Apa Hikmah Berpuasa?

0
82

 Pertanyaan:

Apa hikmah disyariatkannya puasa?

Jawaban:

Pertama, kita harus mengetahui bahwa salah satu nama Allah Ta’ala adalah al-Hakim (Maha Bijaksana) yang merupakan derivasi dari kata al-Hukm (hukum) dan al-Hikmah (kebijaksanaan). Jadi, membuat hukum itu murni hak prerogatif Allah, dan semua hukumNya sarat dengan hikmah, kesempurnaan dan kecermatan.

Kedua, bahwa pada setiap hukum Allah pasti mengandung berbagai hikmah besar yang kadang kita ketahui namun sering pula akal kita tidak dapat menjangkaunya, atau sebagian kita temukan dan yang tersembunyi pun masih banyak.

Ketiga, Allah Ta’ala sendiri sudah menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa sekaligus alasan mewajibkannya kepada kita melalui firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al Baqarah, 2:183).

Maka, puasa adalah sarana untuk mewujudkan ketakwaan. Dan makna dari takwa yaitu menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan semua laranganNya. Oleh sebab itulah, puasa dianggap sebagai salah satu faktor terpenting yang membantu seorang hamba menjalankan seluruh perintah agama.

Para ulama rahimahumullah juga berusaha untuk menggali hikmah puasa, namun hampir semua hikmah yang ditemukan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari takwa. Meskipun begitu, tidak ada salahnya jika tetap disebutkan di sini untuk mengingatkan sekaligus membantu mereka yang berpuasa untuk merealisasikannya. Dan di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:

  1. Puasa adalah sarana untuk mensyukuri nikmat Allah, karena dengan menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri –yang merupakan nikmat tertinggi- dalam rentang waktu tertentu akan membuat seseorang mengetahui nilai nikmat tersebut sehingga membantunya untuk senantiasa memenuhi hak-haknya dengan cara mensyukurinya.
  2. Puasa adalah sarana untuk meninggalkan segala hal yang diharamkan oleh Allah. Logika sederhananya adalah jika seseorang yang berpuasa mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal dibolehkan karena ingin menggapai ridha Allah dan takut akan siksaNya, apalagi menahan diri dari hal-hal yang haram.
  3. Puasa dapat mengalahkan hawa nafsu. Karena pada dasarnya, kalau jiwa itu kenyang maka dia akan selalu berpikir tentang syahwat, akan tetapi jika ia lapar maka sulit baginya untuk memenuhi nafsunya. Oleh karena itu Nabi shallallah ‘alaih wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian telah mempunyai kemampuan maka hendaknya ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, sebab hal tersebut dapat meredakan nafsunya”.

  1. Puasa dapat menumbuhkan sifat kasih sayang kepada orang-orang miskin, karena orang yang berpuasa ketika merasakan beratnya rasa lapar yang hanya sesaat saja, maka dia akan teringat dengan mereka yang merasakan kelaparan seperti itu di sepanjang waktunya sehingga dia akan bersegera menyantuni, menyayangi dan berbuat baik kepada mereka.
  2. Puasa dapat mengalahkan setan dan melemahkannya. Perlu diketahui bahwa setan bergerak di dalam tubuh manusia melalui aliran darah sebagaimana sabda Nabi shallallah ‘alaih wa sallam, dan dengan puasa pergerakan setan akan menyempit sehingga dia akan menjadi lemah. Akibatnya, godaan dan tipu daya setan akan berkurang dan kemaksiatan pun menurun.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Tidak diragukan lagi bahwa darah bersumber dari makanan dan minuman. Dan jika seseorang makan dan minum maka tempat pergerakan setan –yakni aliran darah- akan meluas, sedangkan jika dia berpuasa maka aliran tersebut akan menyempit sehingga hati akan termotivasi untuk melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan segala keburukan.” (lihat Majmu’ al Fatawa, 25/246).

  1. Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk menumbuhkan sikap muraaqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), sehingga dia pun senantiasa berusaha untuk meninggalkan segala hal yang diinginkan oleh nafsunya meskipun dia mampu, karena dia menyadari bahwa Allah melihatnya.
  2. Puasa menumbuhkan sifat zuhud terhadap dunia sekaligus menguatkan rasa cinta terhadap apa yang ada di sisi Allah Ta’ala.
  3. Puasa membiasakan seorang mukmin untuk memperbanyak ketaatan, karena pada umumnya orang yang berpuasa sering melakukan ketaatan sehingga menjadi terbiasa.

Ini adalah sebagian hikmah disyariatkannya puasa. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiqNya kepada kita semua untuk dapat merealisasikan semua hikmah tersebut dan membantu kita supaya dapat beribadah dengan baik.

Wallahu a’lam.

Lihat: Tafsir al-Sa’dy hal. 116, Hasyiyah Ibnu Qasim ‘ala al-Raudh al-Murbi’ hal. 3/344, dan  al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah hal. 28/9.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/26862

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here