Mengapa Inhaler Asma Tidak Membatalkan Puasa?

0
39

Soal:

Saya ingin jawaban dengan rinci, mengapa inhaler untuk penyakit asma yang biasa digunakan oleh orang-orang yang menderita asma tidak dianggap sebagai pembatal puasa?

Jawaban:

Inhaler untuk penyakit asma adalah sebuah kaleng atau botol yang di dalamnya terdapat obat cair yang mengandung tiga unsur, yaitu : zat-zat kimia, air, dan oksigen.

Ketika alat ini (inhaler) ditekan akan keluar obat dalam bentuk tetesan atau percikan, dan bersamaan dengan penghisapan yang dilakukan oleh orang yang sakit ketika menekan inhaler ini, maka akan masuk tetesan ke dalam saluran pernafasannya, tetapi akan tetap tersisa sebagian di kerongkongannya. Terkadang juga akan masuk jumlah yang sedikit ke dalam tenggorokan.

Sebagian ulama kontemporer berpendapat bahwasanya penggunaan inhaler ini membatalkan puasa. Mereka beralasan: karena kandungan yang terdapat dalam inhaler ini akan masuk sampai ke dalam lambung melalui mulut, maka dia dianggap telah berbuka.

Sementara sebagian besar ulama kontemporer lain berpendapat bahwasanya penggunaan inhaler ini tidak membatalkan puasa, dan inilah pendapat yang kuat. Mereka berargumen dengan beberapa dalil:

  1. Bahwa hukum asalnya adalah puasa orang ini sah. Kita tidak mungkin berpaling dari hukum asal ini kecuali dengan kondisi yang meyakinkan. Sementara masuknya suatu percikan dari inhaler ini ke dalam lambung merupakan perkara yang diragukan; artinya mungkin masuk ke dalam lambung dan mungkin juga tidak sampai masuk ke dalam lambung; karena pada asalnya zat ini akan menuju ke sistem pernafasan, meski terkadang akan ada sesuatu dari percikan ini yang masuk ke dalam lambung.

Nah, dengan adanya kemungkinan ini, maka tidak terlalu kuat untuk mengatakan bahwa puasanya batal. Inilah jawaban untuk dalil yang digunakan oleh pendapat pertama.

  1. Kalau saja diasumsikan bahwa sebagian dari obat ini benar-benar masuk ke dalam lambung, maka hal ini dimaafkan (baca: diabaikan). Dalilnya adalah dengan mengqiyaskan hal ini dengan berkumur-kumur dan menggunakan siwak.

Adapun berkumur-kumur, maka ketika seseorang yang sedang berpuasa berkumur-kumur akan tersisa di mulutnya air yang digunakan untuk berkumur dan sebagiannya akan masuk ke dalam lambungnya. Berdasarkan hal ini, seandainya dia berkumur dengan air yang tercampur dengan zat yang bercahaya, maka setelah itu zat yang bercahaya tersebut akan tampak di lambungnya. Ini diantara hal yang menguatkan sampainya sebagian air yang digunakan untuk berkumur ke dalam lambung. Akan tetapi bagian dari air yang sampai ke lambung ini sedikit dan dimaafkan oleh Syariat ini. Karena itu puasanya dihukumi sah. Sehingga ia lebih layak tidak dianggap sebagai pembatal puasa.

Adapun siwak, ia mengandung zat yang bercampur dengan air liur yang ikut turun ke kerongkongan kemudian menuju ke lambung, akan tetapi hal ini dimaafkan (baca: diabaikan) oleh Syariat, dan tidak dianggap sebagai pembatal puasa. Karena jumlahnya yang sedikit dan tidak diniatkan untuk menelannya sampai ke lambung.

Begitu pula bagian yang masuk ke dalam lambung dari inhaler merupakan bagian yang sedikit. Berdasarkan hal ini, maka jelaslah pendapat yang kedua lebih kuat. Diantara ulama-ulama kontemporer kita yang memilih pendapat ini adalah: Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, dan Syaikh Abdullah bin Jibrin.

(Lihat:  Jurnal Majma’ al-Fiqhi al-Islamy edisi X, Mubthilath al-Shiyam al-Mu’ashirah, Dr. Ahmad al-Khalil, hal. 33-38)

Link : https://islamqa.info/ar/124204

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here