APAKAH MULAI DENGAN TAWAF UMRAH ATAU SHALAT TARAWIH?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Thawaf

Soal:

Orang yang masuk ke Masjidil Haram untuk menunaikan umrah sesaat sebelum adzan Isya, apakah ia boleh menunda pelaksanaan umrahnya secara berkelanjutan sampai usai mengerjakan shalat tarawih berjamaah; agar tidak kehilangan pahala qiyamullail bersama imam sampai imam selesai?

Jawaban:

Yang sejalan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memulai dengan mengerjakan tawaf sebelum melakukan apapun, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Manasiknya, ia mengatakan: bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah masuk ke Masjidil Haram beliau mengawalinya dengan tawaf, tanpa mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid sebelumnya. Bahkan Tahiyyatul Masjid (penghormatan terhadap mesjid) untuk Masjidil Haram adalah dengan mengerjakan tawaf di Baitullah.

Dari Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Bahwa hal pertama yang dilakukan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau berwudhu, lalu melakukan thawaf.” (HR. Al-Bukhari no. 1614, Muslim no. 1235)

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

“Dan dalam hadits ini mengandung dalil disunnahkan bagi orang yang datang (ke Baitullah) untuk mengawalinya dengan tawaf; karena itulah bentuk (shalat) Tahiyyatul Masjid untuk Masjidil Haram. Sebagian ulama al-Syafi’iyah dan yang sejalan dengannya mengecualikan wanita cantik atau terhormat yang (sepatutnya) tidak tampak, maka dianjurkan baginya untuk menunda tawaf sampai malam; jika ia memasuki Baitullah di waktu siang.

Demikian pula orang yang khawatir ketinggalan shalat wajib, atau jamaah shalat wajib, atau (jamaah shalat) sunnah muakkadah, atau untuk mengerjakan shalat yang terluput dikerjakannya; karena semua itu harus didahulukan atas mengerjakan tawaf.” (Lih: Fath al-Bary 3/479)

Ini menunjukkan bahwa shalat jamaah yang hukumnya sunnah muakkadah didahulukan daripada mengerjakan tawaf.

Ibnu Qudamah mengatakan:

“Dan jika ia masuk ke mesjid lalu ia teringat akan satu shalat fardhu atau shalat yang terluput, atau shalat wajib sudah akan dikerjakan, maka ia mendahulukan itu daripada mengerjakan tawaf, karena itu adalah sebuah kewajiban, sementara tawaf adalah tahiyyat (penghormatan). Dan juga karena bila shalat ditegakkan saat ia sedang tawaf, ia harus menghentikannya untuk (mengerjakan) shalat itu, maka saat ia akan mulai mengerjakan tawaf tentu lebih layak (untuk tidak mengerjakannya demi mengerjakan shalat).

Dan jika ia khawatir terluput mengerjakan shalat 2 rakaat sunnah subuh atau witir, atau jenazah telah hadir (untuk dishalatkan), maka ia mendahulukan (itu semua); karena itu adalah (shalat) sunnah yang dikhawatirkan akan terluput, sementara tawaf tidak akan terluputkan.” (Lih: al-Mughni 3/337)

Maka dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa shalat tarawih bersama imam lebih didahulukan daripada mengerjakan tawaf, karena ia adalah sunnah yang dikhawatirkan terluput.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Apakah seorang yang berhaji atau berumrah harus memutuskan tawaf atau sa’inya untuk mengerjakan shalat?”

Beliau menjawab:

“Jika shalat yang dimaksud adalah shalat fardhu, maka ia wajib untuk menghentikan tawaf atau sa’inya agar dapat mengerjakan shalat, karena shalat berjamaah itu wajib. Bahkan seseorang diberikan keringanan untuk memotong sa’inya demi untuk mengerjakannya, sehingga tindakannya keluar dari sa’i atau tawaf adalah tindakan yang diperbolehkan dan masuknya ia dalam (shalat) jamaah adalah sesuatu yang wajib.

Adapun jika shalat yang dimaksud adalah shalat sunnah –seperti jika ia berada dalam qiyamullail dalam shalat tarawih di bulan Ramadhan-, maka ia tidak perlu memutuskan sa’i atau tawafnya karena itu.

Namun yang paling utama adalah ia bersikap hati-hati, yaitu dengan mengerjakan tawaf setelah atau sebelum shalat tarawih. Begitu pula dengan sa’i. Agar ia tidak terluputkan keutamaan qiyamullai bersama jamaah.” (Lih: Majmu’ Fatawa wa Rasa’il al-Syaikh Ibn Utsaimin, 22/349-350)

Atas dasar itu: maka siapa saja yang masuk ke Masjidil Haram untuk melakukan umrah sebelum adzan Isya beberapa detik, maka ia menunda pelaksanaan umrahnya sampai selesai (mengerjakan) shalat Tarawih bersama imam agar dapat mengumpulkan 2 keutamaan tersebut.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/279049