Bolehkah Mewakili Puasa Orang Lain yang Sedang Sakit Dengan Melakukan Puasa pada Malam Hari Bulan Ramadhan?

  • 3 min read
  • Jun 13, 2018

Soal:

Jika seorang anggota keluarga saya sakit, sahkah bila saya berpuasa untuk diri sendiri dan untuk dirinya dengan cara berpuasa selama 24 jam penuh tanpa makan sahur?

Jawaban:

Pertama:

Orang sakit yang tidak mampu berpuasa ada dua keadaan; adakalanya sakitnya temporer, bisa diharapkan sembuh dalam waktu dekat. Dalam keadaan ini hendaknya ia meninggalkan puasa lalu mengqadha’nya saat sudah sembuh dan mampu berpuasa lagi. Ada pula yang penyakitnya bersifat kronis (menahun). Maka dia hendaknya meninggalkan puasa lalu menggantinya dengan fidyah, memberi makan fakir miskin seporsi kenyang untuk per hari yang dia tinggalkan.

Kedua:

Puasa hanya boleh dilakukan di siang hari, sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Malam hari bukanlah waktu pelaksanaan puasa. Allah Ta’ala berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa untuk bercampur dengan istri-istri kalian. Mereka menjadi seumpama pakaian untuk kalian, dan kalian pun bagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kalian dulu sering mengkhianati diri kalian sendiri, lalu Allah pun memberikan taubatnya untuk kalian dan memaafkan kalian. Maka mulai sekarang silakan bercampur dengan istri-istri kalian itu. Dan carilah (keturunan) yang telah Allah tetapkan untuk kalian. Juga silakan makan dan minum (selama malam berlangsung) hingga saat benang putih dan benang hitam menjadi terang bagi kalian berupa semburat fajar. Lalu sempurnakanlah puasa itu hingga malam menjelang (lagi).” (al-Baqarah (2):187)

Dalam ayat yang mulia ini jelas diterangkan bahwa waktu pelaksanaan puasa adalah siang hari, sementara waktu mulai berbuka dan boleh makan minum adalah malam hari. Maka sudah barang tentu bahwa menjadikan malam hari bulan Ramadhan sebagai waktu pelaksanaan puasa adalah tidak sah.

Dan telah ada dalil valid dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang pelaksanaan puasa secara wishal (puasa sambung, atau puasa nge-bleng dalam istilah jawa, red-). Haditsnya diriwayatkan oleh al-Bukhary (1962) dan oleh Muslim (1102)

Puasa wishal yaitu menyambung dua hari puasa tanpa jeda sama sekali untuk makan-minum di malam harinya, tapi puasa terus selama siang dan malamnya.

Imam al-Bukhary memberi judul salah satu bab dalam Kitab Shahih-nya:

Bab Puasa wishal dan pendapat yang menyatakan bahwa di malam hari tidak ada puasa, berpijak pada firman Allah ta’ala “ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ” (yang artinya; “Kemudian sempurnakanlah puasa, hingga saat malam menjelang (saja).”) begitupula dengan larangan Nabi berkenaan hal itu sebagai bentuk kasih sayang beliau pada ummatnya dan supaya mereka tidak binasa.”

Ketiga:

Hukum asal terkait ibadah fisik adalah bahwa ibadah itu harus dilaksanakan oleh diri seorang muslim itu sendiri untuk dirinya. Tidak boleh diwakilkan. Maka seseorang tidak dibenarkan melakukan shalat mewakili shalatnya orang lain. Tidak boleh pula melakukan puasa mewakili puasa orang lain menurut konsensus para ulama. Ibadah fisik yang dibenarkan adanya perwakilan hanyalah dalam haji dan umrah saja. Itu pun hanya berlaku bagi mereka yang mampu secara harta, namun tidak mampu secara fisik untuk melaksanakannya semasa hidupnya. Sebagaimana tersurat dalam nash-nash yang valid dan lugas.

Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahullah mengatakan,

“Tentang shalat, Ulama telah sepakat bahwa tidak boleh seseorang mewakili shalat untuk orang lain baik dalam fardhu, sunnah ataupun tathawwu’. Sama saja perwakilannya itu untuk orang yang masih hidup maupun sudah meninggal, tidak boleh dilakukan.

Adapun puasa, maka tidak boleh dilakukan perwakilan untuk orang yang masih hidup. Ini semua adalah ijma’ (konsensus) yang tidak diperselisihkan sedikitpun. Adapun jika seseorang meninggal dunia dan punya hutang puasa, maka di situ memang ada silang pendapat antara ulama baik klasik maupun kontemporer.” (Lih: “al-Istidzkar”, 3/340)

Ringkasnya:

Puasa hanya dilakukan di siang hari, bukan di malam hari. Pelaksanaan puasa di malam hari tidak sah.

Seseorang tidak dibenarkan mewakili puasa orang lain yang sedang sakit (baca: masih hidup). Si Sakit ini jika sakitnya bisa diharap sembuh, maka dia wajib mengqadha’ saat sudah sembuh. Namun jika sakitnya tidak bisa diharap sembuh, maka puasanya diganti dengan kewajiban membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin seporsi makan kenyang untuk setiap hari yang dia tinggalkan.

Wallohu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65928