HOAX DAN CATATAN AMAL KITA…

0
1385

 

“…Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (jejak) yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).(Qs. Yasin: 12)

Jadi yang dicatat di catatan amal kita, bukan hanya apa yang kita kerjakan. Tapi juga bekas-bekas, pengaruh, efek dari perbuatan kita.

Apa yang kita kerjakan sendiri, akan berakhir catatannya ketika kita mati.

Namun catatan amal belum ditutup….

Karena ia akan terus diisi dengan catatan amal dari orang-orang yang terpengaruh oleh perkataan (dan tulisan) serta perbuatan kita.

Apa pengaruh yg tersisa dari apa yang kita lakukan, katakan dan tuliskan, akan terus masuk dalam catatan amal kita.

Jika kita menyebarkan kebohongan, fitnah, ghibah, dan seterusnya, maka semua  orang yang terpengaruh dengan tulisan kita itu, sehingga timbul efek-efek lanjutannya, semua perbuatan itu juga akan masuk ke catatan keburukan kita.. Naudzubillah

Kapan catatan amal kita ditutup?
Jawabnya adalah ketika kiamat tiba.
Maka jika seseorang meninggal thn 2020, lalu kiamat terjadi tahun 3020, maka perbuatan orang yang terkena pengaruh buruk, akan terus masuk ke catatan amal kita hingga 1000 tahun setelah kematiannya. Naudzubillah

Demikian sebaliknya, jika ia memberikan pengaruh yang baik. Akan masuk di catatan kebaikannya, perbuatan baik dari orang-orang yang terpengaruhi oleh kebaikannya hingga 1000 tahun setelah kematiannya..

Kini kita hidup di era sosmed.
Apa yang kita tuliskan, sulit untuk kita kontrol sejauh mana pengaruhnya…
Sekali kita menulis, lalu di-share ke banyak orang, orang yang banyak itu akan membagikan juga ke banyak orang lainnya.
Ketika kita menghapusnya karena salah, apa yang kita posting, sudah terlanjur tersebar ke demikian banyak orang, yang mungkin sudah tidak lagi membaca ralat kita.

“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”.
[An Nur : 11]

Maka, semakin ke hulu posisi seseorang yang menjadi pangkal tersebarnya sebuah dusta dan fitnah, semakin besar pula adzabnya.. Naudzubillah

Mungkin kita berkata:

“Saya tidak bohong, kok…”
“Bukan saya yang tulis…”
“Saya hanya membagikan info, untuk dijadikan pertimbangan…Siapa tahu bermanfaat…”

Ingatkah kita sabda Nabi:

“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Jika dia menyebarkan semua yang dia dapatkan, baik yang sudah maupun belum dicek validitasnya, maka dia sudah dianggap pembohong.
Suatu kebohongan tidak akan berpindah ke orang yang lain, jika tidak ada yang menyebarkannya. Dia sama saja dengan pembuat kedustaan itu, karena ia ikut menyebarkan kebohongan.

Kadang ada juga yang mengatakan, dia membagikan sebuah postingan, untuk mengecekkan ke grup WA atau sosmed, untuk dicekkan oleh yang melihat postingan itu. Jika ada yang tegur bahwa itu hoax, barulah dia akan hapus.

Islam tidak mengajarkan seperti itu.
Kalau tidak pasti itu benar atau tidak, solusinya bukan dengan men-share. Tapi dengan mengeceknya ke pihak yang berkompeten. Yang mengetahui tentang hal itu.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.. . (QS. Al Hujurat  :6)

Kapan kita mengecek kebenaran sebuah informasi?

Kalau merujuk pada ayat di atas, yaitu ketika informasi itu baru sampai ke kita.
Bukan mengeceknya setelah menyebarkannya ke sosmed lebih dulu, dan menunggu respon orang lain. Karena bisa jadi, yang membaca postingan yang kita share itu, juga tidak bisa memilah yang mana berita yang benar, yang mana yang salah.

Dan sekarang orang cenderung langsung semangat untuk membagikan ke banyak orang, tanpa merechecknya lagi…Dan disitulah petaka catatan amal seseorang bisa bermula.. Naudzubillah

Terkadang kita tidak membuat pernyataan yang tegas, tapi hanya berupa dugaan-dugaan; berupa pertanyaan, tapi itu bisa menggiring opini publik yang membaca. Maka ini juga berbahaya.

Pertanyaan yang keluar dari lintasan pikiran yang tergesa-gesa kita tuliskan di ruang publik, bagi sebagian orang, itu bisa dianggap pernyataan, yang menggiring opini berkembang liar. Terutama bagi yang sudah dihinggapi berbagai persangkaan negatif sebelumnya.

Kita berada di kondisi fitnah, dimana begitu kabur mana kebenaran, mana kebatilan? Karena sudah bercampur sedemikian rupa.

Begitu banyak informasi yang sebenarnya bathil, tapi terlihat bisa dipercaya, karena yang menyampaikannya adalah orang yang selama ini dipercayai masyakarat.

Saat ini, fisik kita diuji dengan pandemi. Efek dari pandemi ini sedemikian dahsyat. Menjangkau berbagai aspek dalam hidup. Ujian yang awalnya adalah ujian terhadap fisik ini, membawa kita berhadapan dengan ujian terhadap pemikiran. Baik pemikiran secaraa umum, maupun pemikiran keagamaan kita.

Untuk kondisi yang seperti ini, Nabi memberikan tuntunan saat beliau ditanya:
“Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

1. Jaga lisanmu.
2. Tetaplah di rumahmu.
3. Tangisilah dosa-dosamu.

(Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 2406, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Maka, dalam kondisi sekarang ini, bukan saatnya banyak bicara. Mengikuti syahwat berbicara yang digeber oleh sosmed yang seakan selalu bertanya, “Apa yang anda pikirkan?” Selalu ada diskusi dan kehebohan berita viral, video-video heboh, pernyataan-pernyataan bombastis di grup-grup WA. Demikian pula di media sosial lainnya.

Ikutilah pesan Nabi. Agar kita mendapatkan keselamatan fisik dengan berdiam di rumah, dan keselamatan bagi agama kita, dengan tidak benyak berbicara. Dan kita siap dengan segala kemungkinan, dengan memperbanyak ibadah dan taubat.

Terakhir, kami ingin menyampaikan sebuah hadits. Peringatan bagi yang membuat dan membantu tersebarnya kebohongan:

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau.. Dan mimpi seorang Nabi adalah benar…

“Tadi malam aku bermimpi melihat ada dua orang yang mendatangiku, lalu mereka memegang tanganku, kemudian mengajakku keluar ke tanah lapang.
Kemudian kami melewati dua orang, yang satu berdiri di dekat kepala temannya dengan membawa gancu dari besi.
Gancu itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian ditarik hingga robek pipinya sampai ke tengkuk. Dia tarik kembali, lalu dia masukkan lagi ke dalam mulut dan dia tarik hingga robek pipi sisi satunya. Kemudian bekas pipi robek tadi kembali pulih dan dirobek lagi, dan begitu seterusnya.”

Di akhir hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat penjelasan dari malaikat, apa maksud kejadian yang beliau lihat,

أما الرجل الأول الذي رأيت فإنه رجل كذاب، يكذب الكذبة فتحمل عنه في الآفاق، فهو يصنع به ما رأيت إلى يوم القيامة، ثم يصنع الله به ما شاء

“Orang pertama yang kamu lihat, dia adalah seorang pendusta. Dia membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Dia dihukum seperti itu sampai hari kiamat, kemudian Allah memperlakukan orang tersebut sesuai yang Dia kehendaki.” (HR. Ahmad no. 20165)

Semakin jauh jangkauan kebohongan itu, makin hebat pula efeknya, dan semakin beratlah hukumannya. Naudzubillah…Apalagi jika Anda adalah orang yang dianggap “ustadz”. Maka tanggungan dosa itu semakin beratlah dalam pikulan Anda di Hari Kiamat!

Akhirnya, kita berada di masa dimana sosmed menjadi sarana yang mempercepat dan memperluas jangkauan sampainya berita, tanpa kita bisa mengendalikannya.

Kini pilihan ada di tangan kita…
Apakah kita mau memenuhkan catatan amal kita dengan kebaikan atau keburukan?

 

Makassar, 7-Juni-2020

Ummul Miqdad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here