BOLEHKAH MENDAHULUKAN AYAHNYA DALAM BERHAJI, PADAHAL IA SENDIRI BELUM PERNAH BERHAJI?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Haji

Soal:

Saya belum pernah menunaikan ibadah haji, dan tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk menunaikannya. Tentu saja saya sangat senang. Namun ayah saya juga ingin sekali berangkat menunaikan haji.

Pertanyaannya: apakah saya harus berangkat atau saya memberikan kesempatan itu kepada ayah saya sebagai bentuk bakti kepada kedua orangtua? Manakah yang lebih utama: menunaikan ibadah haji atau berbakti pada kedua orangtua?

Jawaban:

Pertama:

Haji wajib ditunaikan segera. Maka siapa yang mampu menunaikan ibadah haji dan memungkinkan baginya untuk mengerjakannya, maka ia harus segera menunaikannya dan tidak boleh menundanya. Ini adalah pendapat Jumhur ulama.

Kedua:

Mendahulukan/memprioritaskan orang lain (itsar) dalam beribadah itu terbagi menjadi 2:

Pertama: ibadah yang wajib. Yang ini tidak boleh diprioritaskan kepada orang lain.

Kedua: ibadah yang sunnah. Dalam kasus ini, yang utama adalah tidak memprioritaskan orang lain, namun jika ada kemaslahatan yang mengharuskannya untuk mendahulukan orang lain, maka tidak mengapa.

Maka karena Anda belum menunaikan ibadah haji sebelumnya, dan tahun ini Allah mudahkan Anda untuk beribadah haji, menjadi kewajiban Anda untuk menunaikan haji untuk diri Anda sendiri, karena ibadah haji adalah salah satu kewajiban dan rukun penting agama ini. Ia wajib bagi orang yang mampu. Dan karena sisi-sisi kemampuan itu telah terpenuhi untuk Anda, maka Anda wajib menunaikan kewajiban dari Allah Ta’ala ini.

Anda tidak boleh mendahulukan/memprioritaskan ayah Anda dalam hal ini, karena memprioritaskan orang lain dalam ibadah-ibadah yang wajib itu tidak boleh sebagaimana telah dijelaskan.

Anda harus menyiasati dan bersikap lemah-lembut dalam meminta maaf kepada ayah Anda dan menjelaskan hukum syar’i terkait kasus ini kepadanya.

Menunaikan rukun Islam yang agung ini lebih didahulukan daripada berbakti pada kedua orangtua saat keduanya dalam posisi berhadapan. Dan ini tidak termasuk perbuatan durhaka pada kedua orangtua. Anda dapat tetap berbakti pada ayah Anda dengan selain itu.

Tapi jika Anda menyelisihi hal itu dan lebih memprioritaskan ayah Anda daripada diri Anda, lalu ia pergi berhaji, maka hajinya tetap sah, dan Anda harus segera menunaikan ibadah haji (lain waktu) saat sudah ada kemampuan lagi.

Komisi Fatwa Saudi Arabia (al-Lajnah al-Da’imah) pernah ditanya: bolehkah seseorang mengirim kedua orangtuanya berhaji sebelum ia sendiri pergi berhaji?

Lalu dijawab:

“Ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang merdeka, berakal, baligh dan mampu menempuh perjalanan untuk menunaikannya, sekali seumur hidup. Sementara berbakti kepada kedua orangtua serta membantu mereka menunaikan kewajiban adalah perkara yang disyariatkan sesuai kemampuan. Hanya saja Anda harus berhaji dulu untuk diri Anda sendiri, lalu membantu kedua orangtua Anda jika untuk berangkat jika memang tidak bisa menunaikan haji bersama-sama mereka. Namun jika Anda mendahulukan kedua orangtua Anda untuk berhaji daripada diri Anda sendiri, maka haji mereka berdua sah. Wa billahi al-taufiq.” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 11/70-71)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/199427 (dengan sedikit perubahan)

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *