Apakah Wajib Bagi Mereka Berpuasa dan Mengqadha’?

0
95

Pertanyaan:

Ada seorang anak kecil yang berpuasa pada bulan Ramadhan sebelum usia baligh. Ia kemudian baligh pada saat sedang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan. Apakah wajib bagi anak itu untuk mengqadha’ puasa yang batal pada hari itu?

Bagaimana juga dengan seorang kafir jika ia masuk Islam, seorang wanita yang suci dari haidhnya, seorang yang gila lalu ia sembuh, seorang musafir yang kembali dimana sebelumnya ia dalam keadaan tidak berpuasa, seorang yang sakit kemudian sembuh dimana sebelumnya ia tidak berpuasa?

Bagaimana hukum semua itu ditinjau dari sisi kewajiban imsak (menahan diri dari pembatal-pembatal puasa) serta melakukan qadha’?

Jawaban:

Mereka semua yang disebut dalam pertanyaan itu tidak memiliki satu hukum yang sama. Orang-orang yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok:

Pertama, anak kecil jika ia baligh, seorang yang kafir jika ia masuk Islam dan orang yang gila kemudia ia sembuh (siang hari bulan Ramadhan) memiliki satu hukum yang sama. Mereka wajib menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dan tidak wajib bagi mereka mengqadha’ puasanya.

Kedua, adapun wanita yang suci dari haidhnya, musafir yang kemudian menjadi seorang mukim dan seorang yang sakit kemudian sembuh, hukumnya juga satu. Mereka tidak wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan mereka juga tidak mendapatkan manfaat dari menahan diri (berpuasa) pada sisa hari itu. Akan tetapi mereka wajib mengqadha’ puasa mereka.

Perbedaan antara kelompok pertama dan kedua adalah pada terwujudnya syarat taklif (pembebanan syariat) pada kelompok pertama, yaitu: baligh, Islam dan berakal. Apabila syarat taklif itu terwujud, maka wajib bagi mereka untuk menahan diri. Namun mereka tidak wajib menqadha’ puasa mereka, karena mereka telah menahan diri ketika telah masuk pada masa wajibnya mereka menahan diri dari pembatal-pembatal puasa. Sedangkan sebelumnya mereka belum mendapatkan pembebanan syariat untuk berpuasa.

Adapun kelompok yang kedua, mereka adalah orang-orang yang diperintahkan untuk berpuasa, sehingga puasa itu menjadi sesuatu yang wajib bagi mereka. Akan tetapi, mereka mendapatkan udzur yang membolehkan mereka tidak berpuasa, yaitu: haidh, safar dan sakit. Maka Allah meringankan beban mereka dan membolehkan untuk tidak berpuasa. Oleh karenanya, jika udzur mereka telah hilang pada siang hari, mereka juga tidak dapat mengambil manfaat dari menahan diri terhadap pembatal-pembatal puasa. Namun mereka wajib mengqadha’ setelah berakhirnya bulan Ramadhan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Jika seorang musafir telah tiba di negerinya dalam keadaan tidak berpuasa, maka ia tidak wajib menahan dirinya dari pembatal-pembatal puasa. Sehingga ia boleh makan dan minum pada sisa harinya, sebab keinginannya untuk menahan diri dari pembatal-pembatal puasa itu tidak memberikannya manfaat sedikitpun, karena mereka wajib mengqadha’nya pada hari yang lain. Ini adalah pendapat yang benar, yang merupakan pendapat Madzhab Malikiyah dan Syafi’iyyah, serta salah satu dari dua riwayat pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Akan tetapi, tidak boleh baginya untuk makan dan minum di depan umum.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin: 19/ pertanyaan nomor 58)

Beliau juga menjelaskan:

“Jika wanita suci dari haidh dan nifasnya di siang hari pada bulan Ramadhan, maka tidak wajib baginya untuk menahan diri dari makan dan minum. Ia boleh makan dan minum, sebab jika ia menahan diri dari makan dan minum, niscaya hal itu tidak dapat memberi faidah kepadanya, sebab ia wajib mengqadha’ puasanya. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad.

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: ‘Siapa yang makan di awal hari, maka ia juga boleh makan pada akhir hari tersebut.’ Maksudnya, siapa yang boleh tidak berpuasa pada awal hari, ia juga boleh tidak berpuasa di akhir hari tersebut.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin: 19/ Pertanyaan nomor 59)

Beliau juga ditanya:

Jika ada yang tidak berpuasa pada siang hari di bulan Ramadhan karena udzur syar’i, bolehkah ia makan dan minum pada sisa harinya?

Beliau menjawab:

“Boleh baginya untuk makan dan minum, sebab ia tidak berpuasa karena adanya udzur syar’i. Jika ia mendapat udzur syar’i, maka hilanglah kewajiban puasanya pada hari itu, sehingga ia boleh makan dan minum.

Beda halnya dengan seseorang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan bukan karena udzur syar’i, ia tetap wajib untuk menahan dirinya dari makan dan minum, walau ia juga tetap wajib mengqadha’nya.

Oleh karenanya, setiap orang harus memperhatikan kedua masalah ini, sebab ada perbedaan antara keduanya.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin: 19/ pertanyaan nomor 60).

Beliau juga berkata:

“Kami telah menyebutkan ketika kami meneliti tentang perkara puasa, bahwa wanita jika ia haidh lalu suci pada siang hari, maka ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya: Apakah ia wajib menahan diri pada sisa hari tersebut sehingga ia tidak boleh makan dan minum, atau ia tetap boleh makan dan minum pada sisa hari tersebut?

Kami jelaskan bahwa dalam masalah ini ada dua riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah. Salah satunya –pendapat ini yang masyhur dalam Madzhab Hanblay- bahwa ia wajib menahan dirinya, sehingga ia tidak boleh makan dan minum. Riwayat kedua menyatakan bahwa ia tidak wajib menahan diri, sehingga ia boleh makan dan minum.

Riwayat pendapat yang kedua ini juga merupakan pendapat Madzhab Maliki dan Madzhab Syafi’i rahimahumallah. Dimana ini merupakan pendapat yang berasal dari riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma yang berkata: ‘Siapa yang makan di awal hari, maka ia juga boleh makan pada akhir hari tersebut.’

Kami juga jelaskan bahwa yang wajib bagi para penuntut ilmu ketika mendapati masalah khilafiyah, adalah melihat pada dalil-dalilnya, lalu mengambil pendapat yang menurutnya paling kuat.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin: 10 pertanyaan nomor 60)

 

Sumber: https://Islamqa.info/ar/65635

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here