BERWUDHU LEBIH DARI 3 KALI: KELIRU TAPI TIDAK BATAL

0
80

Soal:

Apakah melebihkan basuhan dalam wudhu menjadi 4 kali adalah makruh? Atau apakah ia membatalkan wudhu secara keseluruhan, berdasarkan hadits: “Siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini apa yang tidak ada di dalamnya, maka ia tertolak”?

Saya telah membaca beberapa perkataan ulama yang menyatakan bahwa itu makruh saja. Namun saya bertanya-tanya: kenapa itu tidak membatalkan wudhu secara keseluruhan, selama ia adalah tambahan terhadap Syariat yang tidak ada di dalamnya?

Saya mohon penjelasan Anda tentang hukum orang yang mengerjakan ini secara sengaja, atau tidak tahu, atau karena was-was, atau mengira bahwa tambahan seperti itu dalam wudhu kemungkinannya sah?

 

Jawaban:

Pertama:

Yang disunnahkan dalam berwudhu adalah melakukannya sebanyak 3 kali, yaitu membasuh setiap anggota wudhu 3 kali, dan melebihkan dari 3 kali adalah perbuatan berlebihan dan melampaui batas.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 135), al-Nasa’i (no. 140) dan Ahmad (no. 6684), dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:

“Seorang arab badui datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyainya tentang wudhu, lalu beliau memperlihatkannya (cara) berwudhu tiga-tiga kali. Lalu beliau bersabda:

هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

‘Demikianlah (cara) berwudhu. Maka siapa yang melebihkan dari ini, maka ia telah keliru, berlebihan dan melampaui batas.’”

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Para ulama telah berijma’ tentang dimakruhkannya menambah (wudhu) lebih dari 3 kali. Yang dimaksud dengan ‘tiga kali’ adalah yang mencakupi semua anggota wudhu. Adapun jika ia tidak meliputi anggota wudhu kecuali dengan 2 cedukan tangan, maka itu dianggap satu basuhan. Jika ia ragu: apakah ia telah membasuh 3 atau 2 kali, maka ia menganggap baru membasuh 2 kali lalu mengerjakan yang ketiga. Inilah yang benar, yang dinyatakan oleh Jumhur ulama kami. Syekh Abu Muhammad al-Juwainy dari kalangan ulama kami: ‘(Hendaknya) ia menjadikannya 3 kali dan tidak melebihkannya agar tidak jatuh dalam melakukan bid’ah saat menambahnya (menjadi) 4 kali. Yang pertama (3 kali) sesuai dengan kaidah-kaidah (Fiqih), dan yang keempat itu menjadi bid’ah dan makruh jika ia sengaja melakukannya 4 kali.” (Lih: Syarh al-Nawawi ‘ala Muslim, 3/109)

Al-Syaukani rahimahullah mengatakan:

“Tidak ada perbedaan pendapat tentang dimakruhkannya melakukan tambahan lebih dari 3 kali. Ibnu al-Mubarak mengatakan: ‘Saya khawatir jika ia menambah wudhunya lebih dari 3 kali ia akan berdosa.’ Ahmad dan Ishaq mengatakan: ‘Tidak menambah wudhu lebih dari 3 kali kecuali orang yang ditimpa musibah (baca: penyakit was-was-penj).’” (Lih: Nail al-Authar, 1/218)

Syekh Ibn Baz rahimahullah mengatakan:

“Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh melakukan tambahan atas yang telah sempurna yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu 3 kali; yaitu dengan meratakan air wudhu sebanyak 3 kali, (dalam hal ini) yang dimaksud bukanlah (sekedar tiga) cedukan, tapi (tiga) basuhan. Maka jika ia menceduk air 2 kali untuk setiap basuhan, berarti ia harus (menceduk) 6 kali; dan itu artinya ia tidak melakukan kesalahan. Yang melakukan kesalahan itu adalah orang yang telah membasuh sempurna anggota wudhunya, lalu mengulanginya lebih dari 3 kali.

Tapi jika ia misalnya membasuh kakinya dengan 1 cedukan, namun basuhannya belum sempurna hingga membutuhkan cedukan kedua hingga basuhan kaki itu sempurna, lalu setelah itu membasuhnya dua lalu tiga kali hingga jumlah cedukan lebih (dari 3 kali), maka itu tidak masalah. Yang penting basuhan itu sempurna satu kali, lalu dua kali, lalu kali ketiga, kemudian ia tidak lagi menambah lebih dari 3. Demikian pula pada wajah, juga tangan.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, 5/46)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Tambahan lebih 3 kali dalam berwudhu termasuk perbuatan yang melampaui batasan Allah. Allah Ta’ala telah mengatakan:

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

‘Dan barangsiapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka sungguh ia telah menzhalimi dirinya sendiri.’” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, 2/7)

 

Kedua:

Tambahan ini meskipun disepakati para ulama sebagai hal yang terlarang, hanya saja ia tidak membatalkan bersuci (wudhu). Karena wudhu itu terjadi secara sah dengan 3 kali, sementara tambahannya meskipun terjadi namun tertolak tapi tidak membatalkannya.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Jika ia melebihkan dari 3 kali, maka ia telah melakukan hal yang makruh namun tidak membatalkan wudhunya. Inilah madzhab kami dan madzhab para ulama semuanya. Al-Darimy menyebutkan dalam al-Istidzkar dari sejumlah (ulama) bahwa itu membatalkan wudhu, sebagaimana jika ia menambah dalam shalatnya. Namun ini adalah sebuah kesalahan yang jelas.” (Lih: al-Majmu’, 1/440)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

“Pendapat paling shahih di kalangan Syafi’iyyah adalah bahwa itu dimakruhkan secara tanzih. Al-Darimy meriwayatkan dari mereka, dari sejumlah ulama: bahwa tambahan lebih dari 3 kali itu membatalkan wudhu, sama dengan tambahan dalam shalat. Namun itu adalah qiyas yang keliru.” (Lih: Fath al-Bary, 1/234)

Syekh Ibn Qasim rahimahullah mengatakan:

“Lebih dari satu ulama yang berpendapat bahwa jika ia menambah lebih dari 3 kali, maka ia telah melakukan yang makruh namun tidak membatalkan wudhu secara ijma’.” (Lih: Hasyiyah al-Raudh al-Murbi’, 1/175)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini yang tidak termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Maka yang dimaksud “tertolak” di sini adalah apa yang ditambahkan dan diada-adakan, yaitu basuhan keempat. Penjelasannya adalah bahwa basuhan anggota wudhu 3 kali itulah yang sunnah, karena itu yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika ia menambahkan basuhan keempat, berarti ia telah menambahkan lebih dari al-Sunnah, dan ia adalah tambahan yang tertolak. Sehingga wudhunya menjadi sah dengan ketiga basuhan itu, dan basuhan keempat ditolak sehingga ia tidak termasuk dalam bagian wudhu yang disyariatkan.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Jika seseorang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kadar tambahan atas (ketetapan) Syariat, maka itu tidak diterima. Contohnya: seorang pria yang berwudhu 4 kali –artinya membasuh setiap anggota wudhu 4 kali-, maka yang keempat itu tidak diterima, karena ia adalah tambahan yang melebihi ketetapan Syariat. Bahkan terdapat dalam hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu 3 kali, lalu berkata: ‘Siapa yang menambahkan lebih dari itu, maka ia telah melakukan kesalahan, melampaui batas dan berbuat zhalim’.” (Lih: Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah, hal. 99)

 

Ketiga:

Siapa yang melakukan basuhan keempat dengan sengaja, maka yang dilakukan ini adalah makruh dan tercela. Adapun jika ia menambahkan basuhan keempat karena lupa atau ragu atau tidak tahu, maka tidak ada kewajiban apapun atasnya. Telah dijelaskan pada penjelasan al-Nawawi rahimahullah yang membedakan antara orang yang sengaja melakukannya dan tidak.

Adapun orang yang (melakukannya) karena was-was, maka (kondisi) itu lebih dekat pada udzur, karena ia melakukan tambahan itu dalam keadaan ia seperti orang yang dikalahkan akal dan rasionya. Hanya saja ia berkewajiban menolak was-was itu semaksimal kemampuannya dan tidak menyerah.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Tidak diragukan lagi bahwa Syetanlah yang mendorong untuk was-was. Maka orang yang mengikuti was-was itu, berarti ia telah mematuhi Syetan, memenuhi panggilannya, mengikuti perintahnya dan menolak untuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalannya. Sampai-sampai seorang dari mereka beranggapan bahwa jika ia berwudhu seperti wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mandi seperti cara mandi beliau, maka ia belum suci dan hadatsnya belum terhapus. Seandainya bukan karena udzur akibat ketidaktahuan, maka perbuatan semacam ini adalah pembangkangan terhadap Rasul. Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu hanya dengan 1 mud (air) dan mandi dengan 1 sha’ (air). Sementara orang yang menderita was-was menganggap bahwa dengan sebanyak itu tidak cukup untuk membasuh kedua tangannya. Padahal diriwayatkan secara shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu satu-satu kali, dan tidak lebih dari 3 kali. Beliau bahkan menyampaikan bahwa: ‘Siapa yang menambahkan lebih dari itu, maka ia telah melakukan kesalahan, melampaui batas dan berbuat zhalim’.

Maka orang yang was-was telah melakukan kesalahan, melampaui batas dan zhalim berdasarkan kesaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana ia mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan apa yang salah dan melampaui batasan-batasannya?” (Lih: Ighatsah al-Lahfan, 1/127)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/225952

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here