Beberapa Kasus Orang Yang Berpuasa

0
30

Soal:

Ada anak kecil yang sudah biasa melakukan puasa sejak belum baligh. Suatu saat  dia tidak puasa, di siang hari bulan Ramadhan dia mengalami tanda baligh, apakah dia wajib mengqadha’ puasanya hari itu? Begitupula orang kafir yang masuk Islam di siang hari bulan Ramadhan? Atau seorang wanita haidh yang mendapati sucinya saat siang hari itu, kemudian juga orang gila yang mulai waras di saat yang sama, juga musafir yang pulang dari safarnya pada hari itu padahal sebelumnya dia sudah membatalkan puasa? Apa yang harusnya mereka lakukan pada hari itu dan apakah mereka wajib melakukan qadha’?

Jawaban:

Mereka yang disebutkan itu tidak berada dalam posisi hukum yang sama. Mereka yang disebutkan dalam pertanyaan itu bisa dibagi dalam dua kategori:

Anak kecil saat mencapai baligh, orang kafir saat masuk Islam, dan orang gila saat ia mulai waras mereka memiliki hukum yang sama. Yaitu mereka wajib berpuasa untuk sisa hari itu, tapi mereka tidak wajib mengqadha’.

Adapun wanita haidh jika dia mendapati sucinya di siang hari Ramadhan, juga orang yang melakukan perjalanan jauh jika dia mulai singgah menetap dan orang sakit yang tiba-tiba sembuh, maka mereka juga dalam posisi hukum yang sama. Mereka tidak wajib berpuasa hari itu, dan jika tetap puasa pun tidak bernilai. Yang wajib bagi mereka adalah mengqadha’.

Perbedaan kategori pertama dengan kategori kedua adalah; pada kategori pertama terdapat syarat taklif (tanggung jawab pelaksanaan ibadah) yaitu; Baligh, Islam dan berakal. Jika mereka memiliki syarat taklif, maka puasa menjadi kewajiban mereka. Maka mereka tidak berkewajiban mengqadha’. Karena mereka sudah langsung berpuasa sejak puasa itu mulai menjadi kewajibannya. Saat paginya sebelum itu, mereka memang belum berkewajiban untuk puasa.

Sedangkan dalam kategori kedua, mereka memang orang-orang yang wajib berpuasa sejak awalnya. Hanya saja mereka memiliki udzur yang menyebabkan mereka boleh meninggalkan puasa. yaitu; haidh, safar (perjalanan jauh) dan sakit. Allah memberi keringanan bagi mereka maka mereka pun tidak perlu berpuasa. Maka tidak puasa hari itu memang boleh bagi mereka. Jika tiba-tiba udzur mereka hilang di siang hari maka mereka tidak mendapatkan pahala apapun jika melaksanakan puasa di sisa hari itu. Karena puasa hari itu sudah dianggap tidak sah dan wajib diqadha’ di luar bulan Ramadhan nanti.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

“Jika seorang musafir tiba di negerinya dalam keadaan tidak berpuasa. Maka dia tidak kemudian langsung wajib berpuasa, boleh tetap makan dan minum di sisa hari itu. Karena berpuasa di waktu yang tersisa saja tidak ada nilainya. Karena sejak sebelumnya dia sudah berkewajiban mengqadha’ hari tersebut. Inilah pendapat yang tepat, dan inilah madzhabnya Imam Malik dan al-Syafi’i, begitu juga disebutkan dalam salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah. Namun tentu saja dia tidak pantas menampakkan makan dan minumnya secara terang-terangan.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 19/ Soal no. 58)

Beliau juga menjelaskan:

“Jika wanita haid ataupun nifas mendapati sucinya di tengah hari, maka dia tidak wajib puasa di sisa harinya itu. Dia tetap boleh makan dan minum, karena puasa di sisa hari itu tidak memberikan nilai apa-apa. Sebab hari itu sudah menjadi kewajiban untuk diqadha’sebelum dia mulai suci. Inilah madzhabnya Imam Malik dan al-Syafi’i, begitu juga disebutkan dalam salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu‘anhu bahwa dia menyatakan, “Siapa yang sudah makan  dipermulaan siang, maka hendaknya tetap makan di penghujungnya.” Maksudnya adalah; siapa yang boleh tidak puasa di pagi hari, maka dia tetap boleh tidak puasa hingga sore harinya.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19/ Soal no. 59)

Beliau juga pernah ditanya, “Orang yang tidak berpuasa di siang hari Ramadhan karena ada udzur syar’i, bolehkah dia tetap makan dan minum di sisa harinya?”

Beliau pun menjawab,

“Dia tetap boleh makan dan minum karena dari awal dia memang tidak puasa dengan udzur yang syar’i. Maka larangan pada hari itu sudah gugur bagi dirinya. Sehingga dia boleh makan dan minum. Berbeda dengan kasus orang yang membatalkan puasa tanpa udzur. Maka dia tetap berkewajiban meneruskan puasa hari itu, meskipun puasanya sendiri batal dan tetap harus diganti dengan qadha’ di hari lain. Maka dua kasus ini memang harus dibedakan.” (Lih: Majmu’ Fatawa Sayikh ibnu ‘Utsaimin (19/ Soal no. 60)

Beliau juga menyatakan,

“Kita pernah menyebutkan di tengah pembahasan tentang puasa, bahwa seorang wanita haid jika dia mendapati sucinya pada siang hari. Maka dalam hal ini Ulama berbeda pandangan apakah dia wajib berpuasa di sisa harinya itu, sehingga tidak boleh makan dan minum. Atau dia boleh makan-minum selama siang yang tersisa itu. Lalu kami nyatakan bahwa dalam hal itu ada dua riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah;

Riwayat pertama -dan ini adalah pendapat yang lebih populer dalam madzhab beliau- menyatakan, bahwa si wanita wajib langsung berpuasa saat mendapati sucinya itu, maka tidak boleh makan dan minum.

Riwayat kedua, menyatakan bahwa si wanita  tidak wajib langsung berpuasa, maka dia tetap boleh makan dan minum. Dan kita katakan riwayat kedua ini adalah madzhabnya Imam Malik dan al-Syafi’i rahimahumallah, dan bahwa itulah yang sesuai dengan riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, yang menyatakan,

“Siapa yang makan di permulaan siang, hendaknya tetap makan di penghujungnya.”

Dan kami katakan, “Yang wajib bagi para thalibul ‘ilm dalam menyikapi permasalahan khilaf adalah mencermati dalil-dalil yang digunakan, lalu mengambil yang paling argumentatif diantara pendapat yang ada. dia tidak perlu merasa terganggu jika harus berbeda dengan orang lain, jika memang dia sendiri sudah mengikuti dalil. Karena kita ini diperintahkan untuk mengikuti para Rasul. Sesuai firman Allah Ta’ala:

وَيَوْمَ يُنَـادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ ٱلْمُرْسَلِينَ

“Dan Ingatlah kelak di hari Rabb-mu menyeru sekalian ummat manusia, lalu Dia bertanya, “Bagaimanakah kalian menjawab seruan para Rasul utusan?”

Adapun kalangan yang berhujjah dengan hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa ‘asyura’ di tengah siang, maka para sahabat waktu itu langsung mulai berpuasa sejak siang itu juga.

Maka kami jelaskan, bahwa hadits ini tidak ada yang bisa menjadi sandaran bagi mereka. Karena dalam puasa ‘asyura’ yang disebutkan, tidak ada unsur “hilangnya penghalang puasa”. yang ada hanyalah “munculnya kewajiban baru”. Dua hal ini tentu sangat berbeda. Karena jika disebut “munculnya kewajiban baru” itu berarti sebelumnya memang belum ada sebab yang membuatnya wajib. Sedangkan jika disebut “hilangnya penghalang” itu artinya bahwa kewajiban itu sudah ada sebelumnya hanya saja teranulir oleh adanya penghalang. Selagi penghalang ini ada meskipun hukum kewajibannya juga sudah ada, maka pelaksanaan kewajiban tersebut saat itu tidak akan sah.

Contoh kasus yang serupa dengan soal dari penanya adalah jika seseorang masuk Islam di tengah hari. Maka si mu’allaf ini sedang mengalami “munculnya kewajiban baru”. Begitu juga seorang anak kecil yang baru masuk usia baligh di siang hari, padahal paginya dia tidak puasa. maka diapun sama, mengalami “munculnya kewajiban baru”. Maka kita katakan baik kepada orang mu’allaf tersebut, juga kepada bocah yang baru baligh tersebut, “Kalian harus langsung berpuasa sejak siang ini, dan tidak wajib mengqadha’ lagi nanti.”

Ini berbeda dengan kasus wanita haid jika dia mendapati sucinya di tengah siang. Maka dia wajib mengqadha’ menurut ijma’ (konsensus) para ulama. Ulama sepakat bahwa wanita ini jika tetap berpuasa di siang yang tersisa, maka amalan ini tidak berpahala dan tidak sah. Dia tetap wajib mengqadha’nya. Dengan demikian jelaslah perbedaan antara “munculnya kewajiban baru” dengan “hilangnya penghalang kewajiban”. Kasus wanita haid yang mendapati sucinya di siang hari termasuk dalam bab “hilangnya penghalang kewajiban”.

Sementara masalah bocah yang masuk usia baligh di siang hari, atau sebagaimana yang disebutkan oleh penanya yaitu sejarah awal pensyariatan puasa ‘asyura’ sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, semua itu termasuk dalam bab “munculnya kewajiban baru”. (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (19/Soal n0. 60)

 

Sumber: https://Islamqa.info/ar/65635

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here