Dianjurkan Beri’tikaf pada Bulan Ramadhan dan Bulan Selainnya

  • 2 min read
  • May 29, 2018

Pertanyaan:

Apakah i’tikaf boleh dilakukan kapan saja? Ataukah khusus hanya pada bulan Ramadhan?

Jawaban:

Alhamdulillah.

I’tikaf disunnahkan pada setiap waktu, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Akan tetapi pada bulan Ramadhan lebih utama. Bahkan lebih ditekankan lagi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Berdasarkan keumuman dalil tentang anjuran beri’tikaf bahwa ia mencakup Ramadhan dan selain Ramadhan.

An-Nawawi Rahimahullah dalam al-Majmu (6/501), dia berkata:

“I’tikaf hukumnya sunnah, dan tidak diwajibkan kecuali dengan bernadzar menurut kesepakatan para ulama. Dianjurkan untuk memperbanyak i’tikaf dan lebih ditekankan anjurannya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”

Beliau juga menambahkan, (6/54):

“Yang lebih utama jika i’tikaf dilaksanakan dengan berpuasa, yang lebih utama pada bulan Ramadhan dan yang paling utama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”

Al-Albany dalam kitab Qiyam Ramadhan mengatakan:

“I’tikaf (hukumnya) sunnah pada bulan Ramadhan dan selainnya dari hari-hari. Asal hukum hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد

”Sedang kalian (dalam kondisi) beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Dan juga dari hadits-hadits shahih tentang i’tikaf Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan atsar-atsar dari ulama salaf.

Terdapat riwayat bahwa, “Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari bulan Syawal.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Bahwa ‘Umar Radhiyallahu ’anhu mengatakan kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam:

“Dahulu saya pernah bernazar sewaktu Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram.” Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunaikan nazarmu’. Kemudian ia beri’tikaf semalam.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dianjurkan untuk beri’tikaf pada bulan Ramadhan, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam beri’tikaf selama sepuluh hari di setiap Ramadhan. Dan pada tahun kematiannya, beliau beri’tikaf dua puluh hari.” (HR. Al-Bukhary)

Dan i’tikaf yang paling utama adalah i’tikaf pada akhir bulan Ramadhan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, sampai ia diwafatkan Allah ‘Azza wa Jalla.” (Muttafaqun ‘alaih)

Syekh Ibnu Baz Rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa, (15/437) berkata:

“Tidak diragukan lagi bahwa i’tikaf di masjid merupakan salah bentuk taqarrub ‘pendekatan’ diri kepada Allah. Dan pelaksanaannya pada bulan Ramadhan lebih utama dari bulan selainnya.. Dan i’tikaf dianjurkan pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan selainnya.”

Silahkan lihat Fiqh al-I’tikaf oleh DR. Khalid al-Musyaiqih, hal. 41.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50024