BOLEHKAH KE JEDDAH TANPA IHRAM, LALU KEMBALI KE MIQAT UNTUK BERIHRAM?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Miqat

Soal:

Seorang wanita datang ke Saudi dan ingin menunaikan ibadah haji. Hanya saja sebelum berhaji, ia bermaksud untuk singgah di Jeddah terlebih dahulu untuk bertemu dengan suaminya yang sedang bekerja di Saudi.

Pertanyaannya:

  1. Apakah hukumnya jika saat di Jeddah terjadi hubungan suami-istri antara pasangan ini?
  2. Darimanakah wanita ini harus berihram pada Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) untuk berhaji?

Jawaban:

Jika kondisinya seperti yang Anda sebutkan, maka di hadapan ibu Anda ada 2 pilihan, ia dapat melakukan yang paling sesuai:

Yang pertama –dan ini yang paling utama-: ia berhaji secara tamattu’. Maka ia berniat untuk umrah saat melewati miqat, lalu ia datang ke Jeddah dalam keadaan beihram tanpa boleh melakukan hubungan suami-istri dengan suaminya, lalu pergi ke Mekkah. Bila ia telah selesai dari umrahnya, maka ia memotong rambutnya dan bertahallul, dan bolehlah bagi suaminya untuk menggaulinya selama keduanya tidak dalam keadaan berihram. Lalu pada hari ke 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah), ia kembali berihram dari tempatnya berada, baik itu di Mekkah ataupun di Jeddah.

(Pilihan) kedua: ibu Anda pergi ke Jeddah tanpa berihram, dan dalam kondisi ini suaminya boleh menggaulinya selama ia pun tak dalam keadaan berihram. Lalu ketika ia akan berhaji, ia pergi ke miqatnya untuk berihram haji dari sana.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya: tentang seorang melewati miqat secara sadar dan sengaja hanya karena ingin berehat. Misalnya: jika ia melewati Qarn al-Manazil agar dapat beristirahat di tempat kerabatnya, lalu kembali ke miqat dan berihram darinya. Apakah tindakan ini berdosa atau masalah ini diberikan kelapangan?

Beliau menjawab:

“Ya, perkara seperti ini diberikan kemudahan. Maksudnya: yang paling utama adalah jika ia tidak melewati miqat sampai ia dalam keadaan berihram, dan sangat memungkinkan jika ia beristirahat di tempat kerabatnya dalam keadaan berihram. Dan orang-orang tidak akan menganggap ini sebagai masalah atau hal yang memalukan. Tapi jika ia melakukannya dan mengatakan: ‘Saya akan berehat dulu sekarang, lalu nanti kembali ke Miqat dan berihram’, maka itupun tak mengapa.”

Penanya bertanya lagi: “Tapi bagaimana jika masa rehat itu selama 1 minggu?”

Syekh menjawab: “Tidak ada masalah sama sekali. Yang penting saat ia melewati miqat, ia berniat untuk kembali dan berihram dari sana; baik itu jaraknya dekat ataupun sudah jauh.” (Lih: Liqa’ al-Bab al-Maftuh, 26/93)

Patut diketahui, bahwa seorang yang ihram untuk haji atau umrah diharamkan melakukan hubungan suami-istri dengan semua pengantarnya. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/111318