Apakah Seorang Musafir Harus Berpuasa Pada Sisa Hari Saat Ia Tiba?

0
71

Pertanyaan:

Dahulu saya pernah bepergian, lalu saya membatalkan puasa saya karena bepergian yang saya lakukan. Kemudian saya pulang ke negeri saya dalam keadaan tidak berpuasa. Bolehkah saya makan dan minum setelah saya sampai di negara saya?

Jawaban:

Jika seorang musafir telah datang dalam keadaan tidak berpuasa, atau seorang wanita yang bersih dari haidnya, atau seorang yang sakit sembuh pada siang hari, maka pada kasus-kasus ini para ulama berbeda pendapat, apakah ia harus puasa dari pembatal-pembatal puasa atau tidak?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka tidak wajib puasa dari pembatal-pembatal puasa. Sebab mereka membatalkan puasa karena udzur syar’i. Akan tetapi, mereka tidak boleh membatalkan puasa secara terang-terangan di hadapan orang-orang yang tidak mengetahui udzur, agar tidak menimbulkan prasangka buruk pada mereka. (Lih: al-Majmu’ 6/167,168 dan 173)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam al-Mughny:

“Adapun orang-orang yang dibolehkan membatalkan puasa di awal waktu siang secara lahir maupun batin, seperti wanita haid, nifas, musafir, anak kecil, orang gila, orang kafir dan orang sakit.

Jika telah hilang dari mereka udzur-udzur mereka pada siang hari, misalnya: sucinya seorang wanita dari haid dan nifas, seorang musafir menjadi seorang yang mukim, anak kecil berubah menjadi anak yang telah baligh, orang gila sembuh dari penyakit gilanya, seorang yang kafir masuk Islam, seorang yang tidak berpuasa karena sakit lalu sembuh dari penyakitnya; maka pada kondisi mereka itu ada dua pendapat:

Pendapat pertama, mereka wajib puasa dari pembatal-pembatal puasa pada sisa hari mereka. Ini adalah pendapat Abu Hanifah.

Pendapat kedua, mereka tidak wajib puasa dari pembatal-pembatal puasa. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i rahimahumallah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: ‘Siapa yang makan pada awal siang, maka ia boleh makan pada akhir siangnya’.”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Saya pernah mendengarkan bahwa Anda berfatwa bahwa seorang wanita jika ia telah suci dari haidnya pada siang hari pada bulan Ramadhan, ia boleh makan dan minum serta tidak wajib baginya puasa dari pembatal-pembatal puasa pada sisa-sisa harinya. Demikian pula jika seorang musafir telah sampai di negrinya pada siang hari. Apakah yang saya dengar ini benar? Apa dalil akan hal tersebut?

Beliau menjawab:

“Benar, apa yang Anda dengar bahwa saya berfatwa tentang wanita yang suci dari haidnya pada siang hari, tidak wajib baginya puasa dari pembatal-pembatal puasa. Demikian pula jika musafir telah sampai di negrinya. Ini adalah pendapat yang benar menurut saya. Pendapat ini adalah salah satu dari dua riwayat pendapat Imam Ahmad rahimahullah dan merupakan pendapat Imam Malik dan Syafi’i rahimahumallah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

“Siapa yang makan pada awal siang, maka ia boleh makan pada akhir siangnya.”

Diriwayatkan pula dari Jabir bin Yazid, ia adalah Abu al-Sya’sya -salah seorang imam dan ahli fiqih dari kalangan tabi’in-: Bahwasanya, ketika ia tiba dari bepergian, ia melihat istrinya suci dari haid pada siang hari itu. Maka ia menggauli istrinya.

Kedua atsar ini disebutkan dalam kitab al-Mughny dan Ibnu Qudamah tidak menyalahkannya.

Lagi pula tidak ada manfaatnya dari puasa terhadap beberapa hal yang membatalkan puasa, sebab tidak sah berpuasa pada hari itu kecuali dimulai sejak fajar.

Mereka juga adalah orang-orang yang dibolehkan membatalkan puasa sejak awal siang, secara lahir atau batin, dengan pengetahuan mereka bahwa hari itu adalah bulan Ramadhan. Allah mewajibkan seseorang puasa dari pembatal-pembatal puasa sejak awal fajar, sedangkan mereka pada saat itu bukanlah orang-orang yang diwajibkan. Oleh karenanya, mereka bukanlah orang-orang yang diminta untuk puasa dari pembatal-pembatal puasa yang diperintahkan.

Demikian pula Allah mewajibkan kepada para musafir dan wanita haid untuk mengganti puasa mereka pada hari yang lain, sebagai ganti dari puasa yang mereka tinggalkan sebelumnya.

Seandainya kita mewajibkan mereka untuk puasa dari pembatal-pembatal puasa, maka berarti kita telah mewajibkan mereka lebih banyak daripada apa yang Allah wajibkan atas mereka. Sebab kita mewajibkan mereka puasa, padahal mereka wajib mengqadha. Kita mewajibkan kepada mereka dua perkara, sementara dalam syariat mereka hanya diwajibkan adalah satu perkara saja, yaitu mengqadha’ beberapa hari yang ia tinggalkan.

Ini merupakan dalil yang paling jelas akan ketidakwajiban puasa dari pembatal-pembatal puasa bagi mereka. Akan tetapi, sebaikya ia tidak makan dan minum secara terang-terangan, sebab hal itu bisa memiliki efek yang buruk. (Lih: Fatawa al-Shiyam: 102)

Imam al-Nawawy berkata dalam al-Majmu’ (6/174):

“Jika seorang musafir tiba siang hari pada bulan Ramadhan  dalam keadaan tidak berpuasa, lalu ia mendapati istrinya baru saja suci dari haid atau nifasnya atau ia baru saja sembuh dari sakitnya dalam keadaan tidak berpuasa, maka boleh baginya mennggauli istrinya tanpa perlu membayar kafarat. Ini adalah pendapat dalam mazhab kami dan tidak perselisihan di dalamnya.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49008

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here