Istriku Tidak Mau Menjalankan Puasa

0
43

Pertanyaan:

Saudaraku adalah orang yang taat agama, namun istrinya tidak begitu. Dia tidak berpuasa di bulan Ramadan bahkan tidak tahu sama sekali tentang Ramadan. Dan karena tidak ada karib kerabat yang tinggal dekat dengannya, sang suami sering merasa kesulitan untuk bisa memberi pengaruh kepada istrinya untuk bisa berubah.

Dia senantiasa berdoa kepada Allah agar memberikan hidayah kepada istrinya, dan menganugrahkan kesabaran pada dirinya atas tingkah laku istrinya. Akan tetapi, tampaknya sang istri tidak mau berubah ataupun berperilaku sebagaimana layaknya orang Islam.

Apakah anda memiliki saran untuk saudaraku agar dia bisa menghadapi istrinya sehingga dia bisa lebih dekat dengan Islam dan menjadi orang yang taat kepada agama?

Jawaban:

Sudah menjadi sebuah keharusan bagi saudara anda untuk berusaha membimbing istrinya menuju jalan yang benar dengan berbagai macam cara. Dan di antara langkah yang dapat digunakan adalah dengan memberikan targhib(motivasi) dan tarhib (ancaman), senantiasa mengingatkannya akan Allah dan hak-hakNya, selalu menasihatinya dan memberinya peringatan akan dampak negatif dari tingkah lakunya saat ini.

Selain itu, saudara anda sebagai seorang suami juga harus selalu berusaha agar dia bisa menjalin hubungan dengan teman-teman yang taat kepada agama walaupun bukan dari kerabatnya, seperti mengajaknya berinteraksi dengan para istri yang shalihat dari rekan kerjanya.

Di samping itu, dia juga bisa membawakan untuk istrinya beberapa kaset yang bermanfaat serta buku-buku yang berfaedah.

Dengan beberapa langkah di atas, semoga sang istri bisa mentaati suaminya.

Namun jika langkah-langkah tersebut tidak membawa dampak yang signifikan, maka dalam kondisi seperti ini saudara anda bisa memboikotnya (hajr) jika memang metode ini bermanfaat, karena jika metode ini diperbolehkan oleh syariat untuk menuntut hak suami, apalagi untuk menuntut hak Allah Ta’ala.

Abu Umamah al-Bahily radhiallahu anhubercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ، فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ، فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا، فَقَالَا: اصْعَدْ، فَقُلْتُ: إِنِّي لَا أُطِيقُهُ، فَقَالَا: إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ، فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ، قُلْتُ: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالُوا: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِي، فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ (رواه البيهقي)

“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua orang yang mendatangiku lantas memegang kedua lenganku. Keduanya lalu membawaku ke sebuah gunung yang  terjal kemudian berkata: “Naiklah!”, aku menjawab: “Aku tidak kuat”,lalu keduanya berkata: “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka akupun mendaki naik, dan ketika sampai di tengah gunung, tiba-tiba terdengar suara melengking keras. Aku berkata: “Suara apa itu?”,mereka menjawab: “Itu adalah teriakan penghuni neraka”. Kemudian mereka membawaku lagi, dan aku mendapati suatu kaum yang digantung terbalik dengan kaki di atas,mulutnya sobek dan mengeluarkan darah. Aku bertanya: ”Siapa mereka?”, mereka menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.” (HR. Al-Baihaqy no.7796 dan dishahihkan oleh al-Albany).

Jika ini adalah hukuman bagi orang yang berbuka puasa sebelum waktunya, maka bagaimana dengan orang yang memang tidak berpuasa sama sekali?

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38282

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here