Apakah Suami-Istri Umrah Berdua atau Menabung Agar Satu Dari Mereka Dapat Berhaji?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Pasangan

Soal:

Apakah lebih baik jika saya menabung untuk berhaji tahun depan atau berumrah sekarang? Saat ini, saya dan istri memiliki harta yang cukup untuk menunaikan umrah berdua. Namun jika kami tidak berumrah sampai tahun depan, maka mungkin dana itu bisa mencukupi untuk biaya haji satu orang. Tapi belum pasti. Jadi manakah yang lebih utama?

 Jawaban:

Yang kami sarankan kepada Anda adalah segera menunaikan umrah selama Anda berdua mampu melakukannya. Ini atas dasar beberapa pertimbangan:

Pertama, bahwa yang disyariatkan bagi seorang mukmin untuk bersegera melakukan amal-amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Allah Ta’ala berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperi luas langit langit dan bumi, yang disiapkan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya.” (al-Hadid: 21)

Sebagian ulama salaf mengatakan: “Siapa yang dibukakan untuknya pintu kebaikan, maka hendaklah ia memanfaatkannya. Karena itu tidak mengetahui kapan (pintu itu) ditutup.”

Kedua, bahwa Anda sendiri tidak yakin tentang kemampuan finansial suami Anda untuk berhaji pada tahun depan. Bahkan andaipun ada dana untuk itu, namun mungkin ada hal-hal lain yang dapat menghalanginya untuk berhaji, seperti kesibukan atau yang lainnya. Sehingga ia telah menunda umrah tanpa ada hajat atau maslahat yang lebih besar, dan ia pun tak memungkinkan menunaikan haji.

Ketiga, bahwa sekarang Anda berdua mampu menunaikan umrah, sehingga ia menjadi wajib bagi Anda berdua. Adapun haji, maka sekarang ini tidak wajib bagi Anda berdua disebabkan ketidakmampuan Anda. Sehingga tidak bijak jika seseorang menunada apa yang wajib baginya sekarang demi mengerjakan sesuatu yang belum lagi menjadi kewajibannya saat ini.

Maka Anda berdua sekarang ini terkena perintah untuk berumrah…selama Anda berdua mampu. Dan Anda berdua tidak terkena perintah untuk berhaji dikarenakan ketidakmampuan Anda; sesuai dengan perintah Allah TA’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian.” (al-Taghabun: 16)

Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku menyuruh kalian dengan satu perintah, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 7288, dan Muslim no. 1337)

Keempat, kemudian Anda tidak menyebutkan sesuatu tentang jumlah dana yang disimpan itu: apakah itu milik suami Anda atau milik Anda berdua yang Anda simpan bersama?

Jika dana itu milik Anda berdua, maka para ulama rahimahullah menjelaskan bahwa tidak boleh mendahulukan orang lain dalam hal melaksanakan ketaatan/ibadah yang sifatnya wajib. Sehingga Anda tidak boleh memberikan harta milik Anda kepada suami Anda untuk digunakannya berhaji, lalu Anda sendiri tidak melaksanakan umrah.

Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Mendahulukan orang lain dalam ibadah itu ada 2 macam:

Mendahulukan orang lain dalam ibadah itu ada 2 macam:

Yang pertama, ibadah yang sifatnya wajib. Maka yang seperti ini tidak boleh mendahulukan orang lain dalam pelaksanaannya. Contohnya seperti orang yang memiliki air yang hanya cukup untuk wudhu 1 orang saja, sementara ia sendiri tidak dalam keadaan berwudhu, dan teman yang bersama dengannya juga tidak dalam keadaan berwudhu. Dalam kondisi ini, ia tidak boleh memprioritaskan temannya untuk menggunakan air tersebut; karena ia akan meninggalkan perkara yang wajib baginya, yaitu bersuci dengan air. Maka mendahulukan orang lain dalam perkara yang wajib adalah haram…” (Lih: Liqa’at al-Bab al-Maftuh, hal. 22)

Kami memohonkan pada Allah agar memberi taufik pada Anda berdua kepada apa yang dicintai dan diridhaiNya.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/131681