Benarkah Pendapat Yang Mengatakan: Orang Sakit Dan Musafir Harus Berbuka?

0
54

Pertanyaan:

Apa pendapat Anda terhadap pendapat yang mengatakan bahwa seorang yang sakit dan musafir wajib membatalkan puasanya dan mengqadha’nya pada hari yang lain, serta tidak boleh bagi mereka menjalankan ibadah puasa? Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Menurut mereka berdasarkan ayat ini: yang menjadi kewajiban bagi mereka adalah mengqadha’ puasa. Maka di sini dipahami bahwa orang sakit dan musafir tidak boleh berpuasa.

Jawaban:

Seorang yang sakit dan musafir yang berat melakukan puasa diberi keringanan untuk membatalkan puasanya. Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Akan tetapi, jika mereka menjalankan ibadah puasa, maka puasa mereka sah. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Hamzah bin Amr al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bolehkah aku berpuasa ketika safar?” Beliau adalah seorang laki-laki yang banyak melakukan puasa. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika engkau ingin maka berpuasalah dan jika engkau ingin maka batalkanlah.” (Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa orang imam).

Akan tetapi, jika mereka khawatir atas diri mereka jika mereka berpuasa, maka hendaklah mereka membatalkan puasa. Berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasnya ia berkata:

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan safar, maka beliau melihat ada sekumpulan orang dan seorang laki-laki yang berteduh, hingga beliau bersabda: “Ada apa dengannya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya ia berpuasa.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bukanlah perkara yang baik berpuasa dalam keadaan safar.”

Keringanan untuk tidak berpuasa bagi musafir sifatnya lebih utama secara mutlak. Hal ini berdasarkan hadits Hamzah bin Amr al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Aku merasa kuat untuk melaksanakan puasa, apakah hal itu tidak apa-apa bagiku?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya ia merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah Azza wa Jalla, siapa yang melakukannya maka itu adalah kebaikan. Dan barangsiapa yang ingin berpuasa, maka tidak apa-apa baginya.”.(HR. Muslim)

Adapun ayat dalam surah al-Baqarah yang disebutkan kepada, maka maknanya adalah: “Barangsiapa diantara kalian sakit atau berada dalam kondisi safar, lalu ia berbuka maka hendaklah ia menggantinya pada hari-hari yang lain.” Sehingga ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kewajiban atau keharusan berbuka dan membatalkan puasanya. (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah: 9/83)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/129948

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here