Hukum Manula yang Tak Mampu Lagi Berpuasa

0
109

Soal:

Ibuku sudah sangat renta dan mulai sakit-sakitan sejak setahun terakhir. Beliau tidak mampu berpuasa kecuali hanya sepuluh hari saja, itu pun tubuhnya sangat lemah dan tidak kuat lagi menahan beratnya puasa. Pertanyaan saya, Bagaimana saya harus mengqadha’ hari-hari yang beliau lewatkan?

Jawaban:

Jika si Ibu tidak mampu berpuasa karena alasan sakit, dan dia diharapkan akan bisa sembuh dan kuat untuk melakukan puasa lagi lain kali, maka dia wajib mengqadha’ sendiri hari-hari yang dia tinggalkan dari bulan Ramadhan itu sesuai firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa saja yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yang dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):185)

Namun jika beliau memang tidak kuat lagi untuk menjalani puasa, dan tidak bisa diharap suatu saat akan bisa melaksanakannya di lain waktu karena sakitnya atau faktor usia. Maka dia memang tidak wajib melakukan puasa. sebagai gantinya dia harus memberi makan seorang miskin untuk tiap hari yang  ditinggalkannya.

Dalil untuk hal itu adalah hadits riwayat Abu Dawud (2318) dari Ibnu ‘Abbas mengenai tafsir firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu (lalu meninggalkannya)  wajib menggantinya dengan fidyah berupa sedekah makanan untuk orang miskin.”

Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini adalah rukhshah (keringanan) bagi lelaki jompo dan wanita tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, maka boleh tidak puasa. dan sebagai gantinya mereka harus bersedekah makanan untuk seorang miskin untuk tiap hari yang mereka tinggalkan.“ Imam Nawawi menyatakan sanad hadits ini hasan.

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (6/262) juga menyatakan,

“Imam Syafi’i dan para tokoh madzhabnya menyatakan, “Lelaki tua yang kepayahan untuk melakukan puasa atau merasa sangat berat dalam menjalaninya, dan si sakit yang tidak bisa diharap akan sembuh. Mereka tidak wajib berpuasa. Hal ini tidak diperselisihkan lagi. Bahkan Ibnu al-Mundzir menukil adanya ijma’ (konsensus) dalam hal itu. Yang wajib bagi mereka adalah menunaikan fidyah menurut pendapat paling sahih dari dua riwayat yang ada.”

Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa  (15/203) pernah ditanya tentang wanita tua renta yang tidak  mampu lagi untuk berpuasa, apa yang harus dia lakukan?

Beliau menjawab,

“Wanita ini wajib memberi makan orang miskin, untuk setiap hari yang dia tinggalkan diganti dengan setengah sha’ bahan makanan pokok warga setempat. Bisa berupa kurma, beras atau semisalnya. Jumlah itu sebagaiman difatwakan oleh sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Jika wanita ini ternyata fakir, tidak mampu memberikan sedekah makanan. Maka dia tidak terkena kewajiban apapun dan tidak berdosa. Fidyah ini boleh diberikan kepada satu orang miskin atau lebih. Boleh ditunaikan di awal bulan, pertengahan, maupun di akhir.”

Al-Lajnah al-Da’imah (10/161) pernah ditanya mengenai seorang wanita yang sudah sangat lanjut usianya, tidak mampu lagi melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Sudah tiga tahun terakhir dia dalam keadaan seperti itu, tua renta dan mulai sakit-sakitan, apa yang harus dilakukannya?

Lembaga itu menjawab,

“Jika faktanya sesuai yang disebutkan, maka dia wajib memberi makan  seorang miskin sebagai ganti setiap hari yang dia tinggalkan puasanya di bulan Ramadhan selama tiga tahun terakhir itu. Dia berikan sedekah fidyah itu dengan takaran setengah sha’ berupa biji gandum atau kurma. Boleh juga dalam bentuk beras atau jagung. Atau yang semisalnya sesuai bahan makanan pokok yang biasa dikonsumsi.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49768

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here