Bolehkah Meninggalkan Puasa Di Siang Hari Bulan Ramadhan Dengan Alasan Pemeriksaan Kesehatan?

0
85

Soal:

Saya hendak melakukan check-up rontgen di rumah sakit. Hal itu mengharuskan saya untuk tidak dalam keadaan puasa. Jika saya menunda pemeriksaan rontgen ini sekarang, maka jadwal berikutnya baru akan ada lagi setelah beberapa bulan. Bolehkah saya tidak puasa dengan alasan akan melakukan pemeriksaan rontgen?

Jawaban:

Orang yang sedang sakit boleh tidak puasa. Lalu dia wajib menggantinya dengan puasa qadha’ di lain hari sejumlah hari yang dia tinggalkan saat sakit itu. Ini sesuai firman Allah Ta’ala,

 “Dan siapa yang sedang sakit atau mengadakan perjalanan jauh maka hendaknya (dia mengganti dengan puasa) sejumlah (hari yang dia tinggalkan, untuk dilaksanakan) pada hari-hari yang lain.”  (al-Baqarah (2):185)

Sakit yang menyebabkan boleh meninggalkan puasa adalah sakit berat, sehingga membuat si pasien berat menjalani puasa atau hal itu akan membahayakan dirinya. Bisa juga karena ditakutkan akan memperparah sakitnya atau kesembuhannya akan tertunda jika melakukan puasa. Ulama juga memasukkan dalam kategori itu keadaan saat seseorang dikhawatirkan akan sakit jika melakukan puasa.

Jika penyakit anda masuk dalam salah satu kategori di atas (dan sepertinya memang begitu), maka anda boleh tidak puasa. Karena tindakan rontgen akan membantu dalam diagnosa penyakit, lalu dengan itu bisa dilakukan langkah preventif agar sakit tidak bertambah dan kesembuhannya tidak tertunda.

Adapun jika sakit anda tidak masuk dalam kategori di atas, maka anda tidak boleh meninggalkan puasa. Hendaknya anda melakukan pemeriksaan rontgen di malam hari jika hal itu memungkinkan. Atau anda tunda hingga bulan Ramadhan berakhir.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyatakan,

“Si pasien (yang menderita penyakit temporer) bisa jadi berada dalam salah satu dari tiga kondisi ini;

Kondisi pertama, sakitnya tidak membuat berat untuk puasa, tidak pula berbahaya. Maka dia tetap wajib melaksanakan puasa, karena dia tidak memiliki udzur.

Kondisi kedua, puasa berat dilaksanakan tapi tidak membahayakan. Maka makruh baginya untuk tetap berpuasa. Karena itu menunjukkan dia menolak rukhshah (keringanan yang diberikan) oleh Allah Ta’ala dan memberatkan diri sendiri.

Keadaan ketiga, Jika puasa dilakukan maka akan berbahaya. Maka haram baginya untuk berpuasa. Karena hal itu berarti mengundang bahaya untuk diri sendiri. Sementara Allah telah berfirman,

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri sesungguhnya Allah itu sungguh sangat pengasih kepada kalian.”

Allah juga berfirman,

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kalian lemparkan diri kalian sendiri dalam kebinasaan.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits juga bersabda,

لا ضَرَرَ ولا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri, tidak boleh pula menimbulkan bahaya.” HR. Ibnu Majah dan al-Hakim. Al-Nawawi mengomentari, “Hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan.”

Bahaya yang timbul akibat puasa bagi orang yang sakit bisa diketahui melalui apa yang dirasakan oleh si pasien sendiri, bisa juga dari hasil diagnosa dokter terpercaya.

Jika si sakit meninggalkan puasa, maka dia wajib mengqadha’ sejumlah hari yang dia tinggalkan itu saat sudah sembuh nanti. Jika dia meninggal sebelum masa sembuh tiba maka kewajiban qadha’ pun gugur. Karena yang wajib bagi dia adalah mengganti dengan puasa qadha’ sejumlah hari yang dia tinggalkan itu ketika sudah sembuh, sementara dia sendiri belum sempat sembuh. (Lih: “Fushul fi al-Shiyam wa al-Tarawih” bagian ketiga)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38532

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here