Bagaimana Menyikapi Perbedaan Mathla’?

0
115

Pertanyaan:

Kami adalah sekumpulan pelajar muslim yang tinggal di luar negeri. Setiap kali memasuki awal bulan Ramadhan kami diperhadapkan pada satu masalah yang menyebabkan kaum muslimin terpecah menjadi tiga kelompok:

  1. Kelompok yang memulai puasa Ramadhan dengan berpatokan pada hilal di negeri tempat mereka tinggal.
  2. Kelompok yang berpuasa Ramadhan mengikuti Saudi Arabia.
  3. Kelompok yang mulai puasa ketika telah sampai berita bahwa hilal telah terlihat oleh perkumpulan pelajar muslim di wilayah Amerika Serikat dan Kanada yang selalu mengamati hilal di beberapa tempat berbeda di Amerika. Segera setelah terlihatnya hilal di salah satu negeri bagian maka mereka menyebarkan informasi itu ke berbagai pusat Islam sehingga kaum muslimin Amerika dapat secara serentak memulai puasa Ramadhan. Meskipun jarak anatara satu negara bagian dengan negera bagian lainnya sangat berjauhan.

Pertanyaannya: kelompok manakah yang mesti diikuti agar kami memulai puasa berdasarkan pada rukyat dan informasi mereka?

Jawaban:

Pertama: Perbedaan mathla’ (tempat terbitnya) hilal adalah perkara yang sudah dimaklumi bersama secara indrawi maupun logika. Semua ulama sepakat dalam hal ini. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam menetapkan apakah perbedaan mathla’ itu mempengaruhi penetapan waktu memulai puasa atau tidak.

Kedua: Masalah perbedaan mathla’ termasuk masalah teoritis yang membuka ruang berijtihad. Perbedaan pendapat dalam masalah ini wajar terjadi di kalangan para ulama dan yang berilmu. Siapa yang pendapatnya benar akan mendapat dua pahala yaitu pahala ijtihad dan pahala dari kebenaran ijtihadnya. Sementara orang yang salah mendapat satu pahala, yaitu pahala ijtihad.

Para ulama berbeda pandangan dalam masalah ini menjadi dua kubu:

Sebagian mereka berpendapat bahwa perbedaan mathla’ mempengaruhi penetapan waktu memulai puasa.

Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa perbedaan mathla’ sama sekali tidak berpengaruh.

Masing-masing pihak membawa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan bisa jadi mereka membawakan dalil yang sama. Misalnya mereka sama-sama berdalil dengan firman Allah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. al-Baqarah:189).

Atau sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berharirayalah juga karena melihatnya.”

Hal itu disebabkan perbedaan sudut pandang dalam memahami sebuah nash dan perbedaan dalam cara penyimpulan hukum dari sebuah dalil.

Ketiga: menanggapi masalah penetapan terbitnya hilal dengan ilmu hisab dan menelaah dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah yang digunakan untuk membenarkannya, dapat disimpulkan bahwa ilmu hisab tidak boleh dipakai untuk menetapkan waktu terbitnya hilal dalam seluruh perkara syariat. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berharirayalah juga karena melihatnya.”

Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

لا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه

           “Janganlah memulai puasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah berhari raya hingga kalian melihatnya.” Dan beberapa dalil lain yang semakna dengannya.

Karena itu, himpunan atau perkumpulan pelajar muslim (atau perkumpulan atau himpunan imigran muslim lainnya) yang tinggal di negara yang pemerintahannya bukan pemerintahan Islam hendaknya berperan sebagaimana peran pemerintah Islam; khusus dalam masalah penetapan hilal bagi kaum muslimin yang tinggal di negara tersebut.

Berdasarkan ketetapan di atas, maka himpunan pelajar muslim di atas berhak menetapkan salah satu dari kedua pendapat tersebut: yaitu pendapat yang menyatakan perbedaan mathla’mempengaruhi penetapan waktu memulai puasa (yang artinya: mereka memiliki awal dan akhir puasa sendiri-Edt), atau pendapat yang menyatakan perbedaan mathla’ tidak berpengaruh dalam masalah ini (yang artinya: mereka mengikuti negara lain yang telah melihat hilal-Edt). Kemudian setelah itu, menyebarkan pendapat yang dipilihnya untuk kaum muslimin di negara tersebut.

Hendaklah kaum muslimin di sana mematuhi pendapat yang telah dipilih dan disebarkan oleh himpunan pelajar tadi. Demi menjaga persatuan dan menyeragamkan waktu memulai puasa Ramadhan serta untuk menghindari perselisihan dan kekacauan.

Setiap penduduk muslim yang tinggal di sana hendaknya turut memantau terbitnya hilal. Jika ada seorang atau beberapa orang yang terpercaya mengaku telah melihat hilal hendaklah mereka segera memulai puasa dan menyampaikannya kepada perhimpunan dan perkumpulan imigran muslim tadi agar mereka dapat menyebarkan berita tersebut ke seluruh pelosok negeri. Ini dalam hal menetapkan awal puasa.

Adapun dalam menetapkan akhir puasa (hari raya) harus melalui persaksian dua orang yang terpercaya bahwa hilal bulan Syawal telah terlihat atau menetapkannya dengan menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan menjadi tiga puluh hari. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين يوماً

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berharirayalah juga karena melihatnya. Jika hilal terhalangi dari kalian maka sempurnakanlah bilangan bulan menjadi tiga puluh hari.”

Wallahu a’lam.

(Sumber: Fatawa al-Lajnah al-Daimah 10/109).

Sumber: https://islamqa.info/ar/1248

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here