Perbedaan Shalat Witir Dan Shalat Malam

0
28

Soal:

Apakah ada perbedaan antara shalat witir dan shalat malam?

Jawaban:

Shalat witir termasuk rangkaian dari shalat malam, meski demikian, memang ada beberapa hal yang membedakan keduanya.

Syekh Ibnu Baz berkata:

“Shalat witir termasuk dalam rangkaian shalat malam, hukumnya sunnah, dan merupakan shalat penutup. Satu rakaat sebagai penutup shalat malam di penghujung malam, atau pertengahan malam, atau bisa juga di permulaan malam setelah shalat Isya. Seseorang boleh shalat malam semampunya, lalu menutupnya dengan shalat satu rakaat.”(Lih: Fatawa Ibn Baz,11/309).

Syekh Ibnu Utsaimin berkata:

“Dalil yang bersumber dari as-Sunnah, baik itu berupa perkataan maupun tindakan (Nabi) menunjukkan bahwa ada perbedaan antara shalat malam dan witir, begitu juga kalangan ulama melihat keduanya memiliki hukum yang berbeda serta tata cara:

Adapun dalil dari al-Sunnah yang menunjukkan perbedaan keduanya dan berupa perkataan beliau, disebutkan dalam hadits Ibnu Umar –Radhiyallahu ‘anhuma-, Ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Bagaimana tata cara shalat malam?’, beliau menjawab:

مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ، فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

‘Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir waktu Subuh tiba, maka shalatlah satu rakaat witir’.” (HR. al-Bukhary, lihat pula di dalam al-Fath (Fath al-Bary) [3/20])

Dan untuk dalil dari al-Sunnah yang menunjukkan perbedaan keduanya dan berupa tindakan beliau, yaitu hadits Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, bahwa ia berkata,

“Dahulu Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat, sedangkan diriku kondisinya masih tertidur melintang di atas kasur beliau. Ketika beliau hendak shalat witir, beliau membangunkanku, lantas aku pun shalat witir.” (HR. al-Bukhary, lihat al-Fath [2/487]).

Dan diriwayatkan oleh Muslim (1/51) dengan redaksi berikut:

“Dahulu beliau shalat malam, sementara diriku tidur melintang di hadapannya, dan saat beliau hendak witir, beliau membangunkannya dan ia pun mengerjakan shalat witir.”

Diriwayatkan pula oleh Muslim (1/508) dari Aisyah, bahwasanya ia berkata:

“Dahulu Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat malam 13 rakaat, termasuk di dalamnya shalat witir 5 rakaat yang beliau tidak duduk (Tasyahud) kecuali di akhir rakaat.”

Diriwayatkan oleh Muslim (1/513) dari Aisyah, yakni tatkala Sa’Shahih Abi Dawud bin Hisyam bin ‘Amir berkata kepadanya:

“Beritahukanlah kepadaku (Wahai Aisyah) tentang shalat Witirnya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-‘, ia menjawab:

‘Beliau shalat sebanyak 9 rakaat, di mana tidak duduk (tasyahud) di dalamnya kecuali di rakaat kedelapan, lantas berzikir kepada Allah, memuji-Nya, serta berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit kembali untuk rakaat kesembilan, lantas duduk berzikir kepada Allah, memuji-Nya, serta berdoa kepada-Nya, setelah itu mengucapkan salam hingga kami pun mendengarnya’.”

Sedangkan, tindakan para ulama yang membedakan antara shalat witir dan shalat malam dari sisi hukumnya, maka mereka pun berbeda pendapat dalam kewajiban shalat witir. Seperti Abu Hanifah yang berpendapat bahwa ia hukumnya wajib, berdalil dengan riwayatnya Imam Ahmad yang tertera di dalam Kitab al-Inshaf serta al-Furu’. Imam Ahmad berkata:

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat witir dengan sengaja, maka ia seorang lelaki berperangai buruk, persaksiannya tidak layak untuk diterima.”

Pendapat yang populer di kalangan Madzhab (Hanbali) ialah hukum shalat witir sunnah, dan ia juga merupakan pendapatnya Madzhab Malik dan Syafi’i.

Untuk shalat malam sendiri, tidak ditemukan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Di dalam Fath alBary (3/27) disebutkan:

“Saya tidak menemukan sebuah nukilan yang mengatakan bahwa shalat malam wajib, selain dari nukilan beberapa ulama generasi Tabi’in.

Ibnu Abd al-Barr menuturkan: ‘Ada beberapa kalangan Tabi’in yang berpendapat menyelisihi mayoritas, bahwa shalat malam hukumnya wajib sekalipun mengerjakannya setara dengan durasi orang yang memerah kambing. Namun pendapat kebanyakan para ulama mengatakan bahwa ia hukumnya sunnah.’

Dan untuk permasalahan dimana ulama membedakan tata cara antara shalat witir dan shalat malam, maka para ahli fikih dari Madzhab Hanbali memang membedakan kedua, mereka mengatakan, “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat”, sedangkan terkait shalat witir mengatakan, “Apabila shalat witir sebanyak 5 rakaat atau 7, maka tidak ada duduk tasyahud kecuali di akhir rakaat.

Adapun bila seseorang shalat witir sebanyak 9 rakaat, maka ia duduk tasyahud (awal) di rakaat kedelapan, lalu bangkit kembali tanpa jeda salam untuk melanjutkan rakaat kesembilan, kemudian duduk tasyahud dan salam.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 13/262-264)

Melalui penjelasan ini, maka bisa dipahami bahwa shalat witir termasuk dari rangkaian shalat malam, tetapi ia berbeda dengan shalat malam dari beberapa sisi, salah satunya dalam tata caranya.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/52875

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here