APAKAH DIPERSYARATKAN MENGGOSOK ANGGOTA BADAN SAAT BERWUDHU?

0
90

Soal:

Saya didera beberapa keraguan saat berwudhu, yaitu:

Bahwa saat saya membasuh kedua tangan saya, saya membasuh bagian atas lengan sambil berkata dalam hati: bahwa tidak cukup jika saya sekedar menggosok salah satu dari lengan saya sementara sisi lainnya berada di bawah (kran) air; karena ini hanya dianggap sebagai usapan dan bukan basuhan, sehingga saya terdorong untuk membalik tangan saya di bawah kran agar air dapat sampai ke sisi lengan yang lainnya.

Begitu pula dengan kedua kaki saya. Juga saat saya membasuh wajah saya: saya merasa bahwa air tidak sampai ke bagian depan kepala dan kedua alis saat memenuhi tangan saya dengan air; hal yang kemudian mendorong saya untuk meletakkan wajah saya di bawah kran agar air dapat sampai ke posisi-posisi itu.

Maka saya mohon penjelasan dan rincian dari Anda: apakah perbedaan antara membasuh dan mengusap? Apakah cukup menyiramkan air pada bagian anggota tubuh lalu menggosok semua bagian tubuh itu dengan air? Jazakumullah khairan.

 

Jawaban:

Pertama:

Ketahuilah –semoga Allah merahmati Anda-bahwa menggosok dalam berwudhu atau mandi junub tidak wajib menurut Jumhur ulama, dan dicukupkan dengan sampainya air ke seluruh tubuh saat membasuh. Ini berbeda dengan pendapat Imam Malik rahimahullah.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Madzhab kami adalah bahwa menggosok anggota tubuh saat mandi junub dan berwudhu adalah sunnah dan tidak wajib. Maka bila ia melimpahkan air ke tubuhnya, hingga air itu sampai ke seluruhnya tanpa ia menyentuhkan kedua tangannya, atau ia menceburkan diri dalam air yang banyak, atau ia berdiri di bawah pancuran, atau di bawah air hujan dengan berniat (mandi atau wudhu-penj), lalu air itu sampai ke rambut dan kulitnya, maka itu mencukupinya untuk wudhu dan mandi junubnya. Dengan pandangan ini seluruh ulama berpendapat, kecuali Imam Malik dan al-Muzany, karena keduanya mempersyaratkan menggosok dalam sahnya mandi junub dan wudhu.

Para ulama kami berargumentasi dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: ‘Maka apabila engkau mendapatkan air, maka sentuhkanlah ia pada kulitmu.’ Namun beliau tidak memerintahkannya untuk lebih dari itu. Dan ini adalah hadits shahih yang mempunyai hadits-hadits serupa yang sama.” (Lih: al-Majmu’, 2/214)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

“Tidak wajib melewatkan tangannya di atas tubuh saat mandi junub dan berwudhu, jika ia yakin atau menduga kuat sampainya air ke seluruh tubuhnya. Ini adalah pendapat al-Hasan, al-Nakha’i, al-Sya’bi, Hammad, al-Tsaury, al-Auza’i, al-Syafi’i, Ishaq dan para Ahl al-Ra’yi.” (Lih: al-Mughni, 1/290)

 

Atas dasar ini, maka yang wajib dalam berwudhu adalah membasuh anggota-anggota wudhu satu kali dan memastikan sampainya air ke anggota wudhu, meskipun itu dengan menenggelamkan anggota wudhu ke dalam air, atau meletakkannya di bawah kran, atau yang semacamnya, dan tidak dipersyaratkan Anda membalikkan tangan Anda atau meletakkan wajah Anda di bawah kran. Bahkan semua itu termasuk tindakan berlebihan dan melampaui batas dalam urusan Syariat.

Anda juga tidak harus menggosok anggota-anggota wudhu itu, kecuali jika Anda tidak mampu menyampaikan air ke sebagian tempatnya selain dengan menggosoknya, maka (saat itu) Anda harus menggosoknya. Tapi harus diingat untuk tidak larut dan terseret dalam was-was.

Perbedaan antara membasuh dan mengusap adalah bahwa membasuh itu dipersyaratkan dengan mengalirnya air pada anggota tubuh yang dibasuh. Berbeda dengan mengusap, dimana itu tidak dipersyaratkan hal itu. Yang dipersyaratkan hanyalah posisi anggota tubuh dimaksud tersentuh tangan Anda yang basah, tanpa dituangkannya atau dialirkannya air di atasnya; seperti saat mengusah rambut atau yang lainnya.

 

Kedua:

Ketahuilah bahwa keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. Sehingga jika Anda telah meyakini sesuatu, maka sesudah itu Anda jangan menoleh lagi pada keraguan-keraguan yang muncul. Jika Anda melakukan suatu perbuatan, maka jangan memperhatikan lagi keraguan yang ada sesudah melakukan perbuatan itu. Jika Anda (misalnya) membasuh tangan Anda dengan baik dan Anda yakin bahwa air telah mengenai seluruh anggota wudhu, maka Anda jangan memperhatikan lagi meskipun sesaat kepada keraguan yang membisikkan Anda: “Anda belum membasuh tangan Anda dengan baik!”, karena itu adalah bisikan was-was Syetan. Jangan mengikuti apa yang dibisikkannya pada Anda, karena terseret bersama was-was itu dan mengikuti apa yang dibisikkannya akan menjatuhkan seorang manusia dalam kepayahan, kesulitan, kegalauan dan keberatan. Bahkan bisa jadi menyebabkan kegilaan dan mengeluarkannya dari lingkaran orang-orang berakal.

Cara mandi yang Anda sebutkan dalam pertanyaan dan sikap berlebihan Anda dalam melakukannya adalah sebuah (tindakan) yang keluar dari batasan yang diharuskan dalam Syariat, serta (menunjukkan Anda) terjatuh dalam was-was dan sikap berlebihan. Maka palingkan diri Anda dari hal itu dan berwudhulah seperti orang lain berwudhu.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/198604

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here