Berihram Setelah Melewati Miqat, Adakah Kewajiban Atas Saya?

  • 3 min read
  • Aug 16, 2018

Soal:

Kapankah seseorang dikatakan telah melewati miqat, dan seberapa jauh jarak yang (tidak) diperbolehkan melewati miqat? Apakah jika saya melewati 50 atau 80 meter dari miqat baru kemudian saya berniat, berarti saya telah dianggap melewatinya atau tidak?  Saya meninggalkan kampung halaman saya menuju Mekkah untuk umrah. Dari dalam hati saya sudah berniat untuk umrah, namun saya tidak melafazhkan kalimat “labbaika Allahumma umratan” kecuali setelah melewati menara Mesjid Miqat sekitar 50 meter. Apakah saya harus membayar sesuatu untuk itu?

 Jawaban:

Pertama,

Siapa yang ingin berhaji atau berumrah, maka ia tidak boleh melewati miqat tanpa berihram. Dan yang dimaksud berihram adalah berniat untuk masuk dalam manasik (prosesi ibadah) haji atau umrah.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Niat manasik artinya niat untuk mulai memasuki prosesi ibadah tersebut, bukan (sekedar) berniat mau umrah atau haji. Ada perbedaan antara kedua hal itu. Karena –misalnya- bila seseorang ingin berhaji tahun ini, apakah itu berarti ia sudah berihram dengan niat itu?

Jawabannya tentu saja tidak, karena ia belum berniat masuk dalam prosesinya.

Begitu pula jika kita ingin melakukan shalat isya. Maka apakah dengan niat itu kita sudah dianggap telah masuk dalam ritual shalat dan kita tidak boleh mengerjakan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang yang shalat?

Jawabannya tentu tidak. Dengan demikian, maka niat (baca: keinginan) mengerjakan tidaklah berpengaruh, tapi niat untuk mulai masuk mengerjakan itulah yang berpengaruh. Dan dalam manasik haji atau umrah, niat untuk mulai masuk mengerjakan itu disebut “ihram”; karena jika ia telah berniat untuk masuk mulai mengerjakan prosesi manasik, maka ia telah mengharamkan untuk dirinya apa yang sebelum ihram masih boleh dilakukannya. Ia –misalnya- tidak boleh lagi melakukan rafats, memakai wewangian, mencukur rambut, berburu dan yang lainnya…

Maka harus ada niat untuk mulai memasuki ritual manasik (haji/umrah). Jadi bila ia mengucapkan talbiyah tanpa berniat untuk mulai masuk mengerjakan, maka ia tidak dianggap telah berihram hanya dengan sekedar mengucapkan talbiyah, meskipun telah mengenakan pakaian ihram jika ia tidak meniatkan untuk mulai masuk mengerjakan rangkaian manasiknya; karena sekedar berpakaian ihram tidak otomatis menjadikannya sebagai orang yang telah berihram.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’, 7/60-69)

Atas dasar ini, maka siapa yang berniat umrah atau telah bertalbiyah tanpa berniat untuk mulai masuk mengerjakan rangkaian manasiknya, maka ia belum dianggap telah berihram.

Kedua:

Tidak ada penjelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberikan batasan jarak tertentu untuk setiap miqat, dimana siapa yang melewati jarak tersebut ia harus kembali dan jika tidak kembali maka ia harus membayar dam. Beliau hanya menyebutkan nama-nama tempat yang dikenali untuk menjadi tempat seseorang berihram.

Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1530) dan Muslim (no. 1181), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam di Juhfah, untuk penduduk Nejd di Qarn al-Manazil, dan untuk penduduk Yaman di Yalamlam…”

Syekh Muhammad bin Ibrahim Alu Syekh rahimahullah menjelaskan:

“Nama-nama tempat miqat ini adalah nama-nama yang dikenal dan popular bagi para penduduknya, atau yang bertetangga dengan wilayah itu, atau yang (datang dari wilayah) lain. Hanya saja para penduduknya dan dekat dengan mereka memiliki informasi dan wawasan yang lebih detil tentang tempat-tempat tersebut yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan jarak dan batasan antara tempat-tempat itu dengan wilayah al-Haram (Mekkah); baik dengan ukuran mil atau yang semacamnya…Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak memberikan batasan atau gambaran tertentu tentang tempat-tempat itu. Beliau hanya mencukupkan dengan menyebut nama-namanya saja…” (Lih: Fatawa wa Rasa’il al-Syaikh Muhammad ibn Ibrahim, 5/209).

Para ulama menyebutkan bahwa semua miqat itu adalah lembah-lembah yang besar.

Syekh Abdullah al-Bassam mengatakan: “Semua miqat untuk berihram itu adalah lembah-lembah yang besar.” (Lih: Taisir al-‘Allam, hal. 362)

Dan seorang yang berihram boleh melakukan ihram dari miqat mana saja, bahkan meskipun ia berihram dari batas terdekat dari miqat itu dengan Mekkah.

Ibnu al-Qasim rahimahullah dalam Hasyiyah al-Raudh al-Murbi’ (3/529) mengatakan:

“Dan jika ia berihram dari ujung terdekat (miqat dengan Mekkah-penj), maka itu boleh, karena ia tetap (dianggap) berihram dari miqat, karena tempat itu masih tepat dinamai begitu dan yang menjadi patokan adalah wilayah (miqat tersebut).”

Atas dasar penjelasan tersebut, maka yang menjadi patokan (dalam berihram) bukanlah mesjid dimana miqat itu ditetapkan. Yang menjadi patokan adalah tempat/wilayah yang masih bisa dinamai dengan nama daerah miqat tersebut. Sehingga tidak diragukan bahwa melewati mesjid miqat itu sejauh 50 meter tidaklah berpengaruh dan tidak bisa dianggap telah melewati miqat, karena lembah (miqat) itu terbentang sesudah mesjid dalam jarak yang lebih jauh daripada itu.

Atas dasar itu:

Maka jika Anda telah berihram untuk manasik (umrah) dan berniat untuk mulai memasuki ritualnya setelah menempuh jarak tersebut –atau yang mendekatinya-, maka itu tidak mengapa in sya’aLlah. Umrah Anda sah dan Anda tidak harus membayar (denda) apapun.

Sumber: https://islamqa.info/ar/240422