Apakah Kita Semua Wajib Melihat Hilal?

0
87

Pertanyaan:

Apa hukumnya orang yang tidak berpuasa pada awal terlihatnya hilal bulan Ramadhan kecuali jika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri? Beralasan dengan hadits yang berbunyi,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah karena melihat hilal.”

Benarkah pengambilan dalil dari hadits di atas seperti yang mereka amalkan?

Jawaban:

Alhamdulillah, yang wajib dilakukan seorang muslim apabila hilal telah terlihat ialah segera berpuasa, meskipun yang melihatnya hanya satu orang yang dapat dipercaya. Sebagaimana perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk berpuasa ketika seorang Arab Badui datang bersaksi bahwa ia telah melihat hilal.

Sementara pendalilan dengan hadits yang berbunyi:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah karena melihat hilal.”

untuk menunjukkan bahwa setiap orang harus berpuasa jika telah melihat hilal dengan mata kepala sendiri adalah tidak benar!

Sebab hadits tersebut merupakan seruan yang ditujukan secara umum untuk memulai puasa jika hilal benar-benar terlihat (bukan menjadi kewajiban setiap orang-edt), meskipun bersumber dari pengakuan seorang muslim yang dapat dipercaya. (Lihat: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 10/94).

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa persaksian seorang muslim yang dapat dipercaya (bahwa ia telah melihat hilal) sudah cukup untuk menetapkan wajibnya berpuasa bagi segenap kaum muslimin adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Ketika orang-orang sibuk melihat-lihat kemunculan hilal, kukabarkan kepada Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam bahwa aku telah melihat hilal. Beliaupun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (H.R. Abu Dawud).

Sebagian ahli bid’ah menunda memulai puasa mereka dari kaum muslimin lainnya karena keyakinan sesat mereka bahwa seseorang tidak boleh memulai puasa Ramadhan hingga ia melihat hilal dengan mata kepalanya sendiri.

Hadits-hadits yang kita bawakan tadi membantah keyakinan mereka tersebut. Kita tanyakan juga kepada mereka: bagaimana dengan orang buta dan rabun?

Maka benarlah firman Allah:

فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُور

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. 22:46)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/1584

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here