Apakah Doa Khatam Al-Qur’an Adalah Sunnah?

0
238

Soal:

Saya berharap anda mengirimkan doa Khatam al-Qur’anul Karim yang sesuai dengan Sunnah Nabawiyah.

Jawaban:

Tidak ada sumber dalil di dalam sunnah nabawiyah terkait doa khusus setelah mengkhatamkan al-Qur`an, tidak pula dari riwayat para sahabat Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– atau dari kalangan ulama besar yang populer.

Ada sebuah doa yang paling terkenal perihal doa tersebut, yaitu yang tercantum di kebanyakan mushaf pada halaman terakhir, doa ini dinisbahkan kepada Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah –Rahimahullah-, namun doa ini pun belum terbukti benar-benar darinya.

Silakan lihat Fatawa asy-Syaikh Ibn Utsaimin (14/226).

Doa setelah khatam al-Qur`an, baik itu ketika dalam shalat atau di luar shalat. Untuk doa khatam ketika shalat, ia tidak memiliki sumber landasan, sedangkan doa khatam al-Qur`an di luar shalat, maka ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas –Radhiyallahu ‘anhu-.

Syekh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah- pernah ditanya: Bagaimana hukum membaca doa khatam al-Qur`an saat shalat malam di bulan Ramadhan?

Dijawab:

“Saya tidak mengetahui adanya dalil dari sunnah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengenai doa khatam al-Qur`an dalam shalat malam di bulan Ramadhan, tidak pula riwayat dari sahabat. Ada memang riwayat yang ada yaitu dari Anas bin Malik –Radhiyallahu ‘anhu-, disebutkan, bahwa dirinya saat khatam al-Qur`an mengumpulkan anggota keluarganya lalu berdoa. Dan ini pun dilakukan di luar shalat.” (Lih: Fatawa Arkan al-Islam, hal. 354).

Syekh Bakr Abu Zaid mempunyai tulisan khusus yang bermanfaat tentang masalah ini, di antara kutipan akhir yang tercantum di sana:

Poin pertama: Mengenai doa khatam al-Qur`an itu sendiri. Kesimpulannya sebagai berikut:

Pertama: Doa khatam al-Qur`an yang disinyalir bersumber dari Rasul. Namun ternyata tidak terbukti adanya riwayat valid bersumber dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– terkait doa tersebut, bahkan bisa juga riwayat doa itu palsu atau lemah atau tidak ada riwayat penguat lainnya.

Dan bisa pula dikatakan, tidak ada satu pun riwayat yang bisa dijadikan pijakkan bahwa ia statusnya valid dari Rasul; sebab para ulama yang menyusun pembahasan tentang ilmu al-Qur`an dan zikir-zikirnya, semisal: an-Nawawy, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, dan as-Suyuthi, tidak ada seorang pun dari mereka yang menyinggung permasalahan ini, seandainya memang mereka memiliki riwayat yang sanadnya cukup kuat, niscaya akan mereka paparkan di sana.

Kedua: Ada sebuah riwayat shahih, mengenai  perbuatan Anas bin Malik –Radhiyallahu ‘anhu– yang berdoa saat khatam al-Qur`an, ia mengumpulkan seluruh keluarganya dan anak-anaknya untuk membaca doa itu. Dan perbuatannya ini diikuti oleh sejumlah ulama Tabi’in, seperti yang disebutkan dalam Atsar dari Mujahid bin Jabr –Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka semua-.

Ketiga: Tidak ditemukan adanya dalil apapun terkait syariat doa tersebut menurut pendapat dua imam: Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’y.

Adapun riwayat Imam Malik –Rahimahullah-, beliau mengatakan, bahwa doa tersebut tidak pernah dilakukan oleh masyarakat Madinah dan Doa khatam al-Qur`an bukan termasuk sunnah yang dibaca di bulan Ramadhan.

Keempat: Dalil yang mengatakan berdoa setelah Khatam terdapat dalam riwayatnya Imam Ahmad –Rahimahullahu-, sebagaimana yang dinukil oleh para ulama mazhab Hanbali, dan disepakati pula oleh sebagian pengikut tiga mazhab lainnya.

Poin kedua: Mengenai Doa khatam al-Qur`an di dalam shalat.

Kesimpulannya sebagai berikut:

Pertama: Berdasarkan penjelasan lalu, tidak ada satu huruf pun dalil dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– atau dari kalangan sahabat beliau –Radhiyallahu ‘anhum- mengenai syariat doa khatam yang dibaca di dalam shalat sebelum rukuk atau setelahnya, entah itu bagi imam atau yang shalat sendiri.

Kedua: Penjelasan terakhir dalam masalah ini, apa yang disebutkan oleh para ulama mazhab (Hanbali) berupa riwayatnya Imam Ahmad –Rahimahullahu, mereka mengatakan bahwa doa khatam itu dibaca dalam shalat taraweh sebelum ruku’.

Silakan lihat Marwiyat Du’a Khatm alQur`an, karya Syekh Bakr Abu Zaid.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65581

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here