Bagaimana Menghidupkan Lailatul Qadar

0
124

Soal:

Bagaimana cara menghidupkan Lailatul Qadar; apakah dengan shalat atau membaca al-Qur’an, membaca sirah nabawiyah, menyampaikan untaian nasihat dan bimbingan, serta merayakannya di masjid?

Jawaban:

Pertama: Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– lebih bersungguh-sungguh di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan daripada di hari-hari lainnya, beliau mengisinya dengan shalat, membaca al-Qur’an, dan berdoa.

Al-Bukhary dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, bahwasanya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, jika sudah memasuki 10 terkahir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya (untuk beribadah), dan mengencangkan sarungnya (tidak bercengkrama dengan para istrinya).

Dari Ahmad dan Muslim:

“Beliau lebih bersungguh-sungguh di 10 hari terakhir bulan Ramadhan daripada di hari-hari lainnya.”

Kedua: Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– menganjurkan umatnya agar shalat pada Lailatul Qadar, karena iman dan berharap pahala.

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu ‘anhu– , dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwasanya beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan berharap pahala, niscaya dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR. al-Jama’ah kecuali Ibnu Majah).

Dan hadits ini menunjukkan disyariatkannya menghidupkan malam tersebut dengan shalat.

Ketiga: Doa terbaik yang dipanjatkan pada Lailatul Qadar serta yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam–  kepada Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, yang diriwayatan oleh at-Tirmidzi dan ia nyatakan statusnya shahih, dari Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– bahwasanya ia berkata, ‘Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku jika saya mengalami Lailatul Qadar, apa yang harus saya Ucapkan?’, beliau menjawab:

‘Ucapkanlah:

اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pengampun, Engkau maha menerima maaf, senang menerima maaf, maka ampunilah diriku’.”

Keempat: Adapun terkait tindakan mengkhususkan satu malam di bulan Ramadhan bahwa ia merupakan lailatul qadar, maka hal semacam ini butuh dalil tersendiri. Akan tetapi, memang 10 hari terakhir lebih kuat kemungkinannya daripada malam-malam lainnya, serta malam 27 Ramadhan lebih kuat diduga sebagai lailatul qadar; berdasarkan hadits-hadits yang menunjukkan hal tersebut.

Kelima: Amalan bid’ah apa pun bentuknya tidak boleh dikerjakan oleh seorang muslim, entah itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat amalan baru bukan bersumber dari kami, maka ia tertolak.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak pernah kami contohkan, maka ia tertolak.”

Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada beberapa malam Ramadhan dengan mengadakan beragam perayaan, kami tidak mengetahui dalilnya, sedangkan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruknya perkara ialah amalan yang dibuat-buat.

Semoga Allah memberikan kita taufiq.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/48965

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here