Hukum Doa Qunut Dalam Shalat

  • 4 min read
  • Jun 12, 2018

Soal:

Saya ingin bertanya mengenai qunut di dalam shalat (mengangkat kedua tangan setelah ruku’) apakah amalan ini merupakan sunnah Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam– atau amalan ini termasuk dalam kategori pengecualian, yaitu disebabkan oleh kondisi yang mereka alami kala itu. Jika tidak keberatan, mohon pertanyaan saya dijawab, karena takmir masjid kami mengatakan bahwa Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah ditanya, shalat seperti apakah yang paling utama, beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– menjawab, yaitu shalat yang bacaan qunutnya panjang.

Jawaban:

Kata “Qunut menurut istilah para ahli fikih adalah kata benda untuk sebuah doa ketika shalat pada gerakan khusus saat posisi berdiri.

Qunut disyariatkan di dalam shalat witir dan dilakukan setelah ruku’, dari sekian pendapat para ulama, ini merupakan pendapat yang benar.

Qunut juga disyariatkan apabila kaum muslimin ditimpa musibah besar, yaitu berdoa setelah bangkit dari ruku’ di rakaat terakhir pada setiap 5 waktu shalat fardhu, sampai Allah menghilangkan musibah tersebut, melenyapkannya dari kaum muslimin.

Silakan lihat buku Tashhih ad-Du’a karya Syekh Bakr bin Abu Zaid (hal. 460).

Adapun qunut yang berlaku ketika shalat Subuh secara terus-menerus di segala kondisi, amalan ini tidak ada dalil yang shahih bersumber dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwa beliau mengkhususkan Qunut pada shalat Subuh, atau merutinkannya ketika shalat Subuh, namun ada dalil valid dari beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwasanya beliau membaca qunut dalam kondisi-kondisi genting tertentu.

Sehingga beliau pun membaca qunut ketika shalat Subuh dan shalat fardhu lainnya, beliau melaknat Ra’l, Dzakwan, dan ‘Ushayyah karena mereka semua ini telah membunuh para penghafal al-Qur`an yang diutus oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– agar mengajarkan nilai-nilai agama kepada mereka. Ada juga dalil valid, bahwa beliau membaca qunut pada shalat Subuh dan shalat fardhu lainnya, beliau mendoakan kaum mukminin yang lemah agar Allah menyelamatkan mereka dari serangan musuh,

Beliau pun tidak merutinkan qunut tersebut, dan sunnah ini diikuti oleh para Khulafaurrasyidin sepeninggal beliau. Sebaiknya –imam masjid- membaca qunut hanya di saat kondisi genting saja, sebagai wujud penerapan amalan dari Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Sebagaimana yang tertera secara valid yang diriwayatkan oleh Abu Malik al-Asyja’y, ia berkata:

“Saya berkata kepada ayah, ‘Wahai ayahku, Anda pernah shalat di belakang Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, di belakang Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali –Radhiyallahu ‘anhum– , apakah dahulu mereka membaca qunut dalam shalat Subuh?’, ayahnya menjawab, ‘Amalan baru apakah ini wahai putraku?’.” (HR. al-Khamsah kecuali Abu Daud, dinyatakan shahih oleh al-Albani di dalam al-Irwa no. 435).

Jika Anda mengatakan, apakah ada redaksi khusus untuk doa qunut dalam shalat witir? Serta doa qunut nazilah?

Maka jawabannya:

Doa qunut yang dibaca saat shalat witir mempunyai ragam macamnya di dalam hadits, di antaranya:

  1. Redaksi yang pernah diajarkan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– kepada Hasan bin Ali –Radhiyallahu ‘anhuma– yaitu,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ

Ya Allah, berikanlah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berikanlah aku keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau selamatkan, tolonglah aku sebagaimana orang yang telah Engkau tolong. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha’ (ketetapan), dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan hina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Tinggi, tidak akan ada yang selamat dari-Mu kecuali Engkau yang menyelamatkan.” (HR. Abu Daud no. 1213, an-Nasa’i no. 1725, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani di dalam al-Irwa no. 429).

  1. Dari Ali bin Abu Thalib, bahwasanya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah membaca di akhir shalat witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dan siksaan-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari ancaman-Mu. Aku tidak membatasi untuk memuji-Mu. Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri.” (HR. at-Tirmidzi no. 1727, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani di dalam al-Irwa no. 430 dan Shahih Abi Daud no. 1282).

Kemudian bershalawat untuk Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, sebagaimana yang tercantum secara valid dari beberapa sahabat –Radhiyallahu ‘anhum– di akhir qunut witir, di antaranya: Ubay bin Ka’ab, Mu’adz al-Anshary –Radhiyallahu ‘anhuma-. Silakan lihat buku Tashhih ad-Du’a karya Syekh Bakr bin Abu Zaid (hal. 460).

Membaca doa qunut saat ditimpa musibah:

Di dalam doa qunut nazilah, seseorang berdoa sesuai dengan kondisinya, sebagaimana yang tercantum Sunan Abi Dawud di dalam hadits, dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– melaknat beberapa kabilah Arab, lantaran pengkhianatan mereka serta pembunuhan terhadap para sahabat. Beliau juga pernah berdoa kebaikan untuk kaum mukminin yang lemah di Mekkah, memohon kepada Allah Ta’ala agar menyelamatkan mereka. Ada sebuah hadits mengatakan, bahwa Umar pernah membaca doa qunut dengan doa berikut:

اللهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ ، وَنُؤْمِنُ بِكَ ، ونَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلَا نَكْفُرُكَ، اللهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكَافِرِينَ مُلْحِقٌ، اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ

Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami bertawakal kepada-Mu, Kami Memuji-Mu dengan kebaikan dan tidak bersikap kufur kepada-Mu, Ya Allah, sesungguhnya kami menyembah-Mu, kepada-Mu kami shalat dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan melayani. Kami mengharapkan rahmat-Mu, kami takut akan siksa-Mu, sesungguhnya siksaan-Mu sangat keras akan menimpa orang-orang yang kafir. Ya Allah, siksalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab yang menghalang-halangi orang yang hendak menuju jalan-Mu.” (HR. al-Baihaqi 2/210, dinyatakan shahih oleh al-Albani di dalam al-Irwa’ 2/170, al-Albani  menuturkan: “(Riwayat ini) bersumber dari Umar mengenai qunut dalam shalat Subuh, namun yang jelas peristiwa tersebut adalah qunut nazilah, sebagaimana dirasa bahwa beliau melaknat kaum kafir.”

Jika Anda bertanya: Apakah boleh saya berdoa dengan selain yang disebutkan di atas?

Jawaban: Iya, boleh saja.

An-Nawawy menuturkan di dalam al-Majmu’ (3/497),

“Pendapat yang benar dan populer serta ditetapkan oleh mayoritas ulama, bahwa redaksi doa tersebut tidak paten (artinya tidak harus dengan redaksi tersebut), tetapi doa qunut tetap sah dibaca dengan bentuk doa apa pun.”

Meskipun redaksi doa yang tercantum tidak ditentukan, serta Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pun tidak pernah berdoa dengan selain doa itu, namun seseorang boleh menambah doanya.

Syekh al-Albani –Rahimahullah– menuturkan,

“Seseorang tidak dilarang untuk menambahnya (doa qunut), dengan melaknat kaum kafir, atau shalawat untuk Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, serta mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin.” (Lih: Qiyam Ramadhan karya al-Albani, hal. 21).

Tersisa satu pertanyaan penting di sini yaitu, apakah doa qunut dibaca sebelum ruku’ atau sesudahnya?

Jawabannya:

Kebanyakan hadits serta mayoritas para ulama mengatakan, bahwa qunut dibaca setelah ruku’. Akan tetapi, bila dibaca sebelum ruku’ pun tidak masalah. Seseorang diberi pilihan:

Pertama: ruku’ setelah menyelesaikan bacaan surat al-Qur`an, dan saat bangkit dari ruku’ ia membaca, “Rabbana wa lakal hamdu…” lalu membaca qunut.

Kedua: membaca qunut setelah menyelesaikan bacaan surat al-Qur`an, kemudian takbir dan ruku’. Semua tata cara ini tertera di dalam as-Sunnah.” (Lih: penjelasan Syekh Muhammad Ibnu Utsaimin –Rahimahullah– di dalam asy-Syarh al-Mumti’, 4/64).

Catatan:

Pernyataan penanya (Shalat yang terbaik adalah yang qunutnya panjang), barangkali yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 1257, dari Jabir –Radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

 “Shalat terbaik adalah yang qunutnya panjang.”

An-Nawawy menuturkan, “Maksud dari qunut di sini ialah berdiri lama, dan menurut sepengetahuan saya, pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama.”

Kata “qunut dalam hadits tersebut bukan bermaksud doa setelah bangkit dari ruku’, tetapi maksudnya berdiri lama.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/20031