Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Berpuasa

0
67

Pertanyaan:

Saat ini saya tinggal di Inggris dan saya mempunyai beberapa teman non muslim. Banyak di antara mereka yang bertanya kepada saya: “Kenapa orang-orang Islam harus berpuasa?”

Kira-kira, jawaban apa yang harus saya berikan kepada mereka?

Jawaban:

Pertama, kita sebagai orang Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan karena Allah memerintahkan kita untuk melakukannya, hal ini sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al Baqarah, 2:183).

Jadi alasan pertama kenapa seorang muslim harus berpuasa adalah karena Allah telah memerintahkannya kepada kita, dan kita mendekatkan diri kepadaNya melalui salah satu ibadah yang dicintaiNya ini.

Dan orang yang mengaku beriman (mukmin) hendaknya senantiasa bersegera untuk menjalankan perintah Allah dan RasulNya sebagai bentuk implementasi dari firmanNya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور:51)

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata: “Kami mendengar dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al Nur, 24:51).

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (الأحزاب:36)

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”(QS. al Ahzab, 33:36).

Alasan kedua:

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaiminrahimahullah dalam salah satu karyanya yang berjudul al-Syarh al-Mumti’ hal. 6/190 menyatakan:

“Dan di antara hikmah kenapa Allah menjadikan ibadah sangat bervariasi bentuknya adalah untuk menguji sejauhmana para hamba berkomitmen untuk mentaati perintahNya, apakah mereka hanya mau melakukan ibadah yang sesuai dengan keinginan mereka saja atau mereka benar-benar melakukannya karena mencari ridha Allah?

Jika kita merenungkan konten dari rukun Islam yang lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji, maka kita akan mendapatkan berbagai jenis dan ragam ibadah. Ada yang bersifat fisik saja, ada yang berkaitan dengan harta benda, dan ada pula yang mengombinasikan antara keduanya.

Mungkin bagi sebagian orang, shalat seribu rakaat lebih ringan dibanding dengan mengeluarkan uang satu dirham untuk sedekah. Namun bagi sebagian yang lain, bersedekah seribu dirham lebih mudah jika dibandingkan dengan shalat satu rakaat.

Jadi, inti dari variasi bentuk ibadah adalah untuk mengetahui siapa yang benar-benar taat kepada Allah serta berkomitmen dengan perintahNya dan siapa yang diperbudak oleh hawa nafsunya.

Shalat misalnya, merupakan ibadah jasmani an sich, sedangkan beberapa hal yang membutuhkan biaya seperti air wudhu dan pakaian yang digunakan untuk menutup aurat lebih bersifat sebagai penunjang dan tidak termasuk dalam inti shalat itu sendiri.

Adapun zakat maka ia termasuk ibadah yang berkaitan dengan harta benda saja, sedangkan usaha jasmani untuk memperolehnya atau aktifitas distribusi kepada para mustahiq tidak termasuk dalam inti ibadah ini.

Berbeda dengan haji yang merupakan kombinasi antara ibadah fisik dan ibadah harta, kecuali penduduk Mekkah yang mungkin tidak perlu dana untuk melaksanakannya, tapi ini adalah contoh yang jarang ditemui sehingga tidak bisa dijadikan argumen. Begitu pula dengan jihad fi sabilillah, ibadah ini tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik semata tetapi juga membutuhkan harta benda.

Selain pembagian di atas, ibadah juga dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (1) menahan dari yang disuka, dan (2) mendermakan untuk yang dicinta. Adapun contoh jenis ibadah yang pertama adalah puasa, sedangkan contoh untuk jenis ke dua adalah zakat karena pada dasarnya manusia sangat mencintai harta, oleh sebab itu tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu yang dia cintai (harta) kecuali akan mendapatkan hal lain yang lebih bernilai (pahala).”

Alasan ketiga:

Syariat puasa mempunyai banyak sekali hikmah. Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaiminrahimahullah pernah ditanya tentang hikmah kewajiban puasa, kemudian beliau menjawab:

“Apabila kita membaca firman Allah Ta’ala yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al Baqarah, 2:183).

Maka kita akan langsung mengetahuinya, bahwa tujuan dari puasa adalah takwa sekaligus implementasi peribadatan kepada Allah Ta’ala. Terma takwa sendiri secara bahasa berarti meninggalkan segala hal yang dilarang, sedangkan secara istilah bermakna menjalankan segala perintah dan meninggalkan semua larangan. Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya dan tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya menahan rasa lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari no. 6057).

Berdasarkan hadits di atas, maka orang yang sedang berpuasa seharusnya menjalankan segala kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang telah diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan, misalnya: tidak menggunjing orang lain, tidak berdusta, tidak mengadu domba, tidak menjual komoditas haram, dan pelbagai hal haram lainnya. Dan apabila seorang muslim mampu berpuasa satu bulan penuh, maka dia juga akan konsisten dalam kebaikan sepanjang tahun.

Namun sayang sungguh sayang. Banyak di antara mereka yang berpuasa tetapi tidak mengindahkan hal ini sehingga mereka berperilaku seolah-olah sedang tidak berpuasa, mereka tetap meninggalkan berbagai kewajiban yang ada dan mengerjakan perkara-perkara yang diharamkan, seakan-akan mereka tidak lagi menghormati kesakralan puasa.

Memang perbuatan di atas tidak membatalkan puasa akan tetapi dapat mengurangi pahala puasa bahkan menghilangkannya sama sekali.” (Lih: Fatawa Arkan al-Islam hal. 451).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38064

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here