Berzina Di Siang Hari Ramadhan, Tapi Takut Puasa 2 Bulan Berturut-Turut

  • 2 min read
  • May 15, 2018

Soal:

Saya seorang lelaki yang telah mencapai umur 36, dan saya telah terjatuh dalam suatu perbuatan buruk (zina) pada siang hari Ramadhan sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan saya belum mengetahui hukumnya pada saat itu.

Sekarang saya telah menikah, dan saya takut terjadinya masalah karena sebab puasa kafarat (yang saya lakukan). Apakah dibolehkan bagiku untuk memberi makan 60 orang miskin karena takut terjadinya masalah dalam keluarga?

Jawaban:

Pertama:

Ada tiga perkara yang wajib dilakukan oleh orang yang diuji dengan masalah di sana:

Pertama: Bertaubat kepada Allah dari kedua dosa besar yang luar biasa ini, yaitu zina dan berbuka pada siang hari Ramadhan dengan sengaja. Barangsiapa yang bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya dan mengganti perbuatan buruknya dengan kebaikan, sebagaimana firman Allah Subhanaahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً

Artinya:

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Furqan: 68-70).

Kedua: Mengqadha’ hari dimana ia berbuka.

Ketiga: Kafarat, yaitu membebaskan budak. Apabila ia tidak sanggup, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Apabila ia tidak sanggup, maka memberi makan enampuluh orang miskin, berdasarkan riwayat al-Bukhary (1936), dari Abu Hurairah beliau berkata:

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku telah binasa.’ Beliau bersabda: Ada apa denganmu? Dia berkata: ‘Aku menggauli istriku padahal aku sedang berpuasa (Ramadhan).’

Maka Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bertanya: Apakah engkau bisa mendapatkan seorang budak untuk dibebaskan?’ Dia berkata: ‘Tidak.’ Beliau bertanya: Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Dia berkata: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Apakah engkau bisa mendapatkan makanan untuk 60 orang miskin?’ Dia berkata: ‘Tidak.’

Maka Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam diam beberapa saat, dalam keadaan demikian Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam diberikan satu bejana kurma –satu miktal; yang dapat menampung 15 sha–. Lalu beliau bersabda: Mana orang yang bertanya?’ Dia berkata: ‘Aku.’ Beliau bersabda: Ambillah kurma ini dan sedekahkan.’ Dia berkata: ‘Apakah diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada satu keluarga di daerah antara dua batu hitam tersebut yang lebih fakir dari keluargaku.’

Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi beliau, kemudian beliau bersabda: Beri makanlah kurma itu kepada keluargamu.’”

Berkata Ibnu Al-Mundzir rahimahullaah:

“Kafarat diwajibkan bagi orang yang berjima’ di siang hari Ramadhan dengan sengaja, sampai ejakulasi atau tidak sampai ejakulasi berdasarkan pendapat para ulama secara umum.” (Lih: al-Mughny 3/60).

Dan kafarat ini dilakukan secara berurutan berdasarkan pendapat Jumhur ahli fikih, maka tidak diperbolehkan memberi makan bagi orang yang mampu untuk berpuasa.

Kedua:

Apabila engkau mampu untuk berpuasa, maka memberi makan tidaklah mencukupimu, dan tidak ada udzur bagimu karena takut dilihat oleh orang yang berada di sekitarmu. Memungkinkan saja bagimu untuk bernadzar menunaikan puasa kafarat, dan engkau mengabarkan kepada orang yang bertanya kepadamu bahwasanya engkau telah bernadzar untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turur, dan dengan hal ini kau bisa melepas beban dosa dari dirimu.

Ketiga:

Ketidaktahuanmu terhadap kewajiban kafarat pada saat itu tidak menggugurkan kewajiban kafarat atasmu, karena barangsiapa yang mengetahui keharaman sesuatu, dan tidak mengetahui akibatnya, maka ia tidak bisa diberi udzur karena ketidaktahuan itu.

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/275156

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *