no. 1922 dan Muslim no. 1172).

  1. Dianjurkan sekali untuk melakukan tadarus al-Qur’an dan memperbanyak tilawah. Adapun cara tadarus adalah dengan memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada orang lain dan sebaliknya. Dalil anjuran ini adalah:

أَنَّ جِبْرِيْلَ كَانَ يَلْقَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkan al-Qur’an kepada beliau.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308).

Pada dasarnya, membaca al-Qur’an merupakan amalan yang dianjurkan, namun anjuran untuk melakukannya pada bulan Ramadhan lebih kuat.

  1. Dianjurkan untuk memberi makanan berbuka kepada mereka yang berpuasa, hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Zaid bin Khalid al-Juhany radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا (رواه الترمذي وابن ماجه)

“Barang siapa memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa, maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (HR. Tirmidzi no. 807 dan Ibnu Majah no. 1746, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Tirmidzi no. 647).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/13480

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here