Antara Beri’tikaf Sendiri pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan atau Pulang ke Keluarga dan Beribadah Bersama Mereka

0
50

Pertanyaan:

Saya bepergian setiap hari sejauh kira-kira 122 Km untuk bekerja. Akan tetapi ketika Ramadhan, saya tinggal di kota tempat saya bekerja yaitu dari hari Senin sampai Jum’at dan tidak pulang menemui keluarga sepanjang pekan.

Apakah saya boleh berpuasa saat perjalanan, dikarenakan perjalanan tersebut tidak terlalu meletihkan dalam beberapa hari ini. Apakah puasa saya sah?

Kalau saya mengambil cuti kerja pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, maka manakah yang lebih utama bagi saya beri’tikaf di kota tempat bekerja ataukah beri’tikaf bersama keluargaku yang mana saya belum banyak menghabiskan waktu bersama mereka? Dengan tujuan membantu istriku dalam pekerjaan rumah karena dia sangat kelelahan hingga membuatnya tidak bisa melakukan banyak ibadah.

Apakah yang terbaik bagiku beri’tikaf di masjid ataukah menghabiskan waktu bersama keluarga dan beribadah bersama mereka?

Jawaban:

Pertama:

Orang musafir dibolehkan berbuka pada bulan Ramadhan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Maka barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tidak ada perbedaan antara safar ‘perjalanan’ yang meletihkan dan yang mudah. Apakah berpuasa lebih utama baginya atau berbuka? Jawabannya adalah berpuasa lebih utama baginya. Kecuali dalam kondisi kepayahan, maka berbuka lebih utama baginya.

Kedua:

Yang lebih utama bagimu -wahai saudaraku- adalah pulang ke keluarga anda untuk tinggal bersama mereka dan membantu istri anda dalam mengurus rumah. Serta membantu mereka dalam melakukan ketaatan dan memanfaatkan sepuluh malam terakhir. Keberadaan anda di tengah mereka dengan membimbing mereka dalam ketaatan dan ibadah jauh lebih baik daripada i’tikaf anda sendirian sedang mereka dalam kondisi terhalang dari beribadah dikarenakan anda jauh.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengabarkan kondisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sepuluh malam terakhir, di antaranya membangunkan istrinya, maksudnya adalah membangunkan mereka untuk ketaatan, ibadah, shalat dan berdoa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah beri’tikaf lalu meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa ada perhatian dan bimbingan.

Terdapat riwayat bahwa Shafiyah Radhiyallahu ‘anha pernah berkunjung saat beliau sedang beri’tikaf. Juga terdapat riwayat bahwa istri-istri beliau beri’tikaf bersama beliau.

I’tikaf adalah ibadah khusus yang (faedahnya) tidak berdampak terhadap orang lain. Sementara keberadaan anda di tengah keluarga dengan interaksi yang baik terhadap mereka dan mengajak mereka untuk melakukan ibadah, termasuk amalan yang manfaatnya berdampak kepada orang lain selain anda, tanpa menghalangi pahala ketaatan mereka dan tidak pula menghalangi diri anda dari beribadah. Karena anda dapat menemani mereka mengerjakan Qiyamul Lail ‘shalat malam’ di salah satu masjid dan anda pula dapat membangunkan mereka di akhir malam untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an. Ini adalah suatu kebaikan yang meliputi anda dan keluarga anda.

Maka kami nasehatkan untuk pulang ke keluarga anda dan tinggal bersama mereka pada sepuluh malam terakhir dan memotivasi mereka dalam melakukan ketaatan dan ibadah. Jika anda melihat kondisi mereka telah stabil dalam ketaatan, maka tidak mengapa untuk beri’tikaf beberapa malam di masjid terdekat. Yang demikian agar anda dapat menggabungkan berbagai macam ketaatan dan mendapatkan kebaikan yang lebih banyak –in sya Allah-. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada anda sebagaimana yang Ia cintai dan ridhai dan menerima amalan anda dan keluarga anda.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65956

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here