Hukum Memakai Pakaian Biasa Di Atas Pakaian Ihram Sebelum Mulai Melakukan Prosesi Umrah/Haji?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Ihram

Soal:

Saya akan bepergian untuk umrah pekan depan in sya’aLlah. Saya berniat untuk berihram dari rumah saya di Kairo; agar saya tidak kesulitan untuk mandi dan mengganti pakaian saat berada di atas miqat dalam pesawat. Tapi cuaca sedang dingin, dan pakaian ihram yang tipis telah menyebabkan saya jatuh sakit dalam perjalanan menuju bandara, apalagi kekebalan tubuh saya sedang melemah akibat pengobatan yang saya jalani.

Maka apakah boleh saya mulai melakukan beberapa langkah berihram dari rumah dengan mandi, memakai wewangian dan mengenakan pakaian ihram serta shalat, dengan menunda ucapan “Labbaika ‘umratan” dan talbiyah? (Bolehkah juga) saya mengenakan pakaian yang tebal dan berjahit di atas kain ihram, yang kemudian saya lepaskan sebelum mengucapkan “Labbaikan ‘umratan” dan talbiyah di bandara atau di dalam pesawat?

Jawaban:

Boleh saja bagi orang yang ingin berhaji atau berumrah untuk mandi, memakai wewangian lalu mengenakan pakaian (berjahit) di atas pakaian ihram serta masih melakukan apa yang terlarang saat sudah ihram, selama ia belum berniat untuk masuk dalam proses manasik (rangkaian ritual haji atau umrah). Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i (no. 2636), dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

طَيَّبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عِنْدَ إِحْرَامِهِ ، حِينَ أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ ، وَعِنْدَ إِحْلَالِهِ

“Aku telah memakaikan wewangian pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pakaian ihramnya saat beliah hendak berihram, dan saat beliau bertahallul…” (Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan al-Nasa’i)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

“Hadits ini dijadikan dalil yang menunjukkan disunnahkannya memakai wewangian pada saat berihram dan bolehnya hal itu berlanjut hingga setelah berihram, dan bahwa tertinggalnya warna dan baunya (setelah berniat ihram-penj) tidak mempengaruhi ihramnya. Yang diharamkan tidak lain adalah mulai memakainya setelah berihram, dan ini adalah pendapat Jumhur.” (Lih: Fath al-Bary 3/390)

Syekh Ibn Baz rahimahullah mengatakan:

“Tidak mengapa melakukan mandi, memakai pakaian ihram dan wewangian dari rumah-rumah mereka, disebabkan dekatnya mereka dari miqat dengan menggunakan mobil. Namun yang dianjurkan syariat adalah hendaknya mereka tidak berihram kecuali dari miqat. Dan yang dimaksud dengan ihram adalah berniat untuk memasuki rangkaian ritual (haji/umrah). Inilah yang dimaksud dengan ‘ihram’. Lalu mereka disyariatkan –seiring dengan niat- untuk melafazhkan (jenis) manasiknya dengan mengatakan: ‘Labbaika ‘umratan’ (untuk umrah-penj) atau ‘Labbaika hajjan’ (untuk haji-penj).” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 17/52)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam al-Syarh al-Mumti’ (7/69):

“…Niat untuk masuk ke dalam (rangkaian ritual) manasik adalah syarat, sehingga ia harus berniat untuk masuk ke dalam rangkaian manasik. Maka jika ia mengucap talbiyah tanpa niat untuk memasuki rangkaian manasik, ia belum dianggap berihram hanya dengan mengucapkan talbiyah. Jika ia memakai pakaian ihram tanpa berniat untuk memasuki (rangkaian manasik), maka saat itu ia belum dianggap berihram (meski) sudah mengenakan pakaian ihram; karena ucapan talbiyah bisa diucapkan oleh yang menunaikan haji dan selainnya, (begitu pula) mengenakan kain sarung dan kain atas dapat dilakukan oleh yang berihram dan tidak.”

Atas dasar ini: maka Anda boleh memakai pakaian berjahit, memakai pakaian yang Anda kehendaki dan menghangatkan badan Anda dari cuaca dingin di atas pakaian ihram Anda, juga melakukan larangan-larangan ihram yang bisa dilakukan orang yang tidak berihram; bahkan meskipun Anda telah mandi, atau memakai pakaian ihram di rumah Anda, selama Anda belum meniatkan masuk dalam rangkaian manasik. Niat tersebut –sebagaimana telah disebutkan- adalah syarat, tidak diwajibkan kecuali saat berada selurus dengan miqat, meskipun boleh (meniatkan) ihram sebelum tiba di miqat, namun itu menyelisihi apa yang utama.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/214768