Dalam Haji Tamattu’ Wajib Melakukan 2 Sa’i; Sa’i Untuk Umrah Dan Sa’i Untuk Haji

0
80

Soal:

Apakah seorang yang mengerjakan haji tamattu’ cukup mengerjakan 1 sa’i antara Shafa dan Marwah untuk umrah dan haji, atau ia harus mengerjakan 2 sa’i (untuk umrah dan haji)?

Jawaban:

Seorang yang mengerjakan haji tamattu’ wajib mengerjakan 2 sa’i antara Shafa dan Marwah: yang pertama untuk umrah dan yang kedua adalah untuk haji.

“Tidak cukup hanya dengan 1 sa’i berdasarkan pendapat yang paling shahih dari pendapat para ulama, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata:

‘Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam –lalu beliau menyebutkan haditsnya dimana beliau bersabda: ‘…Dan siapa yang membawa hewan hadyu, maka hendaklah ia berihram untuk haji dengan umrah, lalu ia tidak boleh bertahallul sampai ia bertahallul dari keduanya bersamaan…’ –sampai beliau berkata:- ‘…maka orang-orang yang melakukan berihram untuk umrah di Baitullah pun melakukan thawaf di Baitullah dan sa’i antara Shafa dan Marwah, kemudian mereka pun bertahallul, lalu mereka melakukan thawaf lagi setelah mereka kembali dari Mina untuk haji mereka…’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jadi perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang mereka yang berihram untuk haji: “lalu mereka melakukan thawaf lagi setelah mereka kembali dari Mina untuk haji mereka”, maksudnya adalah sa’i antara Shafa dan Marwah, berdasarkan penjelasan paling shahih terhadap hadits ini.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud (dalam hadits itu) adalah thawaf ifadah, maka itu tidak benar, karena thawaf ifadah adalah rukun bagi semua (jenis haji) dan itu sudah dikerjakan. Jadi yang dimaksud tidak lain adalah khusus untuk yang mengerjakan haji tamattu’, yaitu “thawaf” antara Shafa dan Marwah kedua kalinya setelah pulang dari Mina untuk menyempurnakan hajinya. Hal ini sangat jelas, alhamdulillah. Ini adalah pendapat mayoritas para ulama.

Kebenaran pendapat ini ditunjukkan juga oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau ditanya tentang haji tamattu’, lalu beliau berkata:

“Kaum Muhajirin dan Anshar serta para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berihram dalam haji wada’, dan kami pun berihram. Maka ketika kami datang ke Mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jadikanlah ihram kalian untuk haji itu untuk umrah kecuali siapa yang membawa hewan hadyu.’

Maka kami pun melakukan thawaf di Baitullah dan sa’i antara Shafa dan Marwah, lalu kami pun menggauli istri-istri (kami) dan mengenaikan pakaian. (Rasulullah) bersabda: ‘Siapa yang membawa hewan hadyu, maka ia tidak boleh bertahallul sampai hewan sembelihannya sampai di tempatnya.’

Lalu kami pun diperintahkan pada malam hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) untuk berihram untuk haji. Hingga saat kami selesai dari manasik, kami pun datang mengerjakan thawaf di Baitullah dan di Shafa dan Marwah.”

Hadits ini tegas menunjukkan bahwa sa’i untuk yang menunaikan haji tamattu’ itu sebanyak 2 kali. Wallahu a’lam.

Adapun apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak sa’i antara Shafa dan Marwah kecuali 1 kali saja, yaitu thawaf mereka yang pertama, maka itu ditafsirkan kepada para sahabat yang membawa hewan hadyu; karena mereka tetap berada dalam keadaan ihram bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka tahallul dari haji dan umrah secara keseluruhan. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berihram haji dan umrah, lalu memerintahkan kepada yang membawa hewan hadyu untuk berihram untuk haji bersama umrah, dan tidak bertahallul hingga bertahallul dari keduanya secara keseluruhan. Sementara yang menggabungkan antara haji dan umrah hanya wajib mengerjakan 1 kali sa’i, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Jabir tersebut dan hadits-hadits lainnya yang shahih.

Begitu pula yang melakukan haji ifrad dan tetap dalam keadaan ihram sampai hari nahr (10 Dzulhijjah), maka ia hanya mengerjakan 1 kali sa’i. Maka jika seorang yang menunaikan haji qiran dan ifrad telah mengerjakan sa’i setelah thawaf qudum, maka itu sudah cukup dan ia tidak perlu mengerjakan sa’i setelah thawaf ifadhah.

Inilah kesimpulan yang mengompromikan antara hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas dengan hadits Jabir tersebut –radhiyallahu ‘anhum-. Dan dengan demikian kontradiksinya menjadi hilang dan semua hadits dapat diamalkan.

Hal lain yang menguatkan kompromi antara hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas adalah bahwa keduanya adalah hadits yang shahih, dan keduanya telah menetapkan adanya sa’i yang kedua bagi yang mengerjakan haji tamattu’. Sementara makna zhahir hadits Jabir menafikannya. Padahal “yang menetapkan” harus didahulukan daripada “yang menafikan”, sebagaimana kaidah yang ditetapkan di dalam ilmu Ushul Fiqih dan Mushtalah Hadits…” (Lih. Majmu’ Fatawa Ibn Baz 16/79-81)

Sumber: https://islamqa.info/ar/109230

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here