Apa Kafarat Menggauli Istri Yang Haid Di Bulan Ramadhan?

  • 2 min read
  • May 15, 2018

Soal:

Bagaimana cara seseorang yang telah bertaubat menunaikan kafarat karena menggauli istrinya yang haid pada hari-hari biasa dan di bulan Ramadhan? Ini terjadi meskipun kami telah mengetahui keharamannya, dan niat kami sekarang adalah bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya.

Kami memohon kepada Anda agar bisa menjelaskan amalan apa yang bisa saya kerjakan agar Allah mengampuni kami. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Pertama:

Menggauli seseorang yang tengah haid diharamkan menurut Ijma’ (kesepakatan) para ulama. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu adalah suatu kotoran. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.  (Al-Baqarah :222).

Berdasarkan riwayat al-Tirmidzi (135), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Barang siapa yang mendatangi wanita haid (berjima’) atau mendatangi wanita pada duburnya atau mendatangi dukun, maka sungguh dia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Al-Tirmidzi).

Barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka wajib baginya untuk bertaubat dan menunaikan kafarat, yaitu bersedekah dengan 1 dinar atau setengahnya kepada orang-orang fakir dan miskin, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (2032), Abu Daud (264), Al-Tirmidzi (135), Al-Nasa’i (289), Ibnu Majah (640), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang mendatangi (menggauli) istrinya dalam keadaan haid:

يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ – أَوْ بِنِصْفِ دِينَارٍ

Artinya:

“Hendaklah ia bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya”. (Dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Abu Daud).

Satu dinar itu setara dengan 4,25 gram emas. Silahkan menghitung harga yang setara dengan itu, lalu bersedekah dengan itu atau setara dengan setengahnya (2,125 gram emas), dibarengi dengan tekad untuk tidak mengulangi perbuatannya itu.

Kedua:

Apabila yang dimaksud dalam pertanyaan (berjima’ pada bulan Ramadhan): berjima’ dengan istri yang tengah haid pada malam-malam Ramadhan, maka jawabannya sebagaimana yang telah kita sebutkan berupa taubat dan kafarat.

Dan apabila dimaksud berjima’ di siang hari Ramadhan, maka hal ini telah mencakup dua dosa besar, yaitu berbuka pada siang hari Ramadhan dan berjima’ pada saat haid.

Adapun berjima’ pada saat haid, maka Anda sudah mengetahui konsekuensinya. Sedangkan berbuka pada siang hari Ramadhan karena jima’, maka hal ini mengakibatkan lima perkara:

  1. Dosa
  2. Batalnya puasa
  3. Wajibnya imsak (tetap menahan diri dari pembatal-pembatal puasa sampai waktu berbuka tiba)
  4. Wajibnya qadha’
  5. Wajibnya kafarat yang dibarengi dengan taubat.

Maka Anda wajib mengqadha’ puasa pada hari dimana Anda merusak puasa Anda dengan jima’. Bersamaan dengan itu, Anda juga wajib menunaikan kafarat, yaitu: membebaskan budak. Bagi yang tidak mendapatkan budak, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Bagi yang tidak sanggup melakukan itu, maka memberi maka 60 orang miskin.

Semoga Allah memberikan kita semua taufiq untuk mengerjakan apa-apa yang Ia cintai dan ridhai.

Wallaahu a’lam

Link: https://islamqa.info/ar/104865