Bagaimana Menyatukan Kaum Muslimin dalam Memulai dan Mengakhiri Ramadhan?

0
94

Pertanyaan:

Kenapa umat Islam tidak bersatu dalam menentukan awal  dan akhir dari bulan Ramadhan? Dan bagaimana supaya hal itu bisa tercapai?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tidak diragukan lagi bahwa persatuan umat Islam dalam berpuasa maupun berbuka adalah hal yang sangat diinginkan dan merupakan tuntutan syariat untuk direalisasikan sedapat mungkin. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa dicapai kecuali dengan dua hal:

Pertama: Harus menganulir pendapat para ulama yang hanya bersandar kepada hisab (perhitungan astronomi) untuk kemudian mengamalkan rukyat (melihat bulan sabit) sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi awal umat ini mencukupkan diri dengan menggunakan rukyat, atau menyempurnakan bilangan bulan menjadi tiga puluh hari sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang shahih.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Fatawa juz 25 hal. 132-133 bahwa:

Para ulama sepakat tidak boleh hanya bersandarkan kepada hisab (perhitungan astronomi semata) dalam menentukan awal dan akhir dari puasa atau yang semisalnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil dalam kitab Fath al-Bari, 4/127, dari al-Baji,

“Konsensus (ijma’) para ulama’ salaf bahwa tidak boleh berpatokan kepada hisab. Dan ijma’ mereka adalah dalil untuk umat setelahnya.”

Hal kedua: Mereka hendaknya berpedoman dengan penetapan rukyat di negara Islam manapun yang menerapkan syariat Islam. Ketika terbukti di negara itu bahwa hilal telah terlihat dengan bukti-bukti syar’i baik terkait dengan awal atau akhir puasa, maka mereka harus mengikuti itu. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ ، وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ

 “Berpuasalah ketika telah melihat bulan sabit, dan berbukalah ketika melihatnya. Kalau ada awan, maka lengkapilah bilangan bulan (menjadi tiga puluh).”

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya:

إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا وهكذا وأشار بيده ثلاث مرات وعقد إبهامه في الثالثة (والشهر هكذا وهكذا وهكذا) وأشار بأصابعه كلها

“Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak berhitung. Bulan itu begini, begini dan begini,” sambil menunjukkan tangannya tiga kali dan yang terakhir ibu jarinya digenggam. “Bulan itu begini, begini dan begini,” sambil berisyarat dengan seluruh jemari tangannya.”

Maksudnya adalah bahwa bilangan bulan itu dua puluh sembilan atau tiga puluh.

Hadits-hadits seputar masalah ini banyak sekali seperti hadits Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Hudzaifah bin Yaman serta yang lainnya radhiallahu ‘anhum. Sebagaimana diketahui bahwa pesan ini bukan hanya ditujukan kepada penduduk Madinah saja, akan tetapi juga termasuk seluruh umat, setiap waktu semua kota sampai hari kiamat.

Ketika terpenuhi kedua syarat ini, maka akan terjadi persatuan umat Islam di seluruh Negara Islam dalam masalah berpuasa dan berbuka bersama.

Ada banyak hadits yang semakna dengan ini, seperti hadits Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Hudzaifah bin Yaman serta yang lainnya radhiallahu ‘anhum. Sebagaimana diketahui bahwa perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya ditujukan kepada penduduk Madinah pada saat itu, akan tetapi kepada seluruh umat di setiap masa dan tempat sampai hari kiamat. Ketika dua kondisi ini terpenuhi, maka semua negara muslim akan dapat berpuasa bersama dan berbuka puasa bersama.

Kita memohon kepada Allah agar mereka mendapatkan taufiq untuk melaksanakan hal itu, dan memberi mereka kekuatan untuk menerapkan syariat Islam dan berpaling dari orang-orang yang mengingkarinya. Tidak diragukan bahwa hal itu merupakan kewajiban bagi mereka untuk melakukannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمً

 “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya“. (QS. Al-Nisaa’: 65).

Tidak diragukan lagi bahwa menerapkan hukum Islam dalam segala urusan akan memberi kemaslahatan dan keselamatan bagi mereka, mempersatukan kekuatan mereka, dan kemenangan atas musuh-musuh mereka serta kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Kita memohon kepada Allah agar membuka hati mereka untuk bisa merealisasikan hal tersebut. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mahadekat.

(Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah , 15/74 – 76).

Sumber: https://islamqa.info/ar/106498

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here