HUKUM BERIHRAM DI ATAS PESAWAT BAGI YANG MENGENDARAI PESAWAT

  • 4 min read
  • Aug 16, 2018
Pesawat

Soal:

Saya bekerja di penerbangan khusus di salah satu pangkalan udara. Bersama kami ikut terbang orang-orang yang kami antarkan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam salah satu penerbangan, kami terbang menuju Jeddah mengangkut para penumpang yang bepergian menuju Mekkah. Mereka berpesan: jika kami telah berada di atas wilayah miqat, tolong disampaikan kepada mereka. Namun kami lupa menyampaikannya kepada mereka. Hingga ketika tidak lama lagi untuk mendarat di Jeddah, saya pun menyampaikannya kepada pilot. Lalu pilot mengatakan: “Sampaikan saja kepada mereka bahwa sekarang kita sedang berada di atas miqat.”

Maka apakah para jamaah itu harus membayar sesuatu? Jika harus, maka apa yang harus mereka lakukan? Siapakah yang berdosa? Terima kasih.

Jawaban:

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membatasi miqat makani dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan ungkapan:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan untuk penduduk Madinah: Dzulhulaifah, untuk penduduk Syam: al-Juhfah, untuk penduduk Nejd: Qarn Manazil, untuk penduduk Yaman: Yalamlam. Beliau bersabda:

فَهُنَّ لَهُنَّ ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ ، وَكَذَا فَكَذَلِكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا

‘Maka mereka (miqat-miqat itu) untuk penduduknya dan untuk siapa saja yang datang melaluinya selain dari penduduknya yang ingin berhaji dan berumrah. Sedangkan siapa yang  tinggal di bawah (miqat-miqat itu), maka ia (berihram) dari kampungnya. Begitu pula, maka demikian pula penduduk Mekkah bertalbiyah (baca: berihram) darinya (Mekkah).” (HR. Al-Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181)

Para ulama telah berijma’ tentang miqat-miqat ini, dan bahwa ia adalah miqat untuk penduduknya serta untuk siapa saja yang mendatangi/melewatinya.

(Lih: al-Isyraf oleh Ibnu al-Mundzir 3/177, Maratib al-Ijma’ hal. 42, al-Istidzkar 11/76, dan al-Mughni 5/56)

Atas dasar ini, maka bagi siapa saja yang ingin berhaji atau berumrah tidak boleh melewati miqat yang telah ditetapkan untuknya; baik melalui jalur darat, atau laut, atau udara; berdasarkan atsar Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang berkata:

“Ketika kedua kota ini berhasil ditaklukkan, mereka menemui Umar lalu berkata: ‘Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan (miqat) Qarn Manazil untuk penduduk Nejd. Tapi itu jauh dari jalur perjalanan kami dan sungguh jika kami harus ke Qarn Manazil, maka itu akan memberatkan kami.’

(Umar) berkata: ‘(Jika begitu) maka lihatlah tempat yang sejajar dengannya dari jalan kalian.’ Maka beliau pun menetapkan Dzat ‘Irq (sebagai miqat) mereka.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1531)

Maka Umar radhiyallahu ‘anhu (sebagai khalifah-penj) menetapkan sebuah miqat bagi orang yang tidak melewati miqat (yang telah ditetapkan Rasulullah) melalui kesejajarannya. Sehingga siapa saja yang berada sejajar dengan miqat di udara, maka ia sama dengan yang bersejajar dengannya di darat.

Maka kewajiban siapa saja yang bersejajar dengan miqat di pesawat untuk berihram, dan yang lebih utama adalah jika ia berihram sebelum berada sejajar dengan miqat dikarenakan cepatnya perjalanan pesawat.

Adapun tentang para penumpang yang Anda tanyakan: maka mereka wajib segera mengenakan pakaian ihram, bertalbiyah untuk umrah atau haji. Jika mereka telah mengenakan pakaian ihram, maka mereka hanya perlu bertalbiyah untuk melakukan manasiknya (haji ataupun umrah), segera setelah Anda menyampaikan tentang posisi miqat kepada mereka. Tidak ada kewajiban lain bagi mereka selain itu selama mereka tidak menyengajakan melewati miqat tanpa ihram. Bahkan –dalam kasus ini- mereka samasekali tidak mengetahui bahwa mereka telah melewatinya tanpa berihram. Mereka hanya mengira bahwa tempat dimana mereka berihram adalah miqat mereka berlandaskan informasi yang Anda sampaikan.

Adapun tentang Anda (para petugas pesawat-penj), maka menjadi kewajiban Anda semua untuk mengingatkan para jamaah itu sebelum tiba di atas miqat dalam kadar waktu yang cukup untuk mereka melakukan persiapan. Ini adalah amanah dan tanggung jawab Anda semua.

Dan karena Anda lupa melakukannya, maka Anda tidak berdosa akibat kelalaian ini, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Allah tidak membebani satu jiwa kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Ia akan mendapatkan (balasan) apa yang dikerjakannya, dan ia akan menanggung (balasan) apa yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami terlupa atau tersalah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau memikulkan kami  beban seperti yang Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, dan janganlah Engkau memikulkan pada kami apa yang tidak mampu (memikulnya), maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami, Engkaulah Pelindung kami, maka menangkanlah kami atas orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 286)

Di dalam hadits qudsi disebutkan: Allah Ta’ala berfirman (merespon doa-doa dalam ayat di atas-penj): “Sungguh Aku telah melakukannya.” (HR. Muslim, no. 126)

Dari Abu Dzar al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

‘Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku: kesilapan, kealpaan dan sesuatu yang dipaksakan pada mereka.’” (HR. Ibnu Majah no. 2043, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Namun masalah besarnya bagi Anda adalah bahwa Anda seharusnya menyampaikan kondisi yang sebenarnya dan bahwa kalian benar-benar telah melewati miqat. Dan di saat seperti itu, maka mereka harus menunda ihramnya sampai turun dari pesawat, lalu kembali ke miqat (via darat-penj) untuk berihram dari sana.

Jika mereka berihram padahal sudah mengetahui bahwa mereka telah melewati miqat, maka mereka harus menyembelih hewan fidyah (dam).

Kenyataannya kesalahan yang kalian lakukan –Anda dan pilot- adalah pada pengelabuan informasi yang Anda berikan pada mereka dan tidak menyampaikan yang sebenarnya, dimana seharusnya kesalahan itu masih bisa diperbaiki (dengan berihram dari miqat via darat-penj).

Karena itu, kewajiban Anda –Anda dan siapa saja yang terlibat- untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala atas pengaburan informasi yang kalian lakukan, khususnya karena perkara ini berkaitan dengan keabsahan ibadah dan batasan-batasan yang ditetapkan Allah di dalamnya.

Seiring dengan taubat Anda kepada Allah Ta’ala atas kesalahan itu, Anda juga harus menghitung jumlah jamaah umrah tersebut –meskipun hanya perkiraan- dan menyembelih hewan hadyu untuk setiap mereka, karena Anda semualah yang menyebabkan mereka melewati miqat tanpa berihram, lalu Anda juga menghilangkan kesempatan mereka untuk memperbaiki kesalahan itu (dengan kembali ke miqat via darat-penj).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: tentang sekelompok orang yang pergi haji dengan transportasi umum, namun supirnya tidak menyadari posisi miqat kecuali setelah melewati 100 km. Lalu para penumpang memintanya untuk kembali ke miqat agar dapat berihram dari sana, namun ia menolak untuk kembali. Ia melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Jeddah. Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Beliau menjawab:

“Kewajiban sopir untuk berhenti di miqat agar jamaah dapat berihram. Jika ia lupa dan tidak mengingatnya kecuali setelah 100 km –seperti yang dikatakan oleh penanya-, maka ia wajib untuk kembali bersama jamaah agar mereka dapat berihram dari miqat, karena ia mengetahui bahwa mereka ingin melakukan umrah atau haji. Jika ia tidak melakukannya dan para jamaah (terpaksa) berumrah dari posisi mana mereka berada –yaitu setelah melewati 100 km-, maka setiap jamaah wajib menyiapkan hewan fidyah untuk disembelih di Mekkah, lalu dibagikan kepada kaum fakir, karena mereka telah meninggalkan salah satu kewajiban dalam rangkaian manasik; baik haji maupun umrah.

Dalam kondisi seperti ini, jika para jamaah itu memperkarakan sang sopir, maka pengadilan mungkin akan memutuskan agar ia memberikan ganti rugi atas hewan fidyah (yang harus disembelih jamaah) karena sang sopir yang menyebabkan itu semua. Ini kembali pada keputusan pengadilan: jika hakim memandang maslahat sang sopir menanggung semua fidyah yang disembelih oleh jamaah, karena dia yang lalai dan keliru: sebab melewati miqat dan menghalangi mereka untuk kembali (ke miqat).” (Lih: Majmu’ Fatawa al-Syaikh, 21/368)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/132269