Berjabat Tangan Dengan Bukan Mahram, Membatalkan Puasa?

0
96

Apakah hukum menyentuh wanita di bagian telapak tangan pada bulan Ramadhan sehingga keluar mani?

Jawaban:

Pertama:

Menyentuh wanita asing (bukan mahram) diharamkan, baik di bulan Ramadhan atau selain bulan Ramadhan. Hukumnya sama saja antara menyentuh dengan telapak tangan saja atau yang lebih parah dari itu, berdasarkan sabda nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ تَمَسَّهُ امْرَأَةٌ لَا تَحِلُّ لَهُ

Artinya :

“Ditusuknya kepala seseorang diantara kalian dengan jarum yang terbuat dari besi lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. (Diriwayatkan oleh al-Thabarany dalam Al-Kabir (486), dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Al-Jami’ (5045)).

Maksiat-maksiat secara umum (diantaranya: menyentuh wanita) lebih ditekankan keharamannya, lebih besar dosanya, dan mengurangi pahala puasa. Sampai-sampai seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan manfaat dari puasanya, kecuali lapar dan haus. Oleh karena itu, wajib bagi orang yang berpuasa untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Hendaknya seorang mukmin memanfaatkan momen Ramadhan untuk memperbaiki keadaannya, bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan, berserah diri kepada Allah, dan tidak menjadikan momen berpuasa sama seperti hari-hari biasa.

Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma berkata:

“Apabila engkau berpuasa, maka hendaklah ikut berpuasa juga pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari kedustaan dan perbuatan haram. Janganlah mengganggu tetangga, bersikaplah lembut dan tenang saat engkau berpuasa. Janganlah engkau menjadikan hari engkau tidak berpuasa sama dengan hari ketika engkau berpuasa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (1308)).

 

Kedua:

Apabila seorang lelaki mengeluarkan mani pada siang hari Ramadhan, karena sebab pandangan, sentuhan, atau masturbasi, maka puasanya menjadi batal tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama. Dan wajib atasnya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan tetap berpuasa di waktu yang tersisa, serta mengqadha puasa yang batal pada hari itu. (Lihat: al-Mughny oleh Ibnu Qudamah 4/361).

Adapun mimpi basah dan keluarnya mani pada saat berpuasa dengan tanpa syahwat, sebagaimana juga jika mani keluar karena sebab penyakit, maka hal ini tidak mempengaruhi puasa. Karena jika keluarnya mani tanpa rasa nikmat di siang hari Ramadhan, maka itu tidak memperngaruhi puasa dan tidak ada kewajiban untuk mengqadhanya. (Lihat: Fatwa Al-Lajnah Al-Daimah 10/278).

Wallaahu a’lam

 

Link : https://islamqa.info/ar/38153

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here