Adab-adab Membaca Al-Qur’an

0
136

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dia-lah yang telah menurunkan al-Qur’an dan mensifati al-Qur’an sebagai penjelas. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, demikian juga kepada keluarga beliau, sahabat-sahabatnya, serta kepada siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik. ‘Amma ba’du.

Sesungguhnya al-Qur’an yang agung adalah perkataan Allah subhanahu wa Ta’ala yang Dia turunkan kepada Nabi yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dengannya umat ini menjadi terhormat dan mulia. Dia-lah yang telah menjadikan al-Qur’an ini sebagai mukjizat yang kekal, dan menyediakan bagi siapa yang membaca dan mengamalkannya pahala yang besar yang tidak terhitung jumlahnya.

Dan bulan yang agung ini pun menjadi bertambah kemuliaannya, dikarenakan Allah Ta’ala menurunkan al-Qur’an di dalamnya. Bulan Ramadhan adalah bulan shaum dan juga bulannya al-Qur’an. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi siapa saja yang hendak membaca Kalam yang agung ini untuk menghiasi dirinya dengan adab-adab yang utama, serta akhlaq yang mulia; baik saat membacanya di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

  1. Menghadap ke arah kiblat selama hal tersebut memungkinkan baginya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِنَّ سَيِّدَ الْمَجَالِسِ قُبَالَةَ الْقِبْلَةِ

“…dan sesungguhnya pemimpin majelis-majelis itu menghadap kiblat” (Mushannaf Ibnu Abu Syaybah no. 25941 dan dishahihkan oleh al-Albany dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 2.645)

  1. Bersiwak dengan maksud untuk mensucikan dan mengagungkan al-Qur’an. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak menjadi pembersih mulut dan mendatangkan ridha Tuhan.” (HR Ahmad no. 62, Ibnu Majah no. 289, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ no. 3.695)

  1. Dalam keadaan suci dari dua hadats (kecil dan besar). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلا طَاهِرٌ

“Tidaklah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR al-Hakim:1/447, al-Baihaqi dalam al-Kubra : 413, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Jami: 7/780)

  1. Bersih pakaiannya maupun badannya. Allah Ta’ala berfirman:

يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ [الأعراف:31]

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…” (QS Al-A’raf [7]:31)

  1. Membacanya dengan penuh kekhusyuan, perenungan, dan pentadabburan. Allah Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [ص:29]

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS Shad [38]:29)

  1. Menghadirkan hati agar bacaannya tersebut membekas dalam dirinya, dan tidak membacanya sambil melamun sendiri ataupun berkhayal. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ [ق:37]

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya” (QS Qaf [50]:37)

  1. Dianjurkan bagi pembaca al-Qur’an untuk dapat menangis ketika membacanya, disebabkan oleh nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran yang terdapat di dalamnya. Apabila ia tidak menangis, maka hendaklah ia berusaha agar dirinya dapat menangis. Allah Ta’ala memuji para ahli ilmu dalam firman-Nya:

قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا ۝ وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا [سورة الإسراء: 107-109]

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud’. Dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS Al-Isra [17]:107-109)

  1. Membacanya dengan memperindah bacaannya dan memperbagus suaranya. Apabila ia tidak memiliki suara yang merdu, maka hendaklah ia memperindah suaranya sekemampuannya, tanpa keluar batas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِىٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Tidaklah Allah mengizinkan terhadap sesuatu sebagaimana izin yang diberikan kepada Nabi yang memiliki suara yang indah untuk melagukan al-Qur’an” (HR Muslim:792)

  1. Membaca al-Qur’an dengan memperhatikan etikanya, sehingga ia tidak membacanya sambil tertawa-tawa, main-main, ataupun melihat-lihat sesuatu hal yang dapat melalaikannya. Akan tetapi dia membacanya dengan penuh penghayatan dan mengingat-ingat firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَاب

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS Shad [38]:29)

Inilah sebagian dari adab-adab ketika membaca al-Qur’an. Mari kita mengamalkannya wahai kaum mukminin, dan mengajarkannya kepada siapa yang kita mampu dari kalangan kaum muslimin. Barangsiapa yang menunjukkan seseorang kepada suatu petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.

Ya Allah anugerahkanlah taufiqMu kepada kami untuk dapat mentadabburi kitab-Mu dan mengimaninya dengan benar. Serta anugerahkan juga kelezatan dalam membacanya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.

 

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/344

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here