Hukum Hutang Puasa Yang Belum Terqadha’ Padahal Sudah Berlalu Dua Tahun Karena Si Wanita Masih Saja Belum Mampu Mengqadha’nya

  • 2 min read
  • Jul 11, 2018

Soal:

Saudari saya pernah meninggalkan puasa beberapa hari pada bulan Ramadhan di tengah masa kehamilannya dua tahun silam. Sementara hingga sekarang dia masih terhalang untuk bisa mengqadha’nya. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Ibu hamil -begitu pula ibu menyusui-, jika dia mengkhawatirkan keselamatan diri atau janinnya, maka dia berhak meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Namun dia wajib untuk mengqadha’nya saja (tanpa ditambah fidyah). Karena dia sama seperti orang yang sakit, yang berudzur karena sakitnya itu.

Lalu jika memungkinkan untuk mengqadha’ hutang puasanya sebelum masuk Ramadhan tahun berikutnya, maka dia wajib untuk menyegerakan pelaksanan qadha’ itu. Tidak boleh menunda pelaksanaan hingga lewat Ramadhan berikutnya.  Namun jika keadaan udzurnya ini berlanjut, misalnya karena si ibu masuk dalam masa kehamilan baru, masa menyusui berikutnya, atau karena ada sakit setelah itu dan lain sebagainya, sehingga terhalang untuk menunaikan qadha’ hingga datang Ramadhan setelahnya maka dia tidak berdosa, karena penundaannya berkaitan dengan udzur yang berlanjut. Ia hanya wajib melaksanakan qadha’ itu kapanpun keadaanya memungkinkan nantinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Ada seorang wanita meninggalkan puasa Ramadhan karena nifas. Lalu dia tidak mampu mengqadha’nya tahun itu karena masa menyusui hingga bertemu ramadhan berikutnya, apa yang harus ia lakukan?”

Beliau menjawab,

“Yang wajib bagi wanita ini adalah berpuasa qadha’ sebagai ganti hari-hari yang dia tinggalkan, meskipun baru bisa melakukannya setelah lewat ramadhan berikutnya. Karena dia menunda pelaksanaan itu hanya karena uzur yang berkelanjutan.

Memang jika bisa melaksanakannya meskipun tidak berurutan sekaligus, dicicil sehari dilanjutkan hari lain, hendaknya diusahakan, meskipun sambil menyusui. Dia harus bersemangat dan berjuang membayar hutang puasa tahun lalu itu sekuat tenaga, sebelum datang ramadhan berikutnya. Jika hal itu tidak tercapai barulah bisa dikatakan dia tidak berdosa jika harus mengqadha’nya setelah lewat ramadhan berikutnya.”

Beliau juga pernah ditanya,

“Seorang wanita meninggalkan puasa Ramadhan karena persalinan. Lalu ia tidak mampu mengqadha’ sebulan penuh yang dia tinggalkan itu. Setelah itu telah berlalu masa yang panjang namun ia tetap belum mampu membayar hutang puasanya. Bagaimana hukumnya?”

Beliau menjawab,

“Yang wajib bagi wanita ini adalah bertaubat kepada Allah atas perbuatannya tersebut. Karena tidak boleh seseorang menunda pelunasan hutang puasa ramadhan hingga bertemu ramadhan berikutnya kecuali karena ada udzur yang syar’i. Maka ia wajib bertaubat. Lalu kalau dia mampu mengqadha’ puasanya meskipun dengan cara dicicil sehari demi sehari tidak berturutan maka hendaknya ia usahakan hal itu. Namun jika dia memang tidak mampu, maka perlu diperhatikan; jika hal itu karena udzur yang memang berkelanjutan; maka dia membayar fidyah, sejumlah hari yang ditinggalkan dikalikan seporsi makanan mengenyangkan untuk fakir-miskin. Namun jika hanya karena udzur yang tidak berkelanjutan, bisa diharapkan segera hilang, maka ditunggu hingga saat udzurnya berakhir, lalu dia bisa mengqadha’ hutang puasanya itu.”

Penanya dalam hal ini tidak menerangkan alasan saudarinya tidak mampu melaksanakan qadha’. Jika itu berupa udzur temporer, bisa diharapkan ada akhirnya (misal karena kehamilan, masa menyusui, atau sakit biasa) maka dia wajib mengqadha’ segera saat memungkinkan.

Namun jika berupa udzur yang permanen seperti sakit menahun yang susah diharapkan sembuhnya, maka dia tidak wajib mengqadha’. Hanya wajib membayar fidyah, sehari yang ditinggalkan diganti seporsi makan mengenyangkan untuk fakir-miskin.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/101100