Hubungan Manusia dengan Al-Qur’an

  • 4 min read
  • Mar 15, 2021
Quran dan Manusia

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AL-QUR’AN

Muhammad bin Fathy ‘Alu ‘Abdulaziz

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang berbagai macam keadaan manusia bersama al-Qur’an, dan pengaruh al-Qur’an dalam diri mereka. Beliau berkata:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ، لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرّ

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an seperti buah jeruk utrujah, aromanya wangi dan rasanya enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, tidak beraroma namun rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur’an seperti raihanah, aromanya wangi namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Qur’an seperti hanzhalah, tidak ada aromanya dan rasanya pahit.” (HR al-Bukhary no. 5.200 dan Muslim no. 797)

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu,

 “Mengenai Sabda beliau: ‘Rasanya lezat dan aromanya wangi’ dikatakan bahwa dikhusukan sifat iman dengan rasa, dan sifat tilawah dengan aroma, adalah karena sifat keimanan dalam diri seorang mukmin lebih melekat daripada al-Qur’an. Yakni bahwa mungkin saja iman diraih tanpa membaca al-Qur’an. Demikian juga sifat rasa lebih melekat untuk suatu inti makanan daripada aromanya. Karena terkadang bisa saja aroma sesuatu itu hilang tapi rasanya tetap ada.

Kemudian dikatakan bahwa hikmah dari pemilihan buah utrujah dalam perumpamaan ini, dan bukan dengan buah-buahan lain yang juga memiliki rasa yang enak lagi wangi aromanya seperti buah apel misalnya, karena seseorang memanfaatkan buah utrujah dengan cara dikupas, dan dia menjadi gembira dengan coraknya, serta dapat mengeluarkan minyak dari bijinya yang padanya terdapat banyak manfaat.

Dan ada yang mengatakan bahwa syaithan tidak akan mendekati rumah yang di dalamnya terdapat buah utruj, dan ini sesuai dengan sifat al-Qur’an yang syaithan juga tidak akan mendekatinya. Kulit biji buah utruj berwarna putih sesuai dengan simbol kebersihan hati orang mukmin. Keistimewaan lainnya dari buah ini adalah ukurannya yang besar, enak dilihat, warnanya menarik, dan terasa lembut jika disentuh. Ketika buah ini dimakan terasa rasa yang enak dan mudah dicerna. Dan masih banyak manfaat-manfaat yang lain dari buah ini.”

“Dan dalam riwayat Syu’bah dari Qatadah disebutkan: ‘Orang mukmin yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya.’ Di sini terdapat tambahan lafazh ‘dan mengamalkannya’ sebagai penjelasan tentang hal yang diinginkan oleh teks hadits. Permisalan ini -orang mukmin yang membaca al-Qur’an seperti buah utrujah– berlaku untuk siapa yang membacanya dan tidak menyelisihi perintah-perintah dan larangan-larangan yang terkandung di dalamnya, dan bukan untuk yang sekedar membacanya saja.

Jika ada yang mengatakan bahwa: ‘Jika benar seperti itu tentu pembagiannya akan menjadi lebih banyak, seperti: orang yang membacanya lagi mengamalkannya, yang membacanya tapi tidak mengamalkannya, yang tidak membacanya tapi mengamalkannya, dan yang tidak membacanya maupun mengamalkannya. Dan pembagian menjadi empat golongan ini baru sebatas untuk selain orang munafik. Adapun untuk orang munafik pembagiannya menjadi dua golongan saja, karena amalan orang munafik tidaklah teranggap sebagai amalan jika mereka pelaku nifak kekufuran.’, maka menjawab pernyataan tersebut, bahwa yang dihilangkan dari permisalan tadi ada dua golongan, yaitu: orang yang membaca al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya dan yang tidak membacanya maupun mengamalkannya. Kedua golongan dihapus karena keadaan mereka menyerupai keadaan orang munafiq. Diserupakan golongan pertama (yang membaca al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya) dengan raihanah, dan golongan kedua (yang tidak membacanya maupun mengamalkannya) dengan handzalah. Sehingga sudah mencukupi dengan disebutkannya permisalan untuk orang munafik bagi keduanya, adapun dua permisalan sisanya telah disebutkan secara terpisah.”

“Sabda beliau: ‘Tidak ada aroma padanya’, dalam riwayat Syu’bah bunyi lafazhnya: ‘baginya’.”

“Sabda beliau: ‘Dan permisalan seorang fajir (yang biasa berbuat dosa) yang membaca (al-Qur’an)’, dan pada riwayat dari Syu’bah lafazhnya: ‘Dan permisalan orang munafik’ sebagai pengganti kata al-fajir di kedua tempatnya.”

“Sabda beliau:  ‘Tidak ada aromanya.’ Dalam riwayat dari Syu’bah lafazhnya: ‘Aromanya pahit.’ Riwayat dari Syu’bah menjadi terasa agak ganjil, karena pahit adalah sifat yang biasa dihubungkan dengan rasa, maka mengapa dalam lafazh ini dikaitkan dengan aroma?

Jawaban saya (Ibnu Hajar): ‘Karena keadaannya yang beraroma tidak menyenangkan maka digunakanlah istilah pahit’. Al-Zarkasy memandang bahwa dalam riwayat (dari Syu’bah) ini terdapat kekeliruan, dan yang tepat adalah riwayat sebagimana yang ditulis di awal: ‘Tidak ada aromanya’. Dalam kitab al-Ath’imah setelah membawakan riwayat yang menggunakan lafadz ‘Tidak beraroma’ beliau berkata, ‘(Riwayat) ini lebih tepat daripada riwayat Tirmidzi yang mengatakan ‘Rasanya pahit dan aromanya juga pahit’,’. Kemudian beliau melanjutkan dengan menyebutkan arahan-arahannya, seolah-olah beliau tidak memunculkannya di kitab ini dan membahasnya, sehingga beliau nisbatkan riwayatnya kepada at-Tirmidzi. Dalam hadits tersebut terdapat keterangan tentang keutamaan penghafal al-Qur’an. Dibuatnya perumpamaan dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman. Adapun yang dimaksud dengan tilawah al-Qur’an adalah beramal sesuai dengan apa yang ditunjukkan al-Qur’an kepadanya.” (Fathu al-Bari [81/11])

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَسَلُوا اللَّهَ بِهِ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَهُ قَوْمٌ يَسْأَلُونَ بِهِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْقُرْآنَ يَتَعَلَّمُهُ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ يُبَاهِي، وَرَجُلٌ يَسْتَأْكِلُ بِهِ، وَرَجُلٌ يَقْرَأُهُ لِلَّهِ

“Pelajarilah al-Qur’an, dan mintalah kepada Allah Surga dengan amalan tersebut, sebelum adanya kaum yang mempelajarinya dan meminta dunia dengannya. Sesungguhnya ada tiga tipe orang-orang yang mempelajari al-Qur’an: lelaki yang mempelajarinya untuk kebanggan diri, lelaki yang mempelajarinya untuk mendapatkan makanan (harta dunia), dan lelaki yang mempelajarinya karena Allah.” (Ibnu Nashr dalam Qiyam al-Lail hlm. 74 dan al-Albany menshahihkannya dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 285)

Ibnu Qutaibah meriwayatkan dalam kitabnya ‘Uyun al-Akhbar, telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khunais, dia berkata: dari Dhiran bin ‘Amr dia berkata: dari al-Hasan dia berkata:

“Pembaca al-Qur’an itu ada tiga macam:

(Golongan yang pertama) lelaki yang menjadikan al-Qur’an seperti barang dagangan yang dia bawa dari satu negri ke negri yang lain, dengannya dia meminta sesuatu (harta) yang ada di sisi manusia.

(Golongan yang kedua) Kaum yang menghafal huruf-hurufnya namun melalaikan batasan-batasannya. Dengannya mereka mengharap-harap pemberian dari penguasa, dan dengannya pula mereka menzhalimi penduduk negrinya.

(Golongan yang ketiga) Lelaki yang membaca al-Qur’an, dia memulainya dari hal yang dia ketahui tentang pengobatan al-Qur’an yang kemudian dia gunakan untuk menyembuhkan penyakit hatinya. Dia tidak tidur di malam hari, kemudian matanya menangis, berhias dengan kekhusyuan dan kesedihan menyepi di mihrab-mihrab mereka. Maka kepada merekalah Allah menurunkan hujan dan menghilangkan bala…” (‘Uyun al-Akhbar [2/148])

Dari Iyas bin ‘Umar dia berkata:

“Ali bin Abu Thalib pernah memegang tanganku kemudian berkata: ‘Sesungguhnya engkau apabila masih hidup (akan melihat) tiga golongan yang membaca al-Qur’an: golongan yang membacanya karena Allah, golongan yang membacanya untuk perdebatan, dan golongan yang membacanya untuk mendapatkan dunia. Maka mereka akan mendapatkan sesuai yang menjadi motivasinya’.”

Berkata Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah:

 “Manusia dalam kaitannya dengan al-Qur’an ada empat tingkatan:

Yang  pertama: Ahlu al-Qur’an dan ahlu al-Iman, merekalah sebaik-baik manusia.

Yang kedua: Orang yang tidak dianugerahi al-Qur’an maupun keimanan.

Yang ketiga: Orang yang dianugerahi al-Qur’an namun tidak dianugerahi keimanan.

Yang keempat: Orang yang dianugerahi keimanan namun tidak dianugerahi al-Qur’an.

Mereka berkata: “Sebagaimana orang yang dianugerahi keimanan namun tidak dianugerahi al-Qur’an lebih utama dari orang yang dianugerahi al-Qur’an namun tidak dianugerahi keimanan, maka seperti itu juga orang yang mentadabburi dan memahami al-Qur’an lebih utama dari orang yang banyak dan bersegera dalam tilawah namun tidak mentadabburinya” (Zad al-Ma’ad 1:338-339)

Maka setelah ini pertanyaannya adalah termasuk golongan manakah kita? Dan bagaimana hubungan kita dengan Kitabullah?

Kita memohon kepada Allah agar kita dapat kembali kepada kitab-Nya dengan pengembalian yang baik.

 

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/338

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *