HUKUM MELAKUKAN TAWAF DAN SA’I DENGAN MOBIL LISTRIK MASJIDIL HARAM

  • 5 min read
  • Aug 16, 2018
Tawaf

Soal:

Apakah hukum sa’i dengan kereta/mobil listrik Masjidil Haram bagi seorang pemuda yang mampu berjalan dan masih sangat fit, tidak mempunyai udzur yang menghalanginya berjalan? Apakah pahala orang yang sa’i dengan berjalan kaki sama dengan pahala orang yang sa’i dengan menaiki sesuatu? Atau berjalan kaki lebih banyak pahalanya?

Jawaban:

Pertama:

Umumnya para ulama telah bersepakat bahwa tawaf dan sa’i sambil berjalan kaki itu lebih utama daripada sambil mengendarai kendaraan. Ibnu Qudamah mengatakan:

“Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa tawaf dengan berjalan kaki itu lebih utama; karena para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tawaf dengan berjalan kaki. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di selain Haji Wada’ melakukan tawaf dengan berjalan kaki.” (Lih: al-Mughni 5/250)

Kedua:

Para ulama sepakat bahwa orang yang memiliki udzur diperbolehkan melakukan tawaf dan sa’i dengan berkendara; baik udzurnya disebabkan penyakit, atau kelemahan fisik, atau kepayahan, atau usia lanjut, serta yang semacamnya. Berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, yang berkata:

“Aku pernah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saya memiliki keluhan, maka beliau berkata:

طُوفِي مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنْتِ رَاكِبَةٌ

‘Tawaflah di belakang orang-orang dengan engkau menggunakan kendaraan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al-Hafizh (Ibnu Hajar) mengatakan:

“(Hadits ini) menunjukkan bolehnya melakukan tawaf bagi yang berkendara jika disebabkan oleh udzur. Beliau tidak lain menyuruhnya (Ummu Salamah) melakukan tawaf di belakang orang banyak agar itu lebih menutupi (aurat)nya dan juga tidak memutuskan shaf-shaf mereka serta  mereka tidak terganggu dengan kendaraannya.” (Lih: Fath al-Bary, 3/481)

Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Seorang yang melakukan tawaf dengan berkendara dan diangkut karena udzur itu dibolehkan berdasarkan nash (dalil) serta kesepakatan para ulama.” (Lih: Majmu’ al-Fatawa, 26/188)

Beliau juga mengatakan:

“Dan jika tidak memungkinkan baginya melakukan tawaf dengan berjalan kaki, lalu ia melakukan tawaf dengan berkendara atau dalam keadaan diangkut: maka itu boleh sesuai kesepakatan para ulama.” (Lih: Majmu’ al-Fatawa, 26/125)

Ketiga:

Adapun tawaf dan sa’i dengan menggunakan kendaraan bagi orang yang tidak punya udzur, maka ini diperselisihkan oleh para ulama:

Kalangan Syafi’iyah dan Zhahiriyah berpandangan bahwa tawaf dan sa’i orang yang berkendara itu sah secara mutlak (dengan atau tanpa udzur); karena yang menjadi tuntutan adalah melakukan tawaf di Baitullah dan sa’i antara Shafa dan Marwah, entah itu dilakukan dengan berjalan ataupun berkendara, maka ia telah memenuhi apa yang wajib.

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1530) dan Muslim (no. 1272), dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan tawaf dalam haji wada’ dengan mengendarai unta.”

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan itu tidak lain karena kemaslahatan, yaitu agar orang-orang melihat dan mempertanyakannya kepada beliau.

Dalam Shahih Muslim (no. 1273), dari Jabir, ia berkata:

طَافَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِمِحْجَنِهِ؛ لِأَنْ يَرَاهُ النَّاسُ ، وَلِيُشْرِفَ ، وَلِيَسْأَلُوهُ ، فَإِنَّ النَّاسَ غَشُوهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tawaf di Baitullah saat haji Wada’ di atas hewan tunggangannya seraya menyentuh Hajar Aswad dengan tongkatnya, agar orang-orang melihatnya, dan agar beliau bisa tampak jelas hingga mereka bertanya kepada beliau, sebab (jika tidak begitu) orang-orang akan menutupinya.”

Maksudnya: berdesakan di dekat beliau.

Al-Nawawi mengatakan: “Ini adalah penjelasan tentang alasan (illat) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengendarai kendaraan.” (Lih: Syarh Shahih Muslim, 9/19)

Adapun apa yang disebutkan dalam Sunan Abi Dawud (no. 1881), dari jalur Yazid bin Abi Ziyad, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas:

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang ke Mekkah dalam keadaan mengeluh(kan sakitnya), lalu beliau pun tawaf di atas tunggangannya.”

Maka ini adalah riwayat yang lemah, tidak dapat dijadikan landasan dalam menjelaskan alasan beliau mengendarai tunggangannya.

Diantara ulama yang melemahkannya adalah: al-Baihaqy dalam Ma’rifah al-Sunan wa al-Atsar (7/258), Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (5/142), al-Syaukany dalam Nail al-Authar (5/122), al-Mubarakfury dalam Tuhfah al-Ahwadzy (3/298), al-Albany dalam Dha’if Sunan Abi Dawud.

Imam al-Syafi’i mengatakan:

“Maka Jabir menyampaikan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukan tawaf dengan berkendara, dan menyampaikan bahwa beliau melakukan itu tidak lain agar orang-orang melihatnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak tawaf dalam keadaan sakit, dan saya tidak pernah tahu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dalam ibadah hajinya itu.” (Lih: al-Umm, 3/443)

Ibnu Abbas mengatakan:

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikerumuni banyak orang (saat haji Wada’-penj). Mereka berkata: ‘Ini Muhammad! Ini Muhammad!’ Sampai-sampai kaum wanita keluar dari rumah-rumahnya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak ada manusia yang dipukul di hadapan beliau. Maka ketika (orang) semakin banyak, beliau menaiki tunggangannya. Dan berjalan serta berlari kecil itu lebih utama.” (HR. Muslim no. 1264)

Pendapat ini dipilih oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau pernah ditanya tentang orang yang berkendara saat tawaf atau sa’i padahal tidak ada hajat untuk itu, apa yang harus dilakukannya? Beliau menjawab:

“Tawafnya sah, sa’inya juga sah, karena Nabi melakukan tawaf (seperti itu) padahal beliau sehat. Adapun hadits Ibnu Abbas bahwa beliau sakit lalu berkendara, maka itu dha’if. Dalam (sanad)nya ada Yazid bin Abi Ziyad. Pendapat yang benar adalah beliau berkendara untuk menghilangkan kesulitan untuk orang banyak agar mereka tidak terganggu atau mengganggu beliau.” (Sumber: rekaman audio penjelasan kitab al-Manasik min al-Muntaqa min Akhbar al-Mushthafa.

Jumhur ulama berpendapat bahwa tawaf dan sa’i dengan berkendara tanpa udzur itu dilarang. Di antara mereka ada yang mengharuskan ia membayar fidyah jika ia melakukannya dan ia tidak dapat mengulanginya.

Diantara mereka ada yang menganggap tawaf dan sa’inya batal hingga wajib diulangi, sebagaimana dalam madzhab Hanabilah.

Ibnu al-Jauzy mengatakan:

“Mereka berbeda pendapat tentang orang yang melakukan tawaf dengan berkendara tanpa udzur. Ada 2 riwayat dari Imam Ahmad:

Yang pertama: membolehkan tanpa harus membayar diyat. Ini (juga) pendapat al-Syafi’i.

Kedua: itu tidak sah dilakukannya.

Sementara Abu Hanifah dan Malik berpendapat: (perbuatan itu) sah namun ia wajib membayar dam.” (Lih: Kasyf al-Musykil min Hadits al-Shahihain, 2/433)

Ibnu Qudamah mengatakan:

“Maka adapun tawaf dengan berkendara atau diangkut tanpa udzur, maka yang dipahami dari perkataan al-Khiraqy adalah bahwa ia tidak sah. Dan itu adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad…karena ia adalah ibadah yang berkaitan dengan Baitullah, sehingga tidak sah dilakukan dengan berkendara tanpa udzur, sama seperti shalat.

(Riwayat) kedua: (perbuatan itu) sah namun ditutupi dengan dam. Ini adalah pendapat Malik, juga dikatakan oleh Abu Hanifah.” (Lih: al-Mughni, 5/250).

Dan hukum sa’i serta tawaf itu sama menurut Jumhur Ulama. Al-Mardawi mengatakan:

“Melakukan sa’i dengan berkendara itu sama dengan tawaf dengan berkendara, berdasarkan pendapat yang shahih dalam madzhab (Hanbaly).” (Lih: al-Inshaf, 4/13)

Kesimpulannya:

Bahwa orang yang melakukan tawaf atau sa’i sepatutnya melakukan tawaf dan sa’i dengan berjalan kecuali jika ada udzur. Itulah yang paling utama berdasarkan ijma’ para ulama.

Namun jika ia melakukan tawaf atau sa’i dengan berkendara tanpa udzur, maka telah dijelaskan pula perbedaan pendapat ulama tentangnya. Dan pendapat yang kuat adalah bahwa tawaf dan sa’inya sah in sya’aLlah.

Tapi harus diingat bahwa itu tidak sepatutnya dikerjakan sejak awal demi berjaga-jaga terhadap ibadahnya dan keluar dari perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Sebagian orang meremehkan hal itu, lalu melakukan sa’i dengan kereta dorong tanpa udzur, padahal banyak ulama yang mengatakan bahwa sa’i dengan berkendara itu tidak sah jika tanpa udzur.

Masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan para ulama –yaitu apakah dipersyaratkan dalam sa’i bahwa orang yang mengerjakan sa’i harus berjalan kecuali jika ada udzur atau tidak harus begitu? Tapi seseorang sepatutnya berhati-hati terhadap agamanya, dan melakukan sa’i dengan berjalan kaki selama ia mampu. Namun jika tidak mampu, maka Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (Lih: Majmu Fatawa, 22/451)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/245736