Berpuasa Di Belanda Ikut Negara Mana?

  • 2 min read
  • May 14, 2018

Pertanyaan:

Saya tinggal di Belanda sementara masyarakat muslim di sini berbeda pendapat tentang penetapan awal Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa mengikuti Mesir, ada pula yang menunggu pengumuman dari Saudi. Bagaimana seharusnya sikap yang benar?

Jawaban:

Pertama: Masuknya Ramadhan tidak dapat ditetapkan secara syar’i kecuali dengan rukyatul hilal (melihat bulan), berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

 صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena meihatnya (hilal Ramadhan) dan berlebaranlah karena melihatnya (hilal Syawal).”

Perhitungan astronomi tidak dapat dijadikan pedoman dalam menentukan masuknya Ramadhan.

Tidak ada keraguan bahwa tempat terbitnya bulan berbeda-beda antara satu negeri dengan negeri lainnya, khususnya jika negeri-negeri tersebut berjauhan. Perselisihan ini bukan dalam hal berbedanya tempat terbit hilal, karena hal ini tidak ada yang membantahnya. Tetapi yang menjadi perbedaan pendapat adalah apakah perbedaan tempat terbitnya hilal berpengaruh bagi penetapan awal Ramadhan antara satu negeri dengan negeri lainnya atau tidak?

Kedua: Kaum muslimin yang tinggal di negeri-negeri non Islam, jika di sana ada lembaga syariah atau sebuah majelis yang menjadi rujukan mereka yang berpedoman pada rukyatul hilal dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan, maka para ulama telah berfatwa bahwa lembaga tersebut menggantikan posisi pemerintah Islam bagi mereka. Maka mereka wajib mengikuti ketetapan mereka dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Adapun jika di sana tidak terdapat lembaga syariah, maka tidak mengapa bagi mereka mengikuti negara yang menjadikan rukyatul hilal sebagai standar, bukan yang mengandalkan perhitungan astronomi (atau hisab) semata. Sehingga mereka berpuasa dan berlebaran mengikuti negara tersebut.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang tinggal di Spanyol pada bulan Ramadhan tetapi berpuasa mengikuti puasa penduduk Haramain (Arab Saudi).

Beliau menjawab, “Berkaitan dengan yang Anda sebutkan bahwa Anda berpuasa dan berlebaran mengikuti kami karena Anda tinggal di Spanyol pada hari-hari Ramadhan, maka tidak mengapa dan tidak berdosa bagi Anda dalam hal ini. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاثِينَ

 “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal Ramadhan) dan berlebaranlah karena melihatnya (hilal Syawal). Jika awan menghalangi kalian (untuk melihat hilal), maka sempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tigapuluh hari.”

Hal ini berlaku umum untuk seluruh umat, karena Negeri Haramain lebih patut untuk diikuti karena usaha mereka dalam berhukum dengan hukum syariat-, karena kalian tinggal di negeri yang tidak berhukum kepada syariat Islam dan penduduknya tidak peduli terhadap hukum-hukum Islam.” (Lihat: Majmu’ Fatawa, Ibn Baaz, 15/105).

Wallahu alam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50522