Hukum Mastrubasi Tanpa Ejakulasi Di Bulan Ramadhan

  • 2 min read
  • May 31, 2018

Soal:

Ketika saya berusia remaja, saya sering melakukan masturbasi di sebagian hari (siang hari) pada bulan Ramadan. Akan tetapi, saya tidak membiarkan mani saya keluar dari kemaluan dengan menahannya. Hanya saja saya telah merasakan kenikmatan dan syahwat.

Apa hukum puasa saya ini, bagaimana saya bisa menghapuskan dosa besar tersebut, dan sebagai informasi, saya tidak mengetahui berapa kali saya melakukan perbuatan tersebut?

Jawaban:

Ketahuilah bahwa masturbasi diharamkan oleh syariat, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh  al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Masturbasi juga dianggap buruk baik secara fitrah maupun akal. Tidak layak bagi seorang muslim mendekatkan dirinya dengan perbuatan ini.

Kemudian ketahuilah, bahwa maksiat dapat mendatangkan kemalangan bagi seseorang, baik itu disegerakan di dunia, ataupun di akhirat, jika orang tersebut tidak bertaubat dan Allah menghalanginya dari rahmat-Nya.

Adapun hukum dari masalah yang telah disebutkan dalam pertanyaan: apabila dia membiasakan masturbasi dan tidak keluar mani dengan cara apapun, maka puasanya tetap sah -berdasarkan pendapat yang paling shahih dari beberapa pendapat para ulama-. Karena yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah keluar-tidaknya mani. Jika maninya keluar, maka batallah puasanya dan dia wajib mengqadha. Jika tidak keluar, maka puasanya tidak batal.

Tetapi Anda tetap diharuskan bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dalam kondisi apapun serta memohon ampun karena  telah menyia-nyiakan puasanya dengan perbuatan semacam ini.

Dan bisa jadi, mani akan keluar setelah beberapa lama walaupun Anda berusaha menahannya. Maka jika keluar, ketika itu puasa Anda batal dan Anda wajib mengqadhanya. Jika Anda tidak mengetahui jumlah hari puasa Anda yang batal, maka perkirakanlah dengan teliti sampai Anda mencapai dugaan terkuat, lalu dengan sejumlah hari itu Anda melakukan qadha.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam kitab Syarh Zadu Al-Mustaqni’:

“Apakah mungkin mani berpindah tanpa keluar (dari kemaluan)? Ya, hal itu mungkin saja terjadi, dengan melemahnya syahwat setelah mani berpindah dengan sesuatu sebab, sehingga mani tidak keluar.”

Sebagian ulama berpendapat, tidak wajib mandi junub dengan perpindahan air mani. Inilah pendapat yang benar. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hadits Ummu Salamah, di dalamnya terdapat (sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) : “Ya, jika dia melihat mani.” Beliau tidak mengatakan, “Jika dia merasakan adanya perpindahan mani. Seandainya perpindahan mani menyebabkan wajib mandi, niscaya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pasti telah menjelaskannya, karena terdapat kebutuhan untuk menjelaskannya.
  2. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry: “Sesungguhnya air (mandi junub) adalah karena air (diwajibkan karena keluar mani).” Sedangkan dalam kondisi ini (perpindahan mani) tidak terdapat air (mani yang keluar). Hadits ini menunjukkan bahwa jika tidak ada air mani yang keluar, maka tidak ada kewajiban mandi junub.
  3. Hukum asalnya adalah bahwa seseorang tetap dalam keadaan suci dan tidak ada kewajiban untuk mandi junub. Kedudukan hukum asal ini tidak dapat dialihkan kecuali dengan adanya dalil yang mengubahnya dari kondisi asal.

(Lihat: al-Syarh al-Mumti’ 1/280, al-Furu 1/197, al-Mabsuth 1/67, al-Mughny 1/128, al-Majmu’ 2/159, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 4/99)

Wallaahu a’lam.

Link : https://islamqa.info/ar/40664