Apakah Istri Juga Membayar Kafarat Akibat Berjima’ Di Bulan Ramadhan?

0
85

Soal:

Seseorang yang menggauli istrinya di siang hari Ramadhan, apakah dia (istrinya) diwajibkan melaksanakan kafarat?

Jawaban:

Berjima’ di siang hari Ramadhan termasuk pembatal puasa yang paling besar. Dan siapa yang menggauli istrinya di siang hari Ramadhan, maka tidak terlepas dua keadaan:

Pertama: Istrinya dimaafkan ketika berjima’; baik karena dipaksa, lupa atau tidak tahu akan keharaman berjima’ di siang hari Ramadhan. Dalam keadaan seperti ini, maka puasanya tetaplah sah, dan ia tidak diharuskan mengqadha’ dan tidak juga kafarat. Dan ini merupakan riwayat dari Al-Imam Ahmad, dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan diantara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullaah.

Mereka beralasan dengan beberapa dalil:

  1. Firman Allah Ta’ala:

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

            “Ya Rab kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah : 286).

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa yang makan karena lupa dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya. Karena Allahlah yang telah memberikan ia makan dan minum.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Mereka mengatakan: Bahwa berjima’ dan seluruh pembatal puasa lainnya diqiyaskan (dianalogikan) dengan makan dan minum (jika dilakukan karena lupa-penj).

  1. Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku kesalahan, lupa dan yang dipaksakan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2045) dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullaah pernah ditanya tentang seseorang yang menggauli istrinya sementara istrinya tidak rela, maka beliau menjawab:

“… Adapun seorang wanita apabila ia dipaksa, maka tidak ada kewajiban atasnya dan puasanya tetaplah sah.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/310).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah mengatakan dalam al-Syarh al-Mumti’ (6/404) tentang hukum berjima’ di siang hari Ramadhan:

“Apabila wanita dimaafkan karena tidak tahu, lupa atau dipaksa, maka tidak ada kewajiban qadha’ atasnya dan tidak pula kafarat.”

Keadaan yang kedua: seorang wanita yang tidak diberi udzur, dimana ia mengikuti dan menerima (kehendak) suaminya dalam berjima’, maka terkait kewajiban kafarat dalam keadaan seperti terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama menjadi menjadi dua pendapat:

Pendapat yang pertama: ia (istrinya) wajib melaksanakan qadha’ dan kafarat apabila ia melakukannya (berjima’) dengan sukarela. Dan ini merupakan madzhab Jumhur ulama, mereka berdalil dengan:

  1. Apa yang diriwayatkan secara shahih dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang yang telah menggauli istrinya di siang hari Ramadhan untuk melaksanakan kafarat. Dan hukum asalnya adanya kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam kewajiban ini, kecuali apa yang dikecualikan oleh Allah yang Maha Bijaksana melalui
  2. Karena ia (wanita tersebut) telah membatalkan puasa Ramadhannya dengan berjima’, maka diwajibkan atasnya kafarat seperti halnya laki-laki.
  3. Karena ia (kafarat) merupakan hukuman yang berkaitan dengan jima’, maka lelaki dan wanita disamakan seperti halnya hukuman zina.

Al-Bahuty rahimahullah mengatakan dalam Syarh Muntah Al-Iradat (1/486):

“Wanita apabila ia rela (berjima’), mengetahui hukumnya dan tidak lupa akan puasanya, maka dia seperti lelaki dalam kewajiban qadha’ dan kafarat. Karena dia telah melanggar kehormatan puasa Ramadhan dengan berjima’ secara suka rela, maka ia menyerupai lelaki.”

Pendapat yang kedua: Kafarat hanya diharuskan untuk suami saja dari dirinya sendiri, dan tidak ada kewajiban atas istrinya; baik itu ia dipaksa ataupun sukarela. Dan ini merupakan madzhab al-Syafi’iyyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Mereka berdalil bahwasanya Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam memerintahkan suami melakukan kafarat dan tidak ada penjelasan yang menyebutkan kewajiban kafarat atas istrinya. Padahal –menurut mereka-: menunda penjelasan di waktu dibutuhkannya penjelasan tersebut tidaklah dibolehkan.

Argumentasi ini dijawab: bahwasanya tidak disebutkannya istri terkait dengan kafarat, karena lelaki tersebut hanya bertanya untuk dirinya, sedangkan istrinya tidak meminta fatwa. Dan juga krena keadaan istrinya mengandung memberi kemungkinan bahwa ia diberi udzur karena ketidaktahuannya atau dipaksa.

Pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah diwajibkannya kafarat atas perempuan, sebagaimana diwajibkan atas laki-laki. (Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/307, al-Syarh al-Mumti’ 6/402).

Wallaahu a’lam

Link : https://islamqa.info/ar/106532

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here