Benarkah Dalam Al-Sunnah Disebutkan Bahwa Orang yang Meninggalkan Haji Tanpa Udzur, Maka Ia Mati Dalam Keadaan Yahudi atau Nasrani?

0
76

Soal:

Sejauh manakah keshahihan kedua hadits berikut ini:

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang ibadah hajinya tidak dihalangi oleh satu hajat yang tampak, atau penguasa yang zhalim, atau penyakit yang menahan, lalu ia mati dan belum sempat berhaji, maka hendaklah (ia memilih): mati sebagai Yahudi atau mati sebagai Nasrani.” (Diriwayatkan oleh al-Darimy dan al-Baihaqy).

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke Baitullah, namun ia tidak berhaji, maka ia tidak usah bersusah-susah (untuk) mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzy dan al-Bazzar)?

Jawaban:

Pertama:

Al-Darimy (no. 1826), al-Baihaqy dalam “al-Syu’ab” (no. 3693), Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah” (9/21), dan Ibnu al-Jauzy dalam “al-Tahqiq” (2/118), dari jalur Syarik, dari Laits, dari ‘Abdurrahman bin Sabith, dari Abu Umamah, ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang ibadah hajinya tidak dihalangi oleh satu hajat yang tampak, atau penguasa yang zhalim, atau penyakit yang menahan, lalu ia mati dan belum sempat berhaji, maka hendaklah (ia memilih): mati sebagai Yahudi atau mati sebagai Nasrani.”

Sanad riwayat ini dha’if. Laits adalah Ibnu Abi Sulaim, ia seorang yang dha’if. Didha’ifkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, al-Nasa’i dan ulama lainnya. (Lih: al-Mizan, 3/420)

Syarik adalah Ibnu ‘Abdillah al-Qadhy. Ia juga dha’if, hafalannya buruk. Ia didha’ifkan oleh al-Qaththan, Ibnu al-Mubarak, Ibnu Ma’in, al-Jauzajani, dan ulama lainnya. (Lih: al-Mizan, 3/270)

Periwayatan ini diselisihi oleh Abu al-Ahwash Sallam bin Sulaim, yang meriwayatkannya dari Laits, dari ‘Abdurrahman bin Sabith, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:…-lalu ia menyebutkan hadits ini secara mursal”. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/305).

Juga diriwayatkan oleh al-Tsaury dari Laits. Dikeluarkan oleh al-Khallal dalam al-Sunnah (5/46).

Riwayat ini lebih shahih dibandingkan riwayat tadi, meskipun tetap dha’if, disebabkan lemahnya Laits dan juga karena riwayatnya mursal.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

“Laits itu dha’if. Dan Syarik itu hafalannya buruk. Lalu Sufyan al-Tsaury menyelisihinya dengan meriwayatkan hadits ini secara mursal. Ahmad meriwayatkannya dalam Kitab al-Iman karyanya, dari Waki’, dari Sufyan, dari Laits, dari Ibnu Sabith, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa sallam: ‘Barang siapa yang ibadah hajinya tidak dihalangi oleh satu penyakit yang menahan, atau penguasa yang zhalim, atau hajat yang jelas….’ Lalu ia menyebutkan lanjutannya secara mursal. Begitu pula yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Abu al-Ahwash, dari Laits secara mursal.” (Lih: al-Talkhish al-Habir, 2/486)

Ibnu al-Qaisarany mengatakan:

“Riwayat ini diriwayatkan oleh ‘Ammar bin Mathar al-Rahawy, dari Syarik, dari Manshur, dari Salim bin Abi al-Ja’ad, dari Abu Umamah. Namun ini tidak dikenali (sebagai riwayat yang shahih-penj). Masalahnya ada pada ‘Ammar al-Rahawy ini.” (Lih: Dzakhirah al-Huffazh, 4/2407)

‘Ammar yang dimaksud ini, tentangnya Abu Hatim al-Razy mengatakan: “Ia pernah berdusta.”

Ibnu ‘Adiy berkata: “Hadits-haditsnya semuanya batil.” (Lih: Mizan al-I’tidal, 3/170).

Ibnu al-Qaisarany mengatakan:

“(Ini) juga diriwayatkan oleh Nashr bin Muzahim al-Kufy, dari al-Tsaury, dari Laits, dari Ibnu Sabith, dari Abu Umamah. Namun ini tidak diketahui (sebagai riwayat yang shahih-penj). Penyakitnya ada pada Nashr ini.” (Lih: Dzakhirah al-Huffazh, 4/2407)

Nashr bin Muzahim ini, tentangnya al-Dzahaby mengatakan dalam al-Mizan (5/253): “Ia seorang rafidhah tulen. Mereka (para perawi hadits) meninggalkannya.”

Abu al-Hasan al-Na’aly meriwayatkan dalam Juz’unya (hal. 71), dari jalur Muhammad bin ‘Abdillah al-Asynani, (ia mengatakan): “Telah menyampaikan kepada kami: Ahmad bin Hanbal, (ia mengatakan): ‘Telah menyampaikan kepada kami: Muhammad bin Ja’far, (ia mengatakan) telah mengabarkan pada kami: Syu’bah, dari Simak bin Harb, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud, dari ayahnya secara marfu’.”

Tentang al-Asynani tersebut, al-Daraquthni mengatakan: “Ia seorang dajjal.” Al-Khathib mengatakan: “Ia pernah membuat hadits palsu.” (Lih: Lisan al-Mizan, 5/228)

Sementara al-Na’aly –penyusun kitab Juz’u tersebut-, al-Khathib mengatakan tentangnya: “Ia seorang Rafidhah, suka mencari-cari hal-hal yang aneh dan mungkar.” (Lih: Tarikh Baghdad, 5/383).

Kedua:

Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi (no. 812), al-Thabary dalam Tafsirnya (6/41), al-Bazzar (no. 861), al-Baihaqy dalam al-Syu’ab (no. 3692), Ibnu al-Jauzy dalam al-Maudhu’at (2/209), dari jalur Hilal bin ‘Abdillah, maula (budak) Rabi’ah bin ‘Amr bin Muslim al-Bahiliy, ia mengatakan: “Kami diberitahu oleh Abu Ishaq al-Hamdany, dari al-Harits, dari ‘Ali, ia mengatakan:

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah namun tidak berhaji, maka ia tidak usah berpayah-payah untuk mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Itu karena Allah mengatakan di dalam KitabNya: ‘Dan menjadi kewajiban manusia kepada Allah untuk berhaji ke Baitullah, bagi siapa yang mampu menempuh jalannya.’” (Ali Imran: 97)

Al-Tirmidzi mengatakan sesudahnya: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Namun di dalam sanadnya ada perbincangan: Hilal bin ‘Abdillah seorang yang majhul (tidak dikenal), sementara al-Harits dilemahkan dalam masalah hadits.”

Tentang Hilal ini, al-Bukhari mengatakan: “Haditsnya mungkar.” Al-Tirmidzi mengatakan: “Ia seorang yang majhul.” Ibnu ‘Adiy mengatakan: “Ia dikenal dengan riwayat hadits ini, namun ia tidak dikenal (sebagai riwayat yang shahih).” Al-Hakim Abu Ahmad mengatakan: “Menurut mereka (para ulama hadits) ia tidak kuat.” (Lih: Tahdzib al-Tahdzib, 11/82)

Adapun al-Harits adalah al-Harits bin ‘Abdillah al-A’war, masyhur dengan kelemahannya. Ia didustakan oleh al-Sya’biy dan Ibnu al-Madiny. (Lih: al-Tahdzib, 2/145).

Hadits ini juga memiliki beberapa jalur yang lain, namun semuanya tidak lepas dari kelemahan.

Hadits ini juga didha’ifkan oleh banyak ulama. Al-Thabary mendha’ifkannya dalam Tafsirnya (6/45), Ibnu al-Jauzy dalam al-Maudhu’at (2/210), al-Mundziry dalam al-Targhib wa al-Tarhib (2/137), Ibnu ‘Abd al-Hadi dalam al-Tanqih (3/404), al-Haitamy dalam al-Zawajir (1/330). Al-Nawawi juga menghikayatkan kelemahannya. Al-Albani juga mendha’ifkannya dalam Dha’if al-Tirmidzi.

Namun redaksi ini diriwayatkan secara shahih sebagai perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

“Abu Bakr al-Isma’iliy al-Hafizh dari hadits Abu ‘Amr al-Auza’iy meriwayatkan: ‘Telah menyampaikan kepadaku Isma’il bin ‘Ubaidullah bin Abi al-Muhajir, (ia mengatakan) telah menyampaikan kepadaku ‘Abdurrahman bin Ghanm, bahwa ia mendengarkan Umar bin al-Khaththab berkata:

‘Siapa yang yang mampu berhaji namun ia tidak berhaji, maka sama saja baginya: apakah mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.’ Dan ini sanadnya shahih sampai kepada Umar radhiyallahu ‘anhu.” (Lih: Tafsir Ibn Katsir, 2/85)

Kesimpulannya adalah bahwa kedua hadits ini tidak shahih.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/235262

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here