Halangan-Halangan yang Membolehkan Tidak Berpuasa Di Bulan Ramadhan

  • 4 min read
  • May 29, 2018

Pertanyaan:

Apakah udzur dan halangan yang membolehkan seseorang membatalkan puasanya pada bulan Ramadhan?

Jawaban:

Sesungguhnya diantara bentuk keringanan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya untuk orang-orang yang berpuasa adalah Ia tidak mewajibkan puasa itu kecuali pada orang-orang yang sanggup melaksanakannya saja, lalu membolehkan tidak berpuasa bagi orang-orang yang tidak sanggup melaksanakannya karena halangan syar’i.

Adapun halangan-halangan syar’i yang membolehkan seseorang membatalkan puasanya adalah sebagai berikut:

Satu: orang yang sakit

Orang yang sakit adalah suatu keadaan pada seorang manusia yang keluar dari batasan sehat karena adanya penyakit.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

“Para ulama telah bersepakat bahwa seorang yang sakit boleh membatalkan puasanya. Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Ketika ayat ini turun: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al-Baqarah: 184), maka orang-orang yang ingin membatalkan puasanya memilih untuk membatalkan puasanya lalu membayar fidyah, sampai turun ayat setelahnya yaitu firman Allah Azza wa Jalla:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Lalu ayat ini menghapus hukum sebelumnya. Sehingga seorang yang sakit dan khawatir akan bertambah penyakitnya jika ia melakukan puasa, atau memperlambat kesembuhannya, atau menyebabkan kerusakan pada anggota tubuhnya, diperbolehkan untuk berbuka. Bahkan hal itu disunnahkan untuknya dan dimakruhkan menyempurnakannya. Sebab hal ini dapat menyebabkan kematian, sehingga wajib menghindarinya. Kemudian, kerasnya penyakit menyebabkan bolehnya membatalkan puasa bagi seorang yang sakit. Adapun seorang yang sehat, jika ia khawatir akan berat melaksanakannya atau kelelahan, maka tidak boleh baginya membatalkan puasa, jika hanya karena puasa menyebabkan ia kelelahan.

Kedua: Safar (Perjalanan):

Yang dipersyaratkan dalam safar yang mendapatkan rukhshah membatalkan puasa adalah berikut ini:

  1. Safar yang dilakukan adalah perjalanan yang yang boleh mengqashar shalat di dalamnya.
  2. Seorang musafir tidak berniat mukim selama safarnya.
  3. Safar yang dilakukan tidak boleh karena adanya niat ingin melakukan maksiat. Perjalanan itu dilakukan karena tujuan yang dibolehkan oleh syariat, berdasarkan pendapat mayoritas ulama. Sebab kebolehan membatalkan puasa itu merupakan rukhshah dari Allah. Sehingga seorang yang bermaksiat dengan safarnya tidak berhak mendapatkan rukhshah ini, sebab safarnya dibangun di atas kemaksiatan. Sebagaimana seseorang yang bersafar dengan niat merampok.

 Hilangnya Keringanan untuk Perjalanan:

Rukhshah safar bisa hilang disebabkan dua perkara yang disepakati para ulama:

  1. Jika seorang musafir kembali ke negerinya, lalu masuk ke dalam daerah dimana ia bermukim.
  2. Jika seorang musafir berniat melakukan mukim secara mutlak, atau ia fokus pada satu tempat mukimnya, sehingga tempat itu dirasa sangat baik untuk bermukim, maka dengan itu ia menjadi seorang mukim. Sehingga, ia harus menyempurnakan shalatnya, harus berpuasa dan tidak boleh membatalkannya pada bulan Ramadhan, karena status hukum safar telah hilang.

Halangan yang Ketiga: Hamil dan Menyusui:

Para ahli fiqh bersepakat bahwa wanita hamil dan menyusui boleh membatalkan puasanya pada bulan Ramadhan, dengan syarat mereka khawatir terjadi sesuatu pada diri mereka atau karena khawatir anak mereka bisa sakit, atau mudharat dan kematian.

Dalil pembolehan membatalkan puasa bagi mereka berdua adalah firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Yang dimaksud dengan sakit adalah yang akan berpengaruh buruk dengan melakukan ibadah puasa. Itulah sakit yang dimaksud dalam ayat ini. Sedangkan kondisi ini terdapat pada kondisi ibu hamil dan menyusui, sehingga keduanya masuk dalam kategori penyakit yang mendapat rukhshah untuk membatalkan puasa.

Diantara dalil bolehnya membatalkan puasa untuk keduanya adalah hadits Anas bin Malik al-Ka’bi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah meringankan bagi musafir puasa dan bolehnya mengqashar shalat, Allah juga meringankan bagi ibu hamil dan menyusui puasa”.

 Keempat: Usia Lanjut:

Yang mencakup “usia lanjut” adalah sebagai berikut: Seorang kakek yang sudah lemah, dimana setiap hari tubuhnya semakin berkurang kekuatannya hingga ia meninggal dunia; juga seorang yang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya dan terbukti bahwa ia tidak mungkin akan bisa sembuh; serta wanita tua yang telah lanjut usia.

Dalil disyariatkannya membatalkan puasa bagi orang-orang yang telah disebutkan sebelumnya adalah firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya):

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al-Baqarah: 184).

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Ayat ini tidak dihapus hukumnya, akan tetapi dikhususkan untuk kakek yang telah tua dan nenek telah lanjut usia dimana keduanya sudah tidak mampu menjalankan ibadah puasa, sehingga mereka wajib membayar fidyah setiap harinya kepada orang-orang miskin”.

 Kelima: Lemah tak berdaya akibat lapar dan haus

Barangsiapa merasa lemah dan tak berdaya karena lapar dan haus yang sangat parah, maka ia boleh membatalkan puasanya. Ia boleh makan untuk sekedar menyelamatkan dirinya dari kedaruratan, lalu menahan dirinya dari pembatal-pembatal puasa pada sisa hari tersebut dan mengqadha’nya di waktu yang lain.

Termasuk dalam kategori lemah yang tak berdaya akibat lapar dan haus adalah rasa khawatir akan merasa lemah ketika diprediksi bertemu musuh (dalam perang). Seorang prajurit jika mengetahui dengan keyakinan atau dengan dugaan kuat akan terjadinya perang karena telah bertemu musuh, sementara ia khawatir akan lemah jika berpuasa, maka boleh baginya berbuka puasa sebelum perang itu dimulai.

Keenam: Karena Dipaksa:

Memaksa adalah memerintahkan orang lain untuk melakukan atau meninggalkan apa yang tidak diridhainya disertai dengan ancaman.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/23296