BERIHRAM DARI MIQAT ADALAH SALAH SATU KEWAJIBAN DALAM HAJI

  • 1 min read
  • Aug 16, 2018
Miqat

Soal:

Kami berangkat umrah menggunakan bis. Namun sopir bus tidak memperhatikan posisi miqat kecuali setelah terlewat sejauh 100 km. Tapi ia menolak untuk kembali dan tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Jeddah. Maka apa yang harus kami lakukan dalam kondisi seperti ini?

Jawaban:

Menjadi kewajiban sang sopir untuk berhenti di miqat agar para penumpangnya dapat berihram di situ. Maka jika dia lupa dan tidak mengingatnya kecuali setelah lewat 100 km –sebagaimana disebutkan oleh penanya-, maka ia harus pulang kembali agar mereka dapat berihram dari miqat; karena ia tahu bahwa mereka ingin melakukan umrah atau berhaji. Namun jika ia tidak melakukan itu dan para jamaah melakukan ihram dari posisi terakhir mereka –yaitu setelah melewati 100 km-, maka setiap jamaah berkewajiban membayar fidyah yang disembelih di Mekkah lalu dibagikan kepada kaum fakir, karena mereka telah meninggalkan salah satu kewajiban dalam rangkaian manasik haji ataupun umrah.

Dalam kondisi seperti ini, jika mereka memperkarakan sang sopir, maka mungkin Mahkamah/Pengadilan akan mewajibkannya membayar ganti rugi atas hewan fidyah (yang para jamaah keluarkan), karena dialah yang menyebabkan kerugiannya. Hal ini berpulang kepada pandangan hakim/qadhi, sebab memungkin baginya untuk mengharuskan sang sopir membayar nilai fidyah kepada para jamaah, akibat kelalaiannya ditambah pengabaiannya terhadap hak para jamaah untuk kembali ke miqat untuk berihram.”

(Fatwa Syekh Muhammad ibn ‘Utsaimin dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hal. 218)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/111880