Apakah Meninggalkan Puasa Di Bulan Ramadhan Bagi Si Sakit Itu Lebih Utama?

  • 2 min read
  • Jun 13, 2018

Soal:

Apakah lebih utama bagi seorang pasien untuk meninggalkan puasa atau lebih baik dia menahan beratnya puasa itu dan tetap menjalaninya?

Jawaban:

Jika si sakit berat melaksanakan puasa maka yang paling utama adalah meninggalkan puasa, lalu mengganti puasanya dengan mengqadha’ di hari lain saat sembuh. Memaksakan diri untuk tetap berpuasa tidak dianjurkan. Dalilnya sebagai berikut:

  1. Diriwayatkan oleh Ahmad (5832) dari Ibnu ‘Umar menuturkan, Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah senang jika rukhshah (keringanan yang diberikan)-Nya diambil sebagaimana Dia murka jika maksiat (kedurhakaan kepada)-Nya diterjang.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Irwa’ al-Ghalil (564)

  1. Diriwayatkan oleh al-Bukhary (6786) dan Muslim (2327) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,

مَا خُيِّرَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْن أَمْرَيْنِ إِلا أَخَذَ أَيْسَرهمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا , فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاس مِنْهُ

“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan dua pilihan melainkan beliau pasti mengambil yang termudah selagi tidak berupa dosa. Adapun jika pilihannya mengandung dosa maka beliaulah orang yang paling menjauhinya.”

Imam Nawawi menerangkan, “Dalam hadits ini dapat difahami bahwa yang mustahab adalah mengambil pilihan termudah dan mengutamakan fleksibilitas selagi hal itu tidak haram ataupun makruh.”

Bahkan dimakruhkan bagi si sakit untuk memaksakan diri berpuasa padahal berat. Bahkan bisa jadi puasanya sampai pada taraf haram, jika dengan puasa itu dikhawatirkan akan timbul efek yang membahayakan.

Imam al-Qurthuby rahimahullah menerangkan,

“Orang yang sakit ada dua keadaan;

Pertama, dia sama sekali tidak mampu berpuasa karena keadaannya, maka dia wajib meninggalkan puasa.

Kedua, dia mampu berpuasa meskipun ada bahaya dan berat melakukannya. Maka dalam hal ini meninggalkan puasa hukumnya mustahab. Yang nekat berpuasa dalam keadaan ini berarti dia jahil (tidak mengerti ilmunya).”

Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab “al-Mughny” (4/404),

“Jika si sakit memaksakan diri lalu tetap berpuasa meski memberatkan diri sendiri, maka dia telah melakukan hal yang makruh. Karena hal itu berpotensi membahayakan diri sendiri dan sengaja meninggalkan keringanan yang Allah berikan, tidak menampilkan sikap penerimaan terhadap rukhshah dari-Nya.”

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab al-Syarh al-Mumti’ (6/352) menyatakan,

“Dengan ini kita ketahui salahnya pilihan yang diambil oleh orang yang terlalu bersemangat, dimana saat menderita sakit yang berat untuk melakukan puasa, bahkan mungkin jika berpuasa akan membahayakan dirinya. Namun meski begitu, mereka enggan meninggalkan puasa. Maka kita katakan, “mereka ini telah mengambil pilihan yang salah, karena mereka justru menolak kemurahan dari Allah ‘Azza wa Jalla, tidak menunjukkan penerimaan terhadap rukhshah-Nya, lalu malah membahayakan dirinya sendiri. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

 “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.” (an-Nisa’ (4):29)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/11107