Hukum Imam yang Mengakhirkan Shalat Witir

0
80

Soal:

Saya akan menjadi imam shalat tarawih bagi kawan-kawan, kami akan shalat 8 rakaat, kemudian 3 rakaat witir. Apakah benar, bahwa sesuatu yang harus saya lakukan sebelum tidur ialah shalat witir atau hukumnya hanya sunnah, berdasarkan apa yang telah dikerjakan oleh Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam-?

Apabila saya hendak shalat tahajud di malam hari, apakah sebaiknya saya mengakhirkan shalat witir setelah shalat tahajud, dan saya tidak shalat witir bersama jamaah? Atau saya tetap mengimami mereka satu rakaat, namun niatnya shalat sunnah biasa (shalat sunnah secara mutlak), sementara mereka niatnya witir?

Jawaban:

Seorang muslim disunnahkan agar menjadikan witir sebagai penutup shalat malamnya, landasannya ialah sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malam kalian.” HR. al-Bukhary no. 998 dan Muslim no. 751.

Perintah ini bersumber dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– yang statusnya sunnah dan bersifat lebih utama, bukan wajib dan suatu keharusan; karena terbukti dalam hadits Shahih Muslim no. 738, dari Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, bahwasanya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat dua rakaat setelah witir sambil duduk.

An-Nawawy –Rahimahullah– bertutur:

“Pendapat yang lebih tepat, bahwa dua rakaat tersebut dikerjakan oleh beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– setelah witir sambil duduk; sebagai penjelasan, bolehnya seseorang shalat lagi setelah witir, serta bolehnya shalat sunnah sambil duduk, namun memang beliau tidak merutinkannya, bahkan hanya sekali atau dua kali atau beberapa kali saja…

Berbagai riwayat populer yang tercantum dalam al-Shahihain (al-Bukhary dan Muslim) dari Aisyah serta riwayat-riwayat lainnya dari kalangan sahabat di dalam al-Shahihain pula, secara jelas menyebutkan bahwa witir sebagai penutup shalat malam beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Di dalam ash-Shahihain banyak hadits masyhur berisi perintah agar menjadikan witir sebagai penutup shalat malam, di antaranya:

“Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malam kalian”,

“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat, jika di antara kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka shalatlah satu rakaat witir.”

Dan hadits lainnya. Lantas bagaimana mungkin, dengan melimpahnya hadits semacam ini, seseorang mengira bahwa beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– merutinkan shalat dua rakaat setelah witir dan menjadikannya sebagai penutup shalat malamnya? Makna sebenarnya adalah sebagaimana yang telah kami paparkan di atas yaitu menunjukkan shalat dua rakaat setelah witir, hukumnya sekedar boleh. Jawaban inilah yang benar.”

Syekh Ibnu Baz pun menjelaskan hikmah di balik shalatnya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dua rakaat setelah witir, berikut redaksinya:

“Hikmah di balik tindakan tersebut –Wallahu a’lam– sebagai penjelasan bagi umat, bahwa setelah witir boleh shalat (sunnah) lagi.” (Lih: Fatawa islamiyyah (1/339)

Apabila Anda hendak shalat tahajud malam, maka Anda boleh shalat witir berjamaah, kemudian setelah itu shalat lagi sekehendak Anda: dua rakaat, dua rakaat, namun tidak boleh mengulang witirnya.

Anda pun boleh tidak shalat witir bersama jamaah, dan mengakhirkan witir hingga nantinya menjadi penutup shalat malam.

Dalam kondisi semacam ini, Anda harus senantiasa shalat berjamaah bersama mereka, jika memang tidak ada orang lain yang mengimami shalat witir mereka. Namun tindakan Anda yang mengakhirkan shalat witir tersebut, bisa menjadikan mereka tidak shalat witir atau shalatnya kurang sempurna, maka sebaiknya tetaplah shalat berjamaah bersama mereka.

Syekh Ibnu Baz pernah ditanya:

“Apabila saya shalat witir di awal malam, kemudian bangun di akhir malam, bagaimana tata cara shalatnya?”

Beliau menjawab:

“Apabila Anda shalat witir di awal malam, kemudian Allah memudahkan Anda untuk bangun kembali di akhir malam, maka shalatlah semampu Anda genap –yakni dua rakaat, dua rakaat- tanpa witir, ini berdasarkan sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

‘Tidak boleh mengerjakan shalat witir dalam satu malam’.

Dan sebagaimana tertera secara valid dari hadits Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat dua rakaat setelah witir sambil duduk.” (Lih: Fatawa Islamiyyah (1/339).

Sedangkan pernyataan Anda, bahwa Anda shalat mengimami mereka witir, namu berniat shalat sunnah biasa bukan witir, maka amalan ini tidak disyariatkan berdasarkan sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.” (HR. al-Bukhary no. 472 dan Muslim no. 749). Silakan lihat al-Mughni (2/539).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan:

“Hadits itu sebagai dalil, tidak boleh seseorang shalat sunnah kurang dari dua rakaat, kecuali witir.”

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/37729

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here