Mustahil Memastikan Bahwa Kita Mendapatkan Lailatul Qadar

0
28

Soal:

Bagaimana hukum seseorang yang hanya shalat tahajud di malam Lailatul Qadar?

Jawaban:

Pertama:

Ada sebuah dalil yang menyebutkan betapa besarnya pahala ibadah yang dilaksanakan di Lailatul Qadar. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa nilainya lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama 1000 bulan, dan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengabarkan bahwa bagi orang yang menghidupkannya karena iman dan berharap pahala, niscaya dosanya yang lalu akan diampuni.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (1), Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2), Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (3), Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4), Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5).” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu ‘anhu– , dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– , bahwasanya beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat malam di Lailatul Qadar karena iman dan berharap pahala, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR. al-Bukhary no. 1901 dan Muslim no. 760).

Kata Imanan: Percaya kepada keutamaan serta disyariatkan untuk mengamalkannya.

Kata Ihtisaban: Ikhlas, berniat untuk Allah Ta’ala.

Kedua:

Mengenai Lailatul Qadar, para ulama terbagi menjadi banyak pendapat, hingga mencapai lebih dari 40 macam pendapat, sebagaimana dipaparkan di dalam Fath al-Bary, di antara pendapat yang lebiih mendekati kebenaran ialah Lailatul Qadar terjadi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Dari Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhary no. 2017 -lafaz redaksi di atas di dalam al-Bukhary- dan Muslim no. 1169).

Hadits di atas, oleh al-Bukhary dikategorikan dalam sebuah Bab dengan redaksi Bab Taharry Lailah al-Qadr Fi al-Witr Min al-‘Asyr al-Awakhir (Bab Mencari Lailatul Qadar di Malam Ganjil Sepuluh Hari Terakhir).

Alasan mengapa waktu tepatnya disembunyikan, hikmahnya ialah agar seorang muslim bersemangat dan berusaha keras untuk beribadah, berdoa, dan berzikir selama 10 hari terakhir. Berlaku pula pada hikmah waktu doa mustajab pada hari Jumat yang tersembunyi, serta hikmah tidak ditentukannya nama-nama Allah Ta’ala yang berjumlah 99, di mana Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menghitungnya (atau menghafalnya), maka akan masuk surga.” (HR. al-Bukhary no. 2736 dan Muslim 2677).

Al-Hafizh Ibnu Hajar –Rahimahullah– menuturkan,

“Pernyataannya –yakni imam al-Bukhary- ‘Bab Taharry Lailah al-Qadr Fi al-Witr Min al-‘Asyr al-Awakhir’, berdasarkan redaksi Bab tersebut terdapat penjelasan bahwa kuat dugaan, Lailatul Qadar hanya terjadi di bulan Ramadhan, kemudian lebih khusus pada 10 hari terakhir, lalu lebih spesifik lagi pada malam-malam ganjil saja, bukan menyebutkan suatu malam tertentu, inilah penjelasan yang bisa diperoleh dari sekian banyak hadits tentang Lailatul Qadar.”  (Lih: Fath al-Bary, 4/260).

Beliau melanjutkan,

“Para ulama mengatakan, hikmah dari tersembunyi penentuan Lailatul Qadar, agar seseorang bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Lain halnya bila malam tersebut sudah ditentukan, niscaya orang-orang hanya akan beribadah di malam itu, dan ini hikmah ini berlaku juga pada waktu mustajab di hari Jumat, sebagaimana yang dijelaskan lalu.” (Lih: Fath al-Bary, 4/266).

Ketiga:

Perkara yang harus diketahui, bahwa tidak ada seorang pun mampu menentukan suatu malam sebagai Lailatul Qadar, terlebih kita mengetahui, Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– hendak memberitahukan umatnya tentang waktu tepatnya Lailatul Qadar, kemudian beliau mengabarkan lagi kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah menyembunyikan kembali.

Dari Ubadah bin ash-Shamith –Radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– keluar hendak memberitahukan malam Lailatul Qadar, namun ada dua orang laki-laki dari kalangan muslimin berseteru, lantas beliau bersabda,

إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ ، الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ

Sesungguhnya aku keluar menemui kalian untuk memberitahukan Lailatul Qadar, namun sayang sekali ada dua orang laki-laki yaitu fulan dan fulan berseteru, sehingga kabar tersebut pun ditarik kembali (terhapus), semoga hal ini akan menjadi lebih baik bagi kalian, carilah Lailatul Qadar di malam 27, 29, dan 25.”  (HR. al-Bukhary no. 49).

Adapun tindakan menentukan suatu malam di bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadar, hal ini membutuhkan dalil yang benar-benar menyebutkan secara spesifik. Akan tetapi, malam-malam ganjil di 10 hari terakhir lebih dominan daripada selainnya, serta malam ke-27 adalah waktu yang lebih mendekati Lailatul Qadar; berdasarkan hadits-hadits yang mengisyaratkan hal tersebut pada pemaparan kami yang lalu. (Lih: Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah Lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, 10/413)

Oleh sebab itu, seorang muslim tidak perlu menentukan suatu malam dan menyebutnya sebagai Lailatul Qadar, karena tindakan tersebut merupakan menentukan sesuatu yang tidak akan bisa ditentukan; dan akan dirinya akan kehilangan kesempatan untuk melakukan amal kebaikan, sebab bisa saja ia terjadi di malam ke-21 atau ke-23 atau bisa juga di malam ke-29. Jika seseorang hanya menghidupkan di malam ke-27 saja, maka ia telah melewatkan kesempatan untuk meraih banyak kebaikan, dan belum tentu ia mendapatkan malam yang penuh berkah tersebut.

Seorang muslim harus mencurahkan tenaganya untuk menjalankan ketaatan dan ibadah selama bulan Ramadhan penuh, serta di 10 hari terakhir lebih banyak lagi, dan ini merupakan petunjuk Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Dari Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– bahwasanya ia berkata,

“Apabila Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– masuk di 10 hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (lebih banyak beribadah lagi), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhary no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50693

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here