CARA MEMANJANGKAN CAHAYA PADA ANGGOTA WUDHU

  • 5 min read
  • Sep 23, 2018
Berwudhu

Soal:

Dari hadits al-Ghur al-Muhajjalin (yang menjelaskan tentang bekas wudhu umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bercahaya pada hari kiamat-penj): bagaimana kita menambahkannya dalam berwudhu? Maksud saya: apakah jika saya membasuh wajah saya, saya juga membasuh bagian dari kepala dan leher (agar cahayanya bertambah-penj)? Dan ketika saya membasuh kedua tangan saya, saya juga membasuh hingga kedua pundak? Lalu ketika saya membasuh kaki, saya juga membasuhnya hingga ke kedua lutut saya?

 

Jawaban:

Pertama:

Telah diriwayatkan dalam hadits yang shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

‘Sesungguhnya umatku pada hari kiamat akan dipanggil dalam keadaan wajah dan kedua tangan serta kakinya bercahaya karena bekas wudhu. Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya itu, hendaklah ia melakukannya.” (HR. Al-Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246).

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ ، لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ، وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ ، وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ، كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ) قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ ، أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: (نَعَمْ ، لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ ، تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ

“Sesungguhnya telagaku itu (luasnya) lebih jauh dari (antara) Ailah dan ‘Aden. Sungguh ia lebih putih daripada salju, lebih manis dari madu dengan susu. Sungguh bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang. Dan sungguh aku akan mengalang manusia darinya seperti seorang yang menghalang unta orang lain dari telaganya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenali kami pada hari itu?” Beliau menjawab: “Iya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat manapun. Kalian akan datang padaku dalam keadaan wajah, lengan dan kaki yang bercahaya karena bekas wudhu.” (HR. Muslim no. 247)

Makna hadits ini adalah bahwa wajah-wajah, tangan-tangan dan kaki-kaki mereka umat ini akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu.

(Lih: Subul al-Salam 1/139, dan Syarh Bulugh al-Maram oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin 1/191)

 

Kedua:

Para ulama berbeda pendapat tentang (melakukan) tambahan melebihi batasan yang ditetapkan dalam wudhu:

Jumhur ulama –berbeda dengan Malikiyah-berpendapat bahwa dianjurkan melebihkan batas wudhu yang telah ditetapkan, berdasarkan hadits terdahulu: “…maka siapa yang mampu memperpanjang cahayanya, hendaklah ia melakukannya.”

Al-Hishkafy al-Hanafy rahimahullah menjelaskan dalam Bab Sunan al-Wudhu:

“Di antara adab (berwudhu)…: memperpanjang cahayanya di wajah, tangan dan kakinya.” (Lih: al-Durr al-Mukhtar 1/130)

 

Ibnu Qudamah al-Hanbaly mengatakan:

“Melebihkan itu dianjurkan pada seluruh anggota wudhu…dan melebihkan (wudhu) pada seluruh anggota tubuh itu dengan menyelai-nyelai dan menelusuri posisi-posisi yang dialiri air dengan mengurut dan mengurutnya, serta melebihkan dari posisi yang wajib dibasuh”, lalu beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah ini. (Lih: al-Mughni, 1/78)

Banyak ulama yang berpendapat tentang disyariatkannya penambahan tersebut menegaskan untuk melampaui batas wajib hingga ke kedua lengan dan kedua betis, dan bahwa tujuan maksimalnya pada kedua anggota tubuh itu adalah mencakupi keduanya.

Adapun tentang ghurrah (cahaya di wajah), maka kebanyakan ulama mendiamkan tentang memperpanjang ghurrah itu, atau menafsirkannya sebagai tahjil (menambah cahaya pada tangan dan kaki).

Al-Nawawi rahimahullah telah memberikan catatan tentang itu, lalu ia menyebutkan pendapat al-Rafi’i tentang memperpanjang ghurrah itu, dan bahwa hal itu dilakukan dengan membasuh bagian depan kepala, serta bagian leher yang bersambung langsung dengan wajah.

Beliau rahimahullah mengatakan:

“Adapun hukum masalah ini adalah: para ulama kami (Syafi’iyyah-penj) telah bersepakat tentang dianjurkannya membasuh lebih dari kedua lengan dan kedua mata kaki…

Al-Mutawalli mengatakan: ‘Memperpanjang ghurrah adalah sunnah, yaitu dengan membasuh sebagian sisi depan kepala bersama dengan wajah. Memperpanjang tahjil juga sunnah, yaitu dengan membasuh sebagian lengan atas bersama dengan lengan bawah, serta sebagian betis saat membasuk kaki…” (Lih: al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/428)

Al-Khathib al-Syarbini rahimahullah mengatakan:

“(Dan) di antara sunnahnya adalah (memperpanjang ghurrahnya) dengan membasuh lebih dari bagian yang wajib dari wajah dari seluruh sisinya, maksimalnya adalah dengan membasuh lapisan leher serta sisi depan kepada, (dan) juga memperpanjang (tahjilnya) dengan membasuh lebih dari bagian yang wajib dari kedua tangan dan kaki dari semua sisi, maksimalnya adalah meliputi semua bagian lengan atas dan kedua betis.” (Lih: Mughni al-Muhtaj, 1/191)

 

Sementara kalangan Malikiyah berpandangan tidak dianjurkannya melakukan penambahan tersebut. Lih: Syarh Mukhtashar Khalil oleh al-Khurasyi (1/140)

Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama muhaqqiqun seperti Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu al-Qayyim serta selain mereka berdua.

Al-Bassam rahimahullah menjelaskan dalam Taudhih al-Ahkam (1/228):

“Imam Malik dan penduduk Madinah berpendapat tidak dianjurkannya melampaui batas tempat yang wajib (dalam wudhu), dan ini juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, yang dipilih oleh Syaikh al-Islam dan Ibnu al-Qayyim. Riwayat ini juga dipilih oleh beberapa ulama kontemporer: Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alu al-Syaikh, Syekh Abdurrahman al-Sa’di, Syekh Abdul Aziz bin Baz dan selain mereka.

Mereka berargumentasi untuk itu dengan hal-hal berikut:

Pertama: melampaui posisi yang wajib dengan keyakinan bahwa itu sebuah ibadah adalah pandangan yang membutuhkan dalil.

Kedua: semua (sahabat) yang menggambarkan wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh wajahnya, kedua tangan hingga kedua siku dan kedua kaki hingga kedua mata kaki.

Ketiga: ayat wudhu telah membatasi posisi yang wajib (dibasuh), yaitu: kedua siku dan kedua mata kaki. Dan ayat ini termasuk ayat-ayat yang terakhir turun dalam al-Qur’an.

Keempat: jika kita menerima pandangan ini, maka konsekwensinya adalah kita telah melewati batas area wajah sampai ke sebagian rambut kepala, dan ini tidak disebut sebagai ghurrah. Maka pandangan ini mengalami kontradiksi.

Kelima: hadits tersebut tidak menunjukkan (adanya upaya) untuk memanjangkan, karena sebuah perhiasan itu akan menjadi hiasan jika ada pada lengan dan pergelangan, bukan pada lengan atas dan pundak.

Keenam: adapun sabda beliau: “Maka siapa yang mampu di antara kalian untuk memperpanjang ghurrah dan tahjilnya, maka lakukanlah”, tambahan ini diselipkan (mudraj) dalam hadits dan berasal dari perkataan Abu Hurairah, bukan bagian dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagaimana dalam riwayat Ahmad (no. 8208). Dan hal itu telah dijelaskan oleh banyak hafizh (baca: ulama hadits).”

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam Fath al-Bary (1/236):

“Saya tidak menemukan kalimat ini dalam riwayat seorang pun yang meriwayatkan hadits ini dari kalangan sahabat –dan jumlah mereka ada 10 orang-, juga dari yang meriwayatkannya dari Abu Hurairah, selain riwayat Nu’aim ini. Wallahu a’lam.”

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Wudhu yang valid dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari  dan Muslim serta selain keduanya melalui berbagai jalur: tidak ada yang menyebutkan (bahwa beliau) mengambil air baru untuk kedua telinga, juga tidak membasuh bagian yang melebihi kedua siku dan kedua mata kaki. Tidak juga beliau mengusap lehernya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak mengatakan: ‘Siapa yang mampu memperpanjang ghurrahnya, maka hendaklah ia melakukannya’. Bahkan perkataan ini adalah perkataan Abu Hurairah yang masuk terselip dalam beberapa (riwayat) hadits, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengatakan: ‘Sesungguhnya kalian akan datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, lengan dan kaki kalian bercahaya karena bekas wudhu’.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berwudhu lalu (membasuh hingga) masuk area lengan atas dan betisnya, Abu Hurairah mengatakan: ‘Siapa yang mampu memperpanjang ghurrahnya, maka hendaklah ia melakukannya.’

Lalu ada yang menyangka bahwa membasuh lengan atas itu termasuk memperpanjang ghurrah, tapi ini tidak ada artinya, karena ghurrah itu letaknya di wajah, bukan pada tangan dan kaki, karena yang ada di tangan dan kaki adalah tahjil.

Dan ghurrah itu tidak mungkin diperpanjang, karena hanya wajah yang dibasuh keseluruhan, sementara kepala tidak dan tidak ada ghurrah pada kepala. Sementara hajlah/tahjil tidak dianjurkan untuk diperpanjang…” (Lih. Majmu’ al-Fatawa 1/280)

 

Ibnu al-Qayyim mengatakan:

“Ini menjadi pegangan orang yang memandang dianjurkannya membasuh lengan atas dan memperpanjangnya.

Namun pendapat yang shahih adalah bahwa itu tidak dianjurkan, dan ini adalah pendapat Ahl al-Madinah. Sementara dari (Imam) Ahmad terdapat 2 riwayat.

Karena hadits (Abu Hurairah-penj) tidak menunjukkan (anjuran) untuk memperpanjangnya, karena perhiasan itu hanya menjadi hiasan jika digunakan pada lengan dan pergelangan, bukan pada lengan atas dan pundak.

Adapun redaksi: ‘Maka siapa yang mampu di antara kalian untuk memperpanjang ghurrahnya, maka hendaklah ia melakukannya’, maka tambahan ini diselipkan dalam hadits ini berasal dari perkataan Abu Hurairah, dan bukan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu dijelaskan oleh banyak huffazh (ulama hadits).

Dalam Musnad Imam Ahmad, pada hadits ini, Nu’aim mengatakan: ‘Saya tidak tahu redaksi: siapa yang mampu di antara kalian untuk memperpanjang ghurrahnya, maka hendaklah ia melakukannya’ apakah itu perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sesuatu yang diucapkan oleh Abu Hurairah.’

Guru kami (maksudnya: Ibnu Taimiyah) mengatakan: ‘Lafazh ini tidak mungkin perkataan Rasulullah, karena ghurrah itu tidak berada di tangan. Ia tidak ada kecuali di wajah dan memanjangkannya tidak mungkin, karena akan masuk ke area kepala, maka ia tidak disebut sebagai ghurrah.’” (Lih. Hadi al-Arwah, hal. 201)

Kesimpulannya adalah:

Bahwa yang disunnahkan bagi orang yang berwudhu adalah membasuh kedua tangan sampai ke kedua siku sampai hampir memasuki ke lengan atas, lalu membasuh kedua kaki dan kedua mata kaki sampai hampir memasuki area betis, karena inilah yang valid dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/277556