Hukum Membatalkan Puasa Karena Bermain Bola?

0
91

Pertanyaan:

Apa hukum bagi para pemain bola yang membatalkan puasa pada siang hari di bulan Ramadhan? Hal ini disebabkan puasa memberatkan mereka melaksanakan tugas mereka. Hakikatnya, para pemain yang beragama Islam telah meminta agar pertandingan diakhirkan pada malam hari, akan tetapi otoritas peraturan sekuler menolaknya.

Apa hukum bagi para pemain bola yang membatalkan puasa mereka dalam keadaan bepergian, maksudnya mereka bepergian karena hendak bermain bola di kota lain?

Apa hukum bagi masyarakat yang membatalkan puasa karena bepergian demi menyaksikan pertandingan sepak bola, sementara diketahui bahwa mereka bisa saja menyaksikan pertandingan tersebut melalui stasiun televisi?

Apakah berbeda hukumnya ketika bepergian untuk mengadakan pertandingan di negeri kafir?

Apakah hukum berpengaruh dengan tersingkapnya aurat pemain –sebagian dari pahanya- ?

Apa hukum bepergian untuk melakukan renang di kota yang berpantai sebagai bentuk rekreasi?

Jawaban:

Pertama:

Tidak mengapa melakukan permainan sepak bola, jika hal itu tidak didasari unsur judi, tidak menyibukkan mereka dari perkara-perkara yang wajib, atau menjadikan mereka melakukan perbuatan yang haram seperti menyingkap aurat dan bercampur baurnya laki-laki dan wanita.

Tidak mengapa menyaksikan pertandingan sepak bola jika selamat dari hal-hal yang diharamkan ini.

Kedua:

Tidak boleh membatalkan puasa wajib karena alasan bermain. Sebab membatalkan puasa hanya dibolehkan jika memiliki udzur berupa sakit atau bepergian. Adapun bermain, maka ia tidak masuk dalam kategori udzur. Jika saja para pekerja keras tidak dibolehkan berbuka puasa, maka bagaimana dengan orang-orang yang ingin membatalkan puasa hanya karena ingin bermain?

Ketiga:

Jika seorang pemain bepergian ke kota lain dimana jaraknya mencapai jarak dibolehkannya mengqashar shalat, yaitu sejauh 80 Km, maka membatalkan puasa dalam perkara ini perlu dirinci hukumnya sebagai berikut:

  1. Jika ia bertanding untuk permainan sepak bola yang haram, sebab permainan itu didasari unsur judi, atau harus menyingkap aurat dalam pertandingan, maka bepergian dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai bepergian maksiat. Mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah memandang bahwa seseorang yang bepergian dengan bepergian maksiat tidak mendapatkan rukhshah (keringanan). Oleh karenanya, tidak boleh baginya membatalkan puasa, tidak boleh mengqashar shalat yang berjumlah 4 raka’at, dan tidak boleh ia mengusap khufnya pada saat bepergian tersebut.

Adapun Madzhab Hanafiah dan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa seseorang yang bepergian dengan bepergian maksiat tetap mendapatkan rukhshahsebagaimana yang lainnya. Namun pelakunya harus bertaubat dari maksiat yang dilakukannya.

Disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (33/25):

“Mayoritas ahli fiqih dari kalangan Malikiyah (menurut pendapat yang rajih dalam Madzhab mereka), Syafi’iyah dan Hanabilah mempersyaratkan dalam bepergian yang terjadi perubahan hukum-hukum syariat di dalamnya: Hendaklah seorang musafir tidak bermaksiat dengan bepergian yang dilakukannya, seperti merampok/membegal, nusyuz, durhaka pada orang tua dan bepergian dalam keadaan berhutang padahal ia mampu membayarnya namun pergi tanpa izin dari seorang yang memberikan ia piutang. Karena rukhshah disyaritakan dalam bepergian hanya untuk meringankan dan memudahkan, sedang seorang yang bermaksiat tidak boleh dibantu (dimudahkan). Sehingga seorang yang musafir untuk bermaksiat tidak dapat menjadi sebab mendapatkan rukhshah.

Demikian pula, jika seseorang berpindah dari pelaksanaan bepergiannya, dimana awalnya ia berada dalam kondisi bepergian yang mubah lalu berubah menjadi bepergian untuk maksiat, yaitu dengan melaksanakan bepergian yang mubah lalu meniatkan bepergiannya itu untuk melaksanakan sesuatu yang haram.

Yang dimaksud dengan “bepergian untuk bermaksiat” adalah bahwa alasan yang menjadikan seseorang melakukan bepergian adalah perbuatan maksiat yang ingin dilakukannya, sebagaimana dalam contoh-contoh sebelumnya.

Madzhab Hanbaly juga mengategorikan bepergian untuk tujuan yang makruh termasuk dalam hukum bepergian maksiat. Sehingga, dalam pandangan mereka, seseorang yang melaksanakan bepergian karena sebab yang makruh tidak boleh mendapatkan rukhshah.

Adapun dalam Madzhab Malikiyah, terdapat perbedaan pendapat mengenai rukhshah bagi bepergian yang makruh, diantara mereka ada yang melarangnya dan diantara mereka ada juga yang membolehkannya.

Ibnu Sya’ban berkata:

“Jika seseorang mengqashar shalatnya, maka ia tidak perlu mengulang, sebab hal ini merupakan sesuatu yang diperselisihkan”.

Kemudian, jika seseorang yang bermaksiat bertaubat pada saat bepergian, maka ia mendapatkan rukhshah dari bepergiannya, sebagaimana jika ia bepergian tidak didahului niat maksiat. Sehingga keringanan itu terhitung  saat ia bertaubat.

Sebagian ulama Madzhab Malikiyah membolehkan rukhshah pada bepergian untuk maksiat, namun mereka membencinya.

Madzhab Hanafiyah tidak mempersyaratkan syarat ini, sehingga bagi seorang yang bermaksiat dengan bepergiannya tetap mendapatkan rukhshah terhadap bepergian yang dilakukannya. Hal ini karena seluruh teks yang membolehkan rukhshah bersifat mutlak. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Hal ini juga berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:

فرض الله الصلاة على لسان نبيكم في الحضر أربع ركعات وفي السفر ركعتين

“Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian dengan jumlah 4 raka’at pada saat muqim dan dua raka’at pada saat bepergian…” (HR. Muslim)

Adapun seseorang yang bermaksiat dalam bepergiannya, sementara ia bermaksud melaksanakan bepergian yang mubah, kemudian dalam perjalanannya ia melaksanakan sebuah maksiat, maka mengenai perkara ini para ulama telah bersepakat bahwa ia boleh mengqashar shalatnya dalam bepergian. Sebab ia tidak bermaksud melaksanakan bepergian maksiat. Ia bepergian untuk tujuan mubah, namun setelah itu ia melakukan maksiat tersebut.”

  1. Jika seandainya pertandingan sepak bola yang dilakukannya bersifat mubah, maka boleh baginya membatalkan puasanya pada saat bepergian untuk tujuan tersebut.
  2. Hukum ini juga mencakupi masyarakat awam yang melakukan bepergian. Jika bepergian yang mereka lakukan adalah bepergian yang sifatnya haram, maka hal ini diperselisihkan hukumnya. Namun, jika bepergian yang dilakukan adalah bepergian yang dibolehkan, maka boleh bagi mereka untuk membatalkan puasa karena bepergian tersebut. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara bepergian di negeri kafir atau di negeri kaum muslimin. Namun, jika bepergian yang dilakukannya ke negeri kafir karena alasan maksiat, maka bepergiannya adalah bepergian maksiat dan hukumnya sesuai apa yang telah dijelaskan sebelumnya.

Adapun memperlihatkan paha, maka itu merupakan sesuatu yang haram. Sehingga, perbuatan ini berkonsekuensi mengharamkan permainan tersebut. Oleh karenanya pula bepergian menjadi haram jika permainannya diharamkan seperti ini, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

  1. Boleh melakukan bepergian karena niat melakukan olahraga renang, jika seseorang yakin akan selamat dari perkara-perkara yang mungkar, seperti melihat aurat dan campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Namun, jika seorang musafir tidak dapat selamat dari melihat perkara-perkara yang mungkar itu –karena tidak mampu mengingkarinya- atau ia yang justru terjatuh dalam kemungkaran tersebut, maka tidak boleh baginya pergi ke tempat-tempat tersebut.

 

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://Islamqa.info/ar/275659

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here